TANGERANG - Ratusan warga RW 13 Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Karang Tengah, Tangerang kembali memblokir akses jalan baru yang tengah dikerjakan untuk menuju sekolah Sang Timur. Pemblokiran dan penutupan jalan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB Minggu (20/11), sebagai buntut dari reaksi masyarakat yang menolak dijadikannya gedung serba guna di dalam kompleks sekolah Sang Timur sebagai tempat peribadatan umat Katolik.
Pihak Pemkot Tangerang sendiri mengakui Sang Timur sudah mendapatkan izin prinsip untuk membangun jalan akses menuju sekolah, karena Pemkot berpendapat jika memang untuk pendidikan tidak ada alasan untuk menolak memberikan izin. "Kalau memang untuk pendidikan, tidak ada alasan pemerintah menolak izin, tetapi kalau disalahgunakan untuk peribadatan tentu persoalannya lain lagi," ujar Kabag Informasi dan Komunikasi Kota Tangerang, Chairudin kepada Pembaruan, Senin (21/11).
Penutupan akses jalan menuju Sang Timur sudah terjadi untuk kesekian kalinya. Hal ini juga menyebabkan siswa mengalami kesulitan untuk menuju ke sekolah.
Persoalan ini terus berkepanjangan tanpa adanya solusi. Pihak sekolah sudah mengajukan izin prinsip dan sudah disetujui oleh Pemda, tetapi mungkin karena kurang sosialisasi, warga sekitar tidak mengetahui.
"Mungkin dari Sang Timur kurang sosialisasi dengan warga sekitar sehingga warga berpendapat lain. Kalau memang untuk pendidikan, Pemda mendukung asalkan jangan disalahgunakan," kata Chairudin.
Penolakan warga masyarakat sekitar Sang Timur diwujudkan dalam bentuk penutupan jalan menggunakan seng. Warga juga melakukan penyegelan dan membentangkan spanduk berisi dukungan masyarakat agar jalan itu ditutup.
Warga juga sempat membakar ranting-ranting kayu dan ban serta menggelar aksi tanda tangan penolakan Sang Timur. Aksi unjuk rasa itu, menurut Ketua RW 13, H Laman, sudah sering dilakukan.
Dasar protes warga adalah adanya izin dari Pemerintah Kota Tangerang dalam hal ini Asisten Daerah I bidang Pembangunan yang membolehkan pembangunan jalan tembus itu. "Kata pihak Sang Timur pembuatan jalan itu sudah ada izinnya, tapi masyarakat tidak pernah tahu," kata Laman.
Sementara itu, seorang pekerja yang membangun jalan, Darman mengaku, hanya disuruh oleh mandor untuk mengerjakan proyek itu, tetapi tidak tahu kalau jalan itu akan difungsikan untuk jalan masuk ke Sekolah Sang Timur. Jalan selebar empat meter itu dibangun di tengah kebon kosong.
Saat ini, baru sebatas penataan batu-batu. Sementara akses tembok yang menghubungkan jalan baru itu dengan sekolah Sang Timur belum dibuka. Kata pekerja, tembok menuju Sang Timur baru dibuka kalau jalan sudah selesai dikerjakan.
Aksi unjuk rasa itu Minggu kemarin, dijaga polisi dari Kepolisian Sektor Ciledug. Kapolsek, Ajun Komisaris Polisi UA Triyanto yang ditemui di lokasi menyatakan, mereka hanya memantau saja. "Warga sudah sering unjuk rasa, tapi ini agak besar," kata Triyanto.
Konflik warga dengan Sang Timur sudah terjadi sejak 2004 dan pernah menjadi pemberitaan ramai di media cetak dan televisi. Kasus Sang Timur yang ingin membuka akses jalan masuk ditentang warga.
Kasus ini bahkan sempat menarik perhatian mantan Presiden, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mendatangi Sang Timur. Beberapa kali Sang Timur membuka akses jalan, tetapi selalu ditolak warga sekitarnya.
Lokasi Sang Timur sendiri berada di tengah-tengah sejumlah perumahan. Yayasan Karya Sang Timur selama 12 tahun meminjam akses jalan masuk melalui jalan Perumahan Barata.
Namun, pada sekitar Agustus 2004, pemakaian jalan itu menuai protes warga karena dinilai mengganggu keamanan dan kenyamanan warga dengan banyaknya mobil yang parkir setiap hari. Jalan milik Sang Timur hanyalah jalan setapak yang bisa dilalui kendaraan roda dua.
Padahal, ribuan siswa selain menggunakan kendaraan sepeda motor juga mobil sehingga Sang Timur membuka Jl Merbabu melalui kompleks Depkeu. Jalan ini juga diprotes warga dan ditutup. Alasan warga menolak karena selain untuk sekolah, tempat itu juga digunakan untuk ibadah bagi umat Katolik Paroki Santa Bernadeth. (132)