JAKARTA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Administrasi Kepulauan Seribu, akan kembali memfungsikan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pulau Pramuka, pada akhir November 2005.
"Kami sudah menyiapkan sejumlah sarana pendukung untuk mengaktifkan TPI Pulau Pramuka. Selain melakukan renovasi untuk pelabuhan dan sarana lainnya, kami juga menyiapkan supali bahan bakar minyak dan depot es batu untuk pengawetan ikan sementara," kata Bupati Kepulauan Seribu, Djoko Ramadhan Tjakrawardaya, di sela-sela acara Wisata Mancing di Pulau Harapan, akhir pekan lalu.
Menurut dia, difungsikannya kembali TPI Pulau Pramuka dimaksudkan untuk memfasilitasi para nelayan yang kesulitan menjual hasil tangkapan. Pasalnya, TPI yang dibangun di pulau pemerintahan di Kepulauan Seribu itu, tak memiliki fasilitas memadai.
Selain tidak memiliki pabrik es untuk pengawetan ikan, lanjut Djoko, nelayan juga kesulitan memperoleh BBM yang menjadi bahan bakar untuk mengoperasikan kapal penangkap ikan. Peralatan untuk menangkap ikan juga tidak tersedia.
Hal itu, membuat nelayan Kepulauan Seribu lebih memilih menjual hasil tangkapan ke TPI Muara Angke, Jakarta Utara. Namun hasil yang diperoleh ternyata tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk membeli BBM dan operasional kapal penangkap ikan.
"Makanya, kami harapkan dengan berfungsinya kembali TPI Pulau Pramuka, nelayan di Kepulauan Seribu, khususnya dari wilayah utara tidak perlu jauh-jauh menjual hasil tangkapan mereka," ujar Djoko.
Untuk mengatasi kesulitan nelayan, Pemkab Kepulauan Seribu berupaya menyediakan fasilitas yang dibutuhkan. Saat ini, sudah ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pulau Pramuka dan Depot Es untuk pengawetan ikan. Kapal untuk mengangkut es dan ikan juga sudah disiapkan.
"Untuk sementara, kami memang masih mendatangkan es dari Jakarta lalu ditampung di Depot. Tapi, kami juga sedang membangun pabrik es di Pulau Kelapa yang diharapkan selesai akhir tahun ini," kata Djoko.
Dia mengungkapkan, TPI Pulau Pramuka memiliki kapasitas untuk menampung 10 ton ikan per hari. Jika nanti TPI berfungsi efektif, jumlah perputaran uang diperkirakan mencapai Rp 50 juta sampai Rp 100 juta per hari.
"Finishing"
Sementara itu, Kepala Bagian Administrasi Kesejahteraan Masyarakat, Blessmiyanda mengatakan, renovasi TPI Pulau Pramuka sudah mencapai tahap finishing (penyelesaian).
"Pengerukan untuk kolam labuh sudah selesai, begitu juga untuk pembangunan dermaga. Tinggal finishing untuk beberapa saran, jadi mudah-mudahan TPI Pulau Pramuka siap difungsikan sesuai rencana," ujar Blessmiyanda, kepada Pembaruan, Senin (21/11)
Menurut dia, total anggaran untuk renovasi TPI Pulau Pramuka mencapai Rp 1,2 miliar. Sekitar Rp 700 juta digunakan untuk pembangunan dermaga TPI, Rp 200 juta untuk pengerukan kolam labuh, dan Rp 300 juta untuk docking kapal.
Blessmiyanda mengungkapkan, untuk mendukung pengoperasian TPI, pihaknya akan mengadakan pertemuan dengan para nelayan, pembeli ikan, dan penjual BBM. Pertemuan itu, dimaksudkan untuk membicarakan kendala-kendala yang dihadapi nelayan juga sinergi antarpihak terkait.
"Nelayan mengeluhkan mereka tidak bisa sering melaut karena tidak sanggup membeli BBM. Soalnya, harga BBM di lapangan Rp 6.000 per liter. Padahal dari Pertamina harganya ditetapkan Rp 4.300 per liter," ujar Blessmiyanda.
Dia mengungkapkan, nelayan meminta kepastian dan dukungan Pemkab Kepulauan Seribu untuk memfasilitasi mereka dalam hal kebutuhan BBM dan es untuk pengawetan ikan. Hal itu, sudah diupayakan, namun Pemkab mengalami kesulitan untuk menjamin kepastian suplai BBM.
"Kami minta perhatian pemerintah pusat supaya ada kebijakan tersendiri untuk harga jual BBM kepada para nelayan. Kalau sekarang kan, disamakan dengan industri," kata Blessmiyanda.
Dia menilai, jika masalah BBM bagi nelayan tidak teratasi, TPI Pulau Pramuka tidak akan beroperasi secara efektif. Pasalnya, nelayan selaku ujung tombak tidak bisa menangkap ikan dan menjualnya ke TPI.
Sebelum kenaikan BBM, lanjut Blessmiyanda, produksi ikan dari seluruh nelayan Kepulauan Seribu mencapai 20 ton per tiga hari. Namun dengan naiknya BBM, nelayan yang melaut semakin berkurang, sehingga hasil tangkapan juga menurun menjadi sekitar lima kwintal per tiga hari. (J-9)