SUARA PEMBARUAN DAILY

Polisi Belum Periksa Taruna Senior STPI

Foto Taruna yang Kabur Disebar

TANGERANG - Kepolisian sektor Legok, Tangerang hingga kini belum memeriksa taruna senior Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI), yang diduga telah memukul dan menyiksa juniornya. Padahal, pihak sekolah sudah melaporkan kejadian ini ke polisi. Akibat pemukulan dan penyiksaan ini tiga taruna kabur dari lembaga pendidikan tersebut.

"Kita menunggu tiga taruna itu kembali karena merekalah yang bisa menunjukkan penyiksaan model apa yang dialami," ujar Kapolsek Legok AKP AL Tobing kepada Pembaruan Senin (21/11) pagi.

Menurut AKP Tobing, jika ketiga taruna yang kabur sudah ditemukan, maka mereka akan diminta untuk melakukan visum dan laporan pengaduan. Baru setelah itu pihak kepolisian akan mengusut kasus ini. Sebab, jika pengaduan hanya dari pihak keluarga, belum mempunyai kekuatan hukum. Sebab, tidak diketahui apa yang akan menjadi dasar pemeriksaan.

Dikatakan, pihaknya kini masih berusaha melakukan pencarian berdasarkan permintaan dari STPI. Salah satu caranya dengan melakukan penyebaran foto para taruna yang kabur itu.

"Kita segera sebarkan foto ketiga taruna itu secepatnya," kata Kapolsek.

Visum

Dia juga berharap masyarakat yang mengetahui keberadaan ketiga taruna jurusan teknik navigasi udara STPI segera memberitahukan kepada Polsek Legok. "Penjelasan ketiga taruna itu sangat penting untuk membuka kasus ini ke permukaan. Karena, jika taruna itu ditemukan dan melaporkan ke Polsek Legok, nantinya akan terbukti apakah ketiga taruna itu benar mendapat penyiksaan atau tidak," katanya.

Jika hasil visum membuktikan ketiga taruna itu terdapat luka bekas penyiksaan, maka pihaknya akan masuk ke sekolah penerbang itu guna memeriksa pihak-pihak yang terkait penyiksaan terhadap ketiga taruna tersebut. "Kita tidak ingin kasus Jatinangor terulang," katanya. Pemeriksaan terhadap STPI, kata Tobing, akan lebih kuat ketimbang hanya menerima laporan lisan dari pihak keluarga ketiga taruna tersebut.

Seperti diberitakan Pembaruan, tiga taruna STPI, M Miftahudin bin Abdul Rosyid, Dedi bin Arifin, dan Nurcholis bin Oendara Fatoni yang merupakan taruna semester awal STPI kabur dari asrama pendidikan karena tidak tahan dengan siksaan para seniornya.

Sebelum kabur salah satu dari mereka mengirimkan surat ke orang tuanya yang berisikan mereka tidak tahan lagi berada di sekolah itu karena tidak tahan mendapat siksaan setiap malam dari para seniornya. Pengelola STPI pun berang dengan adanya kasus ini. Prawoto, Pembantu Ketua III STPI mengatakan, akan memecat siapa pun taruna penerbangan yang melakukan pemukulan terhadap yuniornya.

"Pasti akan di pecat," katanya. Hanya saja, pihak sekolah belum mengetahui siapa yang melakukan pemukulan tersebut. (132)


Last modified: 21/11/05