SUARA PEMBARUAN DAILY

Sektor Keuangan Akan Tumbuh Lebih Baik

JAKARTA - Sektor keuangan, khususnya perbankan dan industri reksa, diprediksi akan tumbuh lebih baik pada tahun mendatang. Pertumbuhan dicapai setelah pada 2005 sektor keuangan berada pada tahap konsolidasi dan penyesuaian, akibat laju inflasi yang cukup tinggi karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan tekanan suku bunga.

Demikian kesimpulan pendapat Direktur Operasional PT Bank Negara Indonesia Tbk Ignatius Supomo dan Presiden Direktur Kresna Graha Sekurindo Tbk Michael Steven secara terpisah, di Jakarta, Sabtu (12/11).

Supomo menjelaskan, secara umum perbankan pada tahun ini melakukan berbagai penyesuaian, seperti revisi beberapa target penyaluran kredit akibat kondisi ekonomi makro yang tidak terlalu kondusif.

Kondisi itu, di antaranya ancaman inflasi yang cukup tinggi disertai kecenderungan naiknya suku bunga sehingga cukup memberatkan sektor riil. Akibatnya, daya serap sektor riil menurun karena suku bunga yang relatif naik.

Sebaliknya, tuturnya, perbankan lebih hati-hati menyalurkan kredit karena khawatir rasio kredit bermasalah meningkat akibat dari besarnya tambahan biaya yang harus ditanggung oleh sektor riil, seperti kenaikan biaya produksi terkait dengan kenaikan harga BBM.

'''Tahun ini bank-bank melakukan adjustment (penyesuaian), sehingga tahun depan sudah tumbuh kembali dibandingkan tahun 2005. Inflasi dan tekanan suku bunga, kita perkirakan sifatnya seasonal (sementara),'' tuturnya. Dia memperkirakan, inflasi November 2005 kembali turun sehingga bisa diikuti dengan penyesuaian suku bunga.

Dengan demikian akan memberikan ruang yang longgar kepada sektor riil untuk dapat merealisasikan kreditnya.

Inflasi Berkurang

Steven juga berpendapat, tekanan inflasi ini hanya berlangsung satu bulan, yakni pada Oktober lalu. Hal itu sangat terkait dengan kebijakan menaikkan harga BBM oleh pemerintah.

Dengan selesainya tekanan tersebut, ke depan tidak akan ada lagi tekanan-tekanan yang dikhawatirkan karena sudah diperhitungkan untuk tahun ini.

''Sebenarnya, kita melihat outlook (proyeksi ke depan) itu akan lebih baik. Kita melihat laju inflasi 17,9 persen itu hanya terjadi bulan lalu. Bulan ini sudah lewat, sekarang kita bicara ekspektasi inflasi ke depan," katanya.

Menurut dia, ancaman inflasi sudah tidak ada karena harga BBM sudah dinaikkan hampir sama dengan harga pasar, sehingga tidak ada kekhawatiran beban subsidi yang berlebihan.

Apalagi, harga minyak di pasar internasional cenderung menurun sehingga tekanannya juga berkurang.

''Jadi inflasi ke depan bisa di bawah 10 persen atau single digit. Kalau kita mengamati analis-analis asing, tahun depan mereka optimistis inflasi single digit, sehingga investasi di Indonesia akan menarik lagi,'' jelas- nya.

Dia berharap pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan sesuatu, misalnya mendorong dan membangun pasar obligasi agar semua pihak optimistis dengan perekonomian Indonesia.

Menanggapi prospek reksa dana ke depan, dia mengatakan, menjadi masalah saat ini karena nasabah berhenti berinvestasi sehingga tidak ada dana segar yang masuk.

Seandainya nasabah terus berinvestasi maka yang terjadi adalah penyesuaian sehingga tidak ada masalah.

''Kalau dana tetap masuk, kita bisa membeli obligasi dengan harga murah tetapi yield-nya (imbal hasil) lebih tinggi, ataupun beli obligasi baru dengan yield yang tinggi,'' ujar Steven.

Persoalan utama, lanjutnya, bagaimana meyakinkan kembali investor untuk berinvestasi di reksa dana. Sebab, jika diamati saat ini masih ada obligasi yang yield-nya 17 hingga 18 persen. (B-15)


Last modified: 12/11/05