PALU - Kepolisian akan merekrut warga sipil menjadi polisi-polisi desa yang akan membantu aparat keamanan untuk mengamankan wilayah Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) dari berbagai tindak kekerasan dan aksi-aksi terorisme.
Sejalan dengan itu, aparat keamanan dalam tugas pemulihan keamanan Poso ke depan tidak lagi menonjolkan pakaian seragam kepolisiannya yang seringkali ditakuti masayrakat.
Kalau dulu polisi pakai sepatu lars yang huknya tinggi dan menakutkan, sekarang tidak lagi. Sekarang polisi akan lebih menggunakan pakaian seragam harian yang "bersahabat" dengan masyarakat. Pola ini dilakukan untuk tujuan agar masyarakat bisa dan mau lebih dekat dengan polisi. Sekaligus masyarakat menaruh kepercayaan yang lebih tinggi pada polisi. Dengan begitu, police community dapat terjalin secara sinergis dan komunikatif dengan masyarakat Poso.
Hal tersebut dikatakan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulteng, Kombes Pol Oegroseno sebagai salah satu konsep yang sedang dipersiapkan untuk pola baru dalam strategi pemulihan keamanan Poso.
"Konsep ini sedang kita susun, dan diharapkan akhir November ini sudah selesai sehingga bisa segera diterapkan di Poso," katanya kepada wartawan, di Palu, Sulteng, Jumat (11/11).
Dikatakan, pola operasi pemulihan keamanan Poso yang sekarang bersandi Sintuwu Maroso, akan diganti dengan pola baru yang lebih strategis, terpadu dan mengakar dengan masyarakat. Pola baru itu katanya, sesuai pula dengan Inpres No. 14/2005 tentang Langkah-langkah Komprehensif Penanganan Masalah Poso yang saat ini sedang dalam tahap sosialisasi di tingkat departemen terkait.
Dikatakan, operasi Sinturu Maroso sudah cukup berhasil terutama dari aspek sosialisasi kesadaran masyarakat agar tidak lagi mau terprovokasi dan melakukan tindak kerusuhan yang menimbulkan kerugian. Namun dari segi pemulihan keamanan, diakuinya belum memberikan hasil signifikan, terbukti aksi dan tindak kekerasan masih saja terus terjadi di Poso dan menimbulkan banyak korban
Kapolda Oegroseno mengusulkan sandi operasi Sintuwu Maroso digantikan namanya dengan sandi operasi Mutiara Manjili. Sandi operasi ini terinspirasi dari kata mutiara yang mengandung simbol keindahan, kesejukan dan perdamaian. Sedangkan manjili, diadopasi dari bahasa Kaili, suku asli Palu yang artinya kembali. Jadi Mutiara Manjli artnya Mutiara Kembali.
"Dulu, Poso itu identik dengan keindahan, dan perdamaian. Sekarang kita ingin mengembalikan perdamaian dan keindahan yang hilang itu," ujar Oegroseno.
Dalam operasi ini, katanya, pelibatan aparat tidak berbeda jauh dengan pola operasi Sintuwu Maroso yaitu mengerahkan sekitar 3.500 personil TNI/Polri atau setara dengan 3 satuan setingkat batalyon (SSB).
"Hanya saja pola pendekatannya yang berbeda. Kalau dalam operasi Sintuwu Maroso, polisi pakai sepatu lars yang bikin takut masyarakat. Tetapi sekarang polisi hanya pakaian seragam Samapta dengan sepatu biasa. Pola ini kita buat agar warga benar-benar mau dekat dengan polisi, dan percaya pada profesionalitas kepolisian dalam mengamankan Poso," tandas Kapolda. (128)