Langkah ini Diterapkan agar Teroris Tidak Masuk ke Wilayah DIY
YOGYAKARTA - Menyusul penggerebekan buron teroris di Malang Jawa Timur (Jatim) dan Semarang, Jawa Tengah (Jateng) jajaran kepolisian di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan penjagaan ketat dan meningkatkan operasi keamanan di wilayah perbatasan. Operasi berlangsung di tempat-tempat tertentu dijadikan persembunyian anggota jaringan teroris Dr Azahari-Noordin M Top.
Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) DIY Brigjen Pol Drs Bambang Aris Sampoerno Djati SH Jumat (11/11) menyampaikan begitu mendengar adanya penangkapan terhadap Dr Azahari dan kelompoknya di Batu, Malang, pihaknya melakukan langkah-langkah antisipasi untuk menangkal masuknya teroris ke wilayah DIY.
"Wilayah DIY merupakan perlintasan antara Jatim dan Jateng, maka intensitas operasi keamanan ditingkatkan dengan sasaran senjata tajam, senjata api, dan bahan peledak," jelasnya.
Kapolda menjelaskan sejak Kamis (10/11) , petugas sudah melakukan pengawasan ekstra ketat pada kendaraan angkutan umum maupun pribadi yang melintasi wilayah perbatasan. Dia mengharapkan, masyarakat menyadari arti pentingnya sikap tersebut, terkait dengan kelihaian para teroris terutama menyembunyikan diri.
"Langkah ini diterapkan agar teroris tidak masuk ke wilayah DIY dengan cara menumpang angkutan umum maupun mobil pribadi," tandasnya. Dikatakan, Polda DIY juga telah memberi instruksi kepada Kapoltabes hingga ke tingkat Kapolres agar melakukan operasi keamanan di wilayah masing-masing, termasuk menyisir wilayah-wilayah rawan, kos-kosan mahasiswa dan rumah-rumah yang dikontrakkan, termasuk pemilik kendaraan bernomor polisi luar daerah.
"Kemungkinan besar, modus persembunyian mereka masih sama, dengan menyusup dan berkedok sebagai mahasiswa untuk menghilangkan kecurigaan masyarakat. Ini sebenarnya juga dibutuhkan keterlibatan aktif masyarakat untuk mengawasi lingkungan masing-masing," tegasnya.
Karena itu menurut Kapolda, pengurus rukun tetangga /rukun wilayah (RT/ RW) harus menanyakan dan berani meminta identitas orang- orang yang mengontrak rumah di wilayahnya, secara detail. Kapolda juga mengatakan, pengurus pedukuhan jangan cepat percaya. "Kalau memang mahasiswa, tentunya punya kartu mahasiswa dan identitas dari tempat asalnya. Saya minta semua menjalankan ini," katanya.
Sementara itu di berbagai objek wisata di Yogyakarta, kegiatan pengamanan ekstra ketat terutama tempat-tempat keramaian umum termasuk penginapan dan pusat perbelanjaan. Bahkan di areal situs candi-candi di Yogyakarta, pengunjung diwajibkan melewati pintu pemeriksaan yangdilengkapi dengan alat metal detector. (SKA/W-8)