SUARA PEMBARUAN DAILY

Tiga Wanita Tipu 760 Warga melalui Paket Lebaran Murah

GARA-GARA ulah oknum yang mengaku peduli dengan orang susah, sebanyak 760 warga Depok dari beberapa kelurahan kena tipu. Sebuah gereja di sekitarnya, yang tak tahu-menahu soal penipuan itu, ikut kena getahnya. Akumulasi kerugian warga diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.

Aksi penipuan itu terungkap seusai Lebaran. Mike, Mami, dan temannya Guni, memang lihai sekali memanfaatkan situasi. Saat warga kesusahan, dengan cara licik mereka berhasil memperdaya 350 orang warga di Kelurahan Krukut, 260 warga Kelurahan Grogol, dan 150 warga Kelurahan Limo, semuanya di Kecamatan Limo, Depok.

Kasihan. Warga yang sudah susah gara-gara harga naik, ditimpa lagi dengan kesusahan baru melalui kasus penipuan paket murah.

Dengan memasang mimik seolah-olah bersimpati kepada warga, otak penipuan, Mike, menjual kupon paket Lebaran yang harganya bervariasi antara Rp 21.000 sampai Rp 50.000/paket. Kata mereka, isi paket itu terdiri dari sembako, kue kering, daging, dan beras dengan nilai jauh lebih besar dari harga kupon.

Kupon murah diedarkan pada saat Ramadan. Janjinya, paket akan diberikan tanggal 2 November, sehari sebelum Lebaran.

Warga sangat responsif atas iming-iming itu, apalagi nama yayasan yang digunakan oleh Mike dkk, berbau sosial, "Yayasan Sumber Kasih", yang seolah-olah bagian dari sebuah gereja di Cinere.

Dengan mengatasnamakan yayasan tersebut, pelaku beralasan terdorong membantu warga yang kurang mampu. Selain itu, beberapa warga di Limo mengenal salah satu dari ketiga oknum penipu itu, yang hingga hari ini masih dicari oleh polisi Depok.

Tergiur

Ratusan warga itu tentu sekali sangat berharap memperoleh kebutuhan Lebaran dengan harga yang sangat murah. Namun, tunggu punya tunggu, jangankan paket murah, batang hidung Mike dkk pun sama sekali tak tampak.

Menurut Ika (30), salah satu korban yang tinggal RT 02/05, Kelurahan Krukut, kejadian berawal dari kedatangan tiga orang wanita paruh baya, yakni Mike, Mami, dan Guni ke rumahnya. Mereka menawarkan kupon paket Lebaran murah.

Ika menyebarkan "kabar baik" itu kepada warga lain. Tanpa mengkritisi lebih lanjut kapasitas orang-orang tersebut, banyak warga yang tertarik.

Yang berminat pun diberi kupon setelah menyerahkan sejumlah uang bervariasi antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000. Karena tergiur, Ika sendiri mengaku rela menjadi koordinator pengumpulan dana, pasalnya kedua orang itu ditemani Guni, yang notabane warga Kampung Sasak, Krukut, yang dia kenal.

Malah, Mike dan Mami sempat mengontrak rumahnya sampai tanggal 10 Oktober lalu. "Ada sekitar 350 warga di RW 05 yang pesan paket dan sudah menyerahkan uang total Rp 5,5 juta. Namun, paket Lebaran itu tak kunjung tiba," papar Ika di Polsek Limo, ketika melaporkan kasus penipuan itu.

Mulyati, korban lainnya dari Kelurahan Krukut juga mengaku ikut mengoordinasikan warga yang memesan paket tersebut. Sedangkan Abdul Yasin, warga RT 03/05 Grogol mengatakan, isterinya pun ikut jadi korban penipuan karena tergiur kupon itu.

Dewi (35), Ika (30), dan Marsih (34) yang melapor ke polisi, menyerahkan kupon paket sembako Lebaran itu ke Mapolsek Limo di Krukut yang diterima oleh Iptu Yunus. Mereka didampingi ketua RT 03 RW 05 Krukut, Dahlan.

Aparat Bimas Polsek Limo di Kelurahan Grogol, Iptu Hasanudin mengatakan, dari laporan warga Grogol diketahui, sedikitnya 260 warga di wilayahnya yang tertipu.

Aparat Bimas Polsek Limo yang ditugaskan di Kelurahan Limo, Ipda Karta Wijaya mengungkapkan, sedikitnya ada 150 warga Kelurahan Limo yang jadi korban aksi penipuan Mike dkk. "Paling banyak warga Jl Pelita dan Kampung Lebong, mencapai 150 orang. Kerugiannya mencapai jutaan rupiah," kata Karta.

Pernah Ditahan

Terakhir diperoleh kabar, Mike adalah warga Limo. Suaminya, Haris Idrus tinggal di Kampung Sasak, Limo.

Namun, suaminya tidak mengetahui keberadaan isterinya. Bahkan, dia menyerahkan segala urusan yang bersangkutan kepada polisi.

Menurut Ipda Karta Wijaya, Mike pernah ditahan beberapa bulan, dua tahun yang lalu, karena terbukti menipu majikannya.

Buntut dari kasus itu, Polsek Limo mendatangi salah satu gereja yang ada di Limo, yaitu GKI Cinere guna mengklarifikasi. Kontan saja pihak gereja yang didatangi polisi, kaget. "Kami diminta datang membuat BAP hari Kamis (10/11) ke Polsek Limo. Kami sudah menjelaskan kepada yang berwenang bahwa gereja kami tidak ada sangkut pautnya dengan oknum pengedar kupon Lebaran murah. Tak ada nama Yayasan Sumber Kasih di sini," tegas JP Saragih, Ketua Majelis Jemaat GKI Cinere, kepada Pembaruan, Jumat (11/11) malam.

Dia menjelaskan, kalaupun GKI Cinere mengadakan pasar murah kepada warga sekitarnya, selalu melalui berkoordinasi dengan Ketua RT setempat. "Karena Pak RT-lah yang paling tahu kebutuhan warga," katanya.

Saragih tak ingin kasus itu terlalu dibesar-besarkan pers, apalagi dikaitkan dengan hal-hal yang tidak proporsional. "Itu kriminal murni," katanya lagi.

Apa yang dikatakan Saragih senada dengan yang dikatakan Kaplores Depok, AKBP Firman Shantyabudi kepada wartawan, Kamis lalu. Apa yang terjadi di Limo itu, murni penipuan, karena banyak pelapor yang menderita kerugian sejumlah uang.

Kapolres menegaskan, banyak pelapor yang masih diselidiki. Polisi juga ingin tau, apakah korbannya memang banyak, atau hanya beberapa korban namun membeli paket sembako atau kupon dalam partai besar.

Kapolres tidak melihat penipuan itu sebagai upaya atau skenario untuk mendiskreditkan agama tertentu. Sebab, berdasarkan fakta di lapangan banyak warga yang mengalami penipuan.

"Secara prosedural, kami harus memeriksa sejumlah nama, pihak, atau instansi yang namanya dicatut dalam penipuan itu," tandasnya.

Firman menambahkan, agar tak terjadi ketersinggungan terhadap satu kelompok, dalam waktu dekat Kapolres juga berencana mengundang tokoh agama, khususnya Nasrani, untuk membicarakan masalah tersebut. Selama dia bertugas di Depok, modus penipuan seperti itu baru sekali terjadi, tapi dikatakan, sudah umum di wilayah lain.

Kepada masyarakat, dia mengimbau agar tak mudah percaya dengan iming-iming kupon yang memberikan paket sembako dengan harga murah, jika tidak ingin menjadi korban penipuan. "Hati-hati dan waspada, itu kuncinya," ujar Kapolres.

Sedangkan Kapolsek Limo, AKP Ade Rahmad Idnal mengatakan, masih memeriksa sejumlah pelapor. Isu SARA juga sempat dikhawatirkannya dalam melakukan pemeriksaan. "Kami harus hati-hati menangani kasus ini, khawatir menyinggung SARA," tandasnya.

Pembaruan/Rina Ginting


Last modified: 12/11/05