SUARA PEMBARUAN DAILY

Weah Minta Pendukungnya Jaga Perdamaian

AP/George Osodi

PENDUKUNG WEAH - Pendukung kandidat presiden Liberia dari Partai Perubahan Demokrasi, George Weah yang juga mantan bintang sepak bola berorasi di jalan kota Monrovia, Liberia, Jumat (11/11).

MONROVIA - Pasukan PBB menembakkan gas air mata dan menggunakan tongkat untuk menyerang balik aksi pendukung calon presiden Liberia George Weah yang melempari mereka dengan batu. Aksi itu terjadi setelah mantan bintang sepakbola dunia ini menuding rivalnya Ellen Johnson-Sirleaf, ekonom lulusan Harvard, melakukan kecurangan dalam pemilu putaran kedua.

Ratusan pendukung Weah yang berkumpul di depan kantor pusat partai Kongres bagi Perubahan Demokratik (CDC), meluapkan ketidakpuasannya dengan meneriakkan, "Weah tidak terpilih, tidak ada perdamaian". Banyak mantan pejuang Liberia dari seluruh faksi, yang berjumlah 100 ribu, mendukung Weah dalam pemilu ini.

Namun pada hari Jumat (11/11) siang, Weah menyerukan kepada sekitar 1.500 pendukungnya agar mereka menjaga perdamaian dan ketertiban. "Tidak ada Weah, Tetap Ada Perdamaian," teriaknya untuk meredakan situasi.

"Anda harus tetap bangga karena Anda tidak kalah dalam pemilu. Anda harus mempercayai saya. Jangan, jangan atas nama damai, pergi ke jalanan dan melakukan kerusuhan. Jangan membuat rakyat ketakutan. Kita tidak mengingini lagi perang ... Kita tidak perlu tergesa-gesa dan kita harus tetap menjaga perdamaian," ujar Weah yang mengenakan setelan hitam.

Sebelumnya, tim sukses Weah telah secara resmi mengajukan petisi ke Mahkamah Agung agar menghentikan penghitungan suara, namun permintaan itu ditolak dan MA menyerahkan masalah tersebut Komisi Pemilihan Umum Nasional (National Elections Commission/NEC).

Sejauh ini dari 97 persen suara yang sudah dihitung, NEC menyatakan bahwa Ellen Johnson-Sirleaf unggul dengan 59,4 persen atas Weah yang mengantongi 40,6 persen suara. Jika hasil ini resmi dikukuhkan maka, Ellen akan menjadi wanita pertama yang terpilih menjadi presiden di Afrika.

"Saya sangat senang bahwa rakyat Liberia memberikan suara dan memilih saya untuk memimpin pembangunan kembali dan rekonsiliasi di negara kami. Saya merasa terharu dengan berbagai tantangan yang telah menanti di depan," kata Ellen kepada BBC.

"Saya berharap Weah akan bergabung dengan pemerintahan baru, setelah dia melepaskan diri dari kekecewaannya," lanjutnya seraya menambahkan bahwa pihaknya akan menawarkan tempat bagi Weah dalam pemerintahan, kemungkinan sebagai Menteri Pemuda dan Olah Raga.

Menurut Ellen, prioritas utamanya sebagai presiden wanita pertama Afrika adalah untuk memastikan persamaan hak kepemilikan tanah, pinjaman, dan keadilan. (AP/M-12)


Last modified: 12/11/05