TIDAK banyak yang diketahui orang tentang latar belakang teroris yang paling dicari di Asia, Dr Azahari bin Husin yang tewas dalam aksi tembak-menembak dengan polisi Indonesia di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu (9/11).
Seorang sahabatnya, Jamian Adnan (45 tahun) mengungkapkan, Azahari yang mantan dosen di Universitas Teknologi Malaysia (UTM) ini adalah seorang pria berpembawaan kalem. Ia gemar olahraga ekstrem seperti motocross dan panjat gunung.
"Kami kerap keluar bersama di malam hari untuk minum teh tarik di dekat tempat tinggal kami. Di tempat itu kami membicarakan beragam topik," ujar Jamian dalam wawancara khusus dengan Bernama, Kamis (10/11).
Jamian tidak menyangka sahabatnya bisa masuk ke dunia terorisme mengingat pada karakter aslinya yang kalem. Mereka tinggal berdekatan di kompleks perumahan Kangkar Pulai, Johor. Jamian menjadi tetangga pakar bom kelompok Jemaah Islamiyah (JI) tersebut selama 10 tahun. Ia sering melihat Azahari menggosok mobilnya hingga mengkilat.
Di tempat itu Azahari tinggal bersama keluarganya dan menjalani karier sebagai dosen di UTM, Skudai
Karena keturunan Jawa, Jamian dipanggil Wak oleh Azahari. Jamian, ayah delapan anak yang bekerja di perpustakaan universitas juga mengungkapkan bahwa Azahari tertarik soal pertamanan dan sering meminjam buku tentang itu di perpustakaan. "Dia meluangkan banyak waktu untuk menanam pohon dan mempercantik rumahnya," katanya.
Selama berteman, Azahari tidak memperlihatkan bahwa dia mempunyai pandangan agama yang ekstrem.
"Kami tidak pernah berbicara soal senjata, bom, atau pengalaman militer. Dan dia juga tidak pernah menunjukkan kebencian terhadap Amerika Serikat atau negara lainnya," ungkap Jamian. Dari perbincangan-perbincangan mereka itu, dia merasa Azahari bukanlah pribadi yang sangat religius
Perubahan terjadi sejak akhir tahun 1990-an ketika Azahari mulai mengorganisir pertemuan-pertemuan keagamaan di rumahnya bersama beberapa teman, paling tidak dua kali seminggu.
Menurut Jamian, pertemuan-pertemuan itu awalnya dihadiri oleh sekitar 20 orang dan kemudian berkembang menjadi apa yang disebut sebagai Tahrim. Pada titik ini Azahari menjadi makin keras dalam pembicaraannya tentang hal-hal menyangkut agama seperti jihad.
"Dia (Azahari) berulangkali meminta saya bergabung dengan kelompoknya namun saya selalu menolaknya, dan setelah mencoba beberapa kali dan gagal, Azahari berhenti mengajak saya," katanya.
Setelah usai pertemuan keagamaan, biasanya Azahari dan teman-temannya akan melanjutkan pembicaraan soal agama dari rumah ke rumah. Di antara mereka yang hadir dalam pertemuan keagamaan di rumah Azahari adalah
Mukhlas, Ali Ghufron, dan Imam Samudra yang terlibat pengeboman Bali tahun 2002, serta Noordin Mohamed Top (gembong teroris warga Malaysia lainnya)
"Pada saat itu saya tidak tahu aktivitas mereka dan saya sering bercanda dengan Mukhlas dan Ali Ghufron ketika mereka datang ke rumah Azahari," ungkap Jamian.
Ia mengingat tahun 2001 tetangganya ini pernah menghilang sekitar setahun. Ketika ditanya, Azahari mengatakan bahwa dia mempunyai pekerjaan yang harus dilakukan di Indonesia.
Selama kepergiannya, Azahari beberapa kali mengirim surat kepada Jamian. Terutama meminta dia membayar tagihan-tagihan dan membersihkan rumahnya. Jamian juga mengungkapkan bahwa Azahari pernah meminta dirinya untuk mengajari dialek bahasa Jawa dan bagaimana cara mengucapkan kata-kata tertentu, tetapi dia tidak tahu mengapa Azahari ingin mempelajari dialek tersebut. (M-12)