JAKARTA - Pemerintah akan menawarkan Surat Utang Negara (SUN) untuk investor ritel pada 2006. Tujuannya, disamping memperluas basis investor SUN karena mampu menjaring investor menengah dan kecil, juga memungkinkan untuk memobilisasi dana yang dapat digunakan dalam APBN.
Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan, Mulia P Nasution, di Jakarta, Jumat (11/11). Mekanisme pembelian ritel akan diperluas tidak hanya di Jakarta sehingga akan menambah basis investor SUN. "Kita sekarang sedang mengerjakannya dengan BES (Bursa Efek Surabaya) karena jaringan informasi kita dulu dibangun dengan BES," ujarnya.
Obligasi ritel, sambungnya, untuk menjaring investor menengah dan kecil. Saat ini, masih ada potensi investor yang belum terserap karena melihat SUN bukan alternatif investasi yang menarik disebabkan akses bagi investor itu belum praktis.
Tidak mudah bagi investor untuk membeli surat utang misalnya dengan nominal Rp 10 juta atau Rp 50 juta belum tersedia. Bila SUN ritel diperdagangkan dan nominalnya dapat dipecah-pecah akan mudah bagi investor untuk membeli obligasi tersebut sebagai bentuk investasi karena bunga SUN lebih tinggi dibandingkan dengan bunga deposito, katanya.
Dikatakan, ada kecenderungan investor akan membeli dengan jangka waktu lebih pendek. Rencana tersebut, tidak menambah stok utang hingga 2009 karena di satu sisi menerbitkan SUN namun di sisi lain pemerintah mengelola utang dengan cara membeli kembali atau menukar dengan SUN yang jatuh tempo lebih lama, sehingga jumlah keseluruhan stok utang pemerintah ke depan dapat berkurang.
Dampak kenaikan suku bunga moneter (BI Rate) sebesar 12,25 persen juga membebani obligasi. Sehingga diharapkan kenaikan suku bunga itu hanya bersifat sementara dan bila kondisi sudah stabil, diharapkan ada penurunan tingkat suku bunga. Namun, untuk pengelolaan utang ke depan pemerintah mengusahakan kemandirian dalam arti sumber-sumber pembiayaan akan lebih besar dari dalam negeri termasuk melalui penerbitan SUN, katanya. (L-10)