Oleh Timur Citra Sari
SETIAP tahun selalu terjadi. Para pemudik yang menyemut, baik di stasiun-stasiun kereta api, atau terminal-terminal bus antar kota, atau tempat-tempat penyeberangan antar pulau, atau juga berbagai bandara di tanah air (jangan lupakan juga tren mudik tahun ini: mudik dengan sepeda motor!). Dan, koper-koper dari berbagai ukuran serta warna, juga sejumlah tas plastik besar-kecil, serta dus-dus mi instant yang telah diikat rapi, menjadi perlengkapan yang tidak bisa tidak menyertai para pemudik tersebut.
Kata orang, berhubung tahun ini kenaikan harga BBM - yang berimbas pada kenaikan harga segala macam barang lainnya - terjadi sesaat menjelang berlangsungnya kegiatan mudik, jumlah pemudik pun menjadi lebih sedikit daripada biasanya. Namun, "lebih sedikit" bukan berarti "betul-betul sedikit". Kereta api dan bus yang tetap saja penuh sesak menjadi bukti betapa tradisi mudik sifatnya "wajib" bagi sebagian besar pemudik.
Karena sifatnya yang "wajib" itulah, kita bisa yakin bahwa tahun depan, dan tahun-tahun di depannya lagi, tradisi mudik akan selalu terus dan tetap kita jumpai di negeri ini.
*
TENTU saja, di era komunikasi modern seperti sekarang ini, berbicara dengan orang tua dan segenap sanak saudara sebenarnya tidak perlu menunggu waktu mudik tiba. Setiap saat kita bisa melakukannya. Cukup dengan menekan sejumlah angka di pesawat telepon kita di rumah atau melalui telepon selular di manapun kita berada, kita langsung bisa mendengar sejuknya suara merdu ibu atau berwibawanya suara ayah. Demikian pula kita bisa bertukar kabar dan canda dengan seluruh keluarga besar ter- sayang kita.
Pula, jika kita kangen makanan kampung halaman, sejumlah mal menyediakan makanan khas kota-kota masa kecil kita dulu (bahkan, kata orang lagi, semakin suatu makanan termasuk dalam kategori "kampung", semakin mahal pula harganya!), sehingga sekalipun tidak mudik kita bisa bernostalgia dan menikmati makanan lezat zaman kanak-kanak dulu. Hmm... sedap!
Betapa pun demikian, the power of mudik tetap saja memanggil ribuan orang untuk rela berdesak-desakan di berbagai kendaraan, juga menggerakkan mereka untuk tetap tersenyum saat menghadapi kemacetan luar biasa di jalan raya.
*
SEKALIPUN kita biasa menghubungkan tradisi mudik dengan Lebaran, alias Hari Raya Idul Fitri, namun tradisi mudik sesungguhnya tidak hanya bermakna bagi teman-teman dan saudara-saudari Muslim kita, melainkan juga bagi setiap kita.
Pertama, mudik bermakna penting bagi "kesehatan" kita. Yang dimaksud dengan "kesehatan" di sini tentu saja bukan terutama tentang sakit maag atau influenza yang kita derita, melainkan mengenai situasi dan kondisi dunia kerja yang menempatkan kita bukan lagi sebagai "manusia sepenuhnya", melainkan sekadar sebagai salah satu "alat" produksi, yang dihargai hanya sebanyak keuntungan yang bisa kita hasilkan untuk tempat kerja kita.
Mengubah "manusia sepenuhnya" menjadi sekadar "alat yang menghasilkan keuntungan" belaka membuat kita kehilangan keseimbangan yang sesungguhnya kita butuhkan untuk tetap "sehat" sebagai manusia.
Mudik, yang mempertemukan kita dengan orang-orang yang tetap menghargai dan menyayangi kita sekalipun hanya sedikit keuntungan yang kita berikan pada mereka (baca: keluarga dan keluarga besar kita!), berperan memulihkan keseimbangan yang hilang tersebut, sehingga kita kembali dapat menjadi manusia yang "sehat" dan "penuh".
Kedua, mudik juga menyegarkan kesadaran kita bahwa kekuatan manusia untuk menjadi superhuman sangat terbatas. Dunia modern, di mana kita hidup di dalamnya memang menuntut kita untuk menjadi serba bisa, serba kuat, dan serba sempurna (itu sebabnya pengalaman kerja yang menunjukkan bahwa kita siap ditempatkan di bidang apa saja karena kita mempunyai segala macam pengalaman dan kemampuan kerja seringkali menjadi unsur penentu diterima atau tidaknya lamaran kerja yang kita ajukan). Padahal, pada pihak lain, kita sadar sepenuhnya betapa kita tidak serba bisa, tidak serba kuat, juga tidak serba sempurna.
Mudik, yang mengantar kita kembali pada mereka yang tahu bahwa kita pernah menangis saat akan disuntik dokter, atau menjerit-jerit saat tersesat di pasar, atau dihukum karena nilai ulangan kita jelek, menjadi kesempatan kita melakukan re-charge terhadap "baterai" kehidupan kita, sehingga kita dapat mengatakan "I am okay" sekalipun kita bukan superhuman.
*
MENYADARI betapa bermaknanya mudik bagi kehidupan kita seharusnya kita memberi diri kita sendiri kesempatan untuk mudik secara berkala. Namun, mengetahui bahwa mudik yang kita butuhkan bukan terutama soal "pergi ke luar kota", maka menghayati kebutuhan untuk mudik sebenarnya sama dengan mencari dan menemukan kembali kekuatan kita pada hubungan di antara kita - sesama manusia - yang memunculkan manusia yang "sehat", "utuh", dan "penuh".
Dan, surat 1Yohanes 4:20-21 mengingatkan kita bahwa ada keterkaitan yang erat antara memelihara hubungan yang baik dengan sesama kita (dengan demikian kita menemukan kembali kekuatan kita), dengan hubungan yang baik pula dengan Allah. Kata penulis surat tersebut, "Jikalau seorang berkata: 'Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya."
Soli Deo gloria! *
Penulis adalah Pendeta Gereja Kristen Indonesia