SUARA PEMBARUAN DAILY

Retno Maruti Berterima Kasih pada Orangtua dan Guru

Pembaruan/Alex Suban

PENGHARGAAN - Penata tari Retno Maruti (tengah) menerima piagam Penghargaan Akademi Jakarta Tahun 2005 dari Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang diserahkan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso disaksikan Ketua DKJ Ratna Sarumpaet di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (10/11) malam. Retno Maruti dianugerahi penghargaan tahunan ini karena dedikasinya mengembangkan tarian klasik Jawa.

Penari klasik Jawa, Retno Maruti, seolah tengah menari saat berjalan menuju podium di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Kamis (10/11) malam. Langkahnya tertata. Tenang dan anggun. Saat merapikan posisi selendang sutra berwarna kuning kunyit, ia seolah tengah menampilkan bagian dari tari klasik Jawa.

Oh la la, kertas sambutannya ternyata tertinggal di kursi. Sentot Sudiharto, suaminya yang terkenal lewat gerak kakinya saat membawakan tari Gatotkaca dengan sigap berjalan menuju bibir podium. Memberikan kertas yang berisi pidato istrinya.

Pidatonya memikat dan mengingatkan arti penting orang tua dan guru. Koreografer pentas tari Sekar Pembayun itu mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua dan para guru tarinya. Mereka, menurut Retno, mengajarkan tata gerak semua anggota tubuh sehingga muncul tarian memikat.

Lebih dari itu, para sesepuh tari itulah yang memberikan keyakinan kepada Retno Maruti arti penting memelihara tradisi lama. Gerak tari klasik Jawa yang bukan sekedar tontonan tapi juga tuntunan.

Begitulah, cara penari klasik dan koreografer ternama itu memberikan apresiasinya saat menerima Penghargaan Akademi Jakarta 2005. Tim Juri yang diketuai Edi Sedyawati sebelumnya secara resmi mengumumkan bahwa Retno Maruti terpilih sebagai penerima Penghargaan Akademi Jakarta atas pengabdian dan pencapaian seumur hidup di bidang kesenian.

Penghargaan itu semakin mengukuhkan posisi pengajar di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta sebagai salah satu tokoh penting tari tradisional di Indonesia. Hidupnya seolah hanya untuk tarian. Tapi bukan hanya untuk urusan menari di atas pentas. Bersama Sentot dan putri tunggalnya yang juga koreografer tari ternama, Rury Nostalgia, Retno seolah tengah melakukan perjuangan hidup mati untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan tari-tari Jawa. Bersama sahabat-sahabatnya, ia mendirikan Sanggar Tari Padnecwara pada 1976. yang ternyata, puji tuhan, menarik minat para remaja untuk belajar menembang lagu-lagu Jawa dan juga tari Jawa.

"Orang tua dan guru tari saya telah meletakkan sampur (selendang untuk menari-Red.) di pinggang saya. Sekarang Akademi Jakarta memberikan sampur di leher saya," kata Retno.

Tidak ada penjelasan rinci soal makna dibalik perkataan sampur di lehernya. Usai acara, saat ditanya soal isi sambutannya ia berkata singkat, "Saya akan terus menari dan mendidik teman-teman yang mau belajar menari dan menembang."

Jumat pagi saat dihubungi melalui teleponnya ia memberikan penjelasan yang lebih rinci. "Mas, ketika guru saya mengikatkan sampur, artinya beliau memberi kesempatan kepada saya untuk menari. Sekarang Akademi Jakarta yang menyematkan sampur di leher saya. Maknanya jelas, saya harus terus mempertahankan kepercayaan itu untuk terus mengembangkan dunia tari," jelasnya.

Begitulah Retno. Riwayat hidupnya, nyaris seperti riwayat tari tradisional di Indonesia yang bukan hanya berhasil bertahan hidup. Retno dan Padnecwara terus mengembangkan tari-tari klasik khususnya di kalangan generasi muda. Dan mereka berhasil. Bukti terakhir adalah pementasan Portraits of Javanese Dance di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) beberapa waktu lalu.

Berbeda dengan pementasan tari-tari tradisional yang sepi pengunjung, saat pementasan sanggar Padnecwara itu, lebih dari 400 kursi di GKJ terisi penuh. Tujuhpuluh lima persen tiket malah sudah terjual habis jauh hari sebelum pertunjukan.

Keberhasilan itu jelas tidak datang seketika. Retno bergerak dengan iringan gamelan Jawa. Dari mulai Damarwulan (1976), Roro Mendut (1977), Abimanyu Gugur (1978), Sekar Pembayun (1979) Keong Emas (1981), Surapati (2001), Alap-alapan Suksesi (2004) hingga Portraits of Javanese Dance (2005). Puluhan penghargaan telah diterimanya. Tapi yang membuatnya sangat berbahagia ialah, munculnya gelombang ketertarikan generasi muda pada dunia tari klasik Jawa. Tumbuh berkembangnya rasa cinta para remaja Ibu Kota pada dunia tari tradisional di tengah gelombang besar tradisi mancanegara yang seakan menguasai Indonesia, tentu saja menggembirakan Retno.

Pembaruan/Aa Sudirman


Last modified: 12/11/05