SUARA PEMBARUAN DAILY

Petinggi Suriah TerlibatPembunuhan Hariri

Rafik Hariri

NEW YORK - Hasil investigasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyimpulkan bahwa sejumlah petinggi keamanan Suriah dan Lebanon terlibat dalam kasus pembunuhan mantan Perdana Menteri (PM) Lebanon Rafik Hariri. Demikian laporan investigasi PBB yang dipublikasikan, Kamis (20/10).

Pernyataan keras hasil investigasi yang diketuai Detlev Mahlis menyebutkan, badan intelijen dua negara menjalin konspirasi tingkat tinggi guna mengawasi secara ketat aktivitas mantan PM Lebanon itu sebelum pembunuhan terjadi. Salah satu caranya adalah menyadap telepon Rafik Hariri, dan ada bukti antena telekomunikasi yang terpasang di dekat lokasi serangan bom mobil yang menewaskan Hariri dan 20 orang lainnya pada 14 Februari lalu.

Investigasi PBB

Laporan investigasi PBB juga menyebutkan, keputusan pembunuhan terhadap Hariri tidak mungkin dilakukan tanpa persetujuan dari pejabat teras badan intelijen Suriah dan tidak mungkin bisa ditindaklanjuti dengan mengorganisir aksi pembunuhan itu tanpa adanya persengkongkolan dengan badan intelijen Lebanon. Laporan Mehlis setebal 53 halaman tersebut menuding otoritas Suriah berusaha mengaburkan penyelidikan PBB, dan secara langsung menuding Menteri Luar Negeri Farouk al-Sharaa melakukan kebohongan dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada komisinya.

Komisi investigasi PBB menyebutkan, kerja sama penyelidikan dengan pihak Suriah - namun tidak menyentuh substansi- telah menghambat investigasi dan membuat penyelidikan menjadi sulit dalam mengikuti petunjuk-petunjuk berdasarkan bukti-bukti yang dikumpulkan dari berbagai sumber.
"Jika penyelidikan harus dituntaskan, hal yang penting adalah pemerintah Suriah mau bekerja sama penuh dengan petugas penyelidik, termasuk mengizinkan dilakukannya pemeriksaan di luar Suriah dan orang yang diperiksa tidak didampingi oleh pejabat-pejabat Suriah," ujar laporan tersebut.

Sebelumnya, Sekjen PBB Kofi Annan memberikan tenggat waktu penyelidikan kasus pembunuhan mantan PM Lebanon Rafik Hariri tersebut selama tiga bulan kepada komisi investigasi PBB mulai 16 Juni lalu. Namun masa penyelidikan masih bisa diperpanjang hingga tiga bulan ke depan jika masih dianggap perlu.

Agustus lalu, Mehlis menerima perpanjangan waktu dari tenggat waktu sebelumnya yang berakhir 15 September lalu.

Menyikapi laporan PBB ini, pihak berwenang Lebanon langsung meningkatkan keamanan. Banyak kalangan yang menyalahkan Suriah atas peristiwa pembunuhan Hariri, namun Suriah selalu membantahnya.

Kematian Hariri memicu aksi unjuk rasa menentang Suriah dan makin memperbesar tekanan internasional kepada Damaskus untuk menarik diri pasukannya dari Lebanon, yang akhirnya dilakukan juga oleh Suriah.

Dewan Keamanan PBB menyetujui penyelidikan pembunuhan Hariri pada 8 April lalu.

Sebelum laporan komisi penyelidikan PBB dilansir, Menteri Dalam Negeri Suriah Ghazi Kanaan, yang sempat menjabat sebagai kepala badan intelijen militer di Lebanon hampir selama 20 tahun, tewas bunuh diri.

Berdasarkan keterangan dari kantor Kementerian Dalam Negeri Suriah dan kantor-kantor pemerintah lainnya, Kanaan, yang berusia 63 tahun itu, meninggal di RS Damaskus akibat luka tembak di kepala.

Kepala Unit Gawat Darurat RS tersebut mengatakan, peluru yang dimuntahkan dari pistol kaliber kecil menembus kerongkongan dan kemudian keluar lewat belakang kepalanya. (AP/CNN/W-12)


Last modified: 21/10/05