SUARA PEMBARUAN DAILY

Korban Banjir Aceh Terus Bertambah

BANDA ACEH - Korban banjir bandang dan tanah longsor yang melanda lima Desa di Kecamatan Semadam, Kabupaten Aceh Tenggara, Selasa (18/10) lalu, jumlah korban tewas terus bertambah. Sampai dengan, Kamis (20/10) malam jumlah korban tewas sudah berhasil dievakusi oleh PMI sebanyak 16 orang dan tujuh korban lagi masih dilaporkan hilang. Pihak PMI bersama aparat TNI/Polri terus melakukan upaya pencarian terhadap korban.

Demikian Ketua PMI Cabang Aceh Tenggara Indra Utama kepada Pembaruan saat dikonfirmasi via telpon, Kamis (20/10) malam di Kutacane.

Ditambahkan jumlah korban kemungkinan masih akan bertambah, karena saat ini masih ada warga yang melaporkan keluarga mereka tertimbun lumpur dan juga ada diantara keluarga mereka yang hilang.

Jumlah korban tewas yang terdata oleh PMI sampai Kamis malam tercatat 16 orang dan korban luka berat tercatat 20 orang, para korban saat ini masih dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Kutacane, sedangkan puluhan korban luka ringan, sudah diperbolehkan pulang dengan rawat jalan.

Para korban tewas yang sudah terdata identitasnya adalah Yuhari (53) Tuminah (50) Murni (11) Tipah (60) Sari (13) dan Yos (9) berasal dari Desa Lawe Beringin, Kec. Semadam

Sementara korban tewas dari Desa Semadam sebanyak tiga orang masing-masing Yusran, Mahrum dan istrinya. Sedangkan lima orang hilang yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya adalah Sumani (60) Jumilah (28) Tami (9) Ray (10) dan Lela.

Korban Titi Pasir yang menderita luka-luka dan kini masih dirawat di RSU Sahudin Desky adalah Rahman (45) Mardiansyah (13) Hasan Basri (50) Titin Sarah, Daud (60) Kamaliah, Sari (40) Mardatilah dan Rabiah (45) Laksa (48) dan Bosari, ketiganya warga Lawe Beringin Gayo serta beberapa warga dari Desa Semadam Awal maupun Simpang Semadam.

Menyusul musibah bencana tersebut ribuan warga telah mengungsi pada tiga titik masing di GOR Kutacane, Bandara Leuser Antara, Kutacane dan lapangam terbebas banjir di seputar lokasi banjir.

Sampai malam tadi ratusan petugas PMI dari Medan, Banda Aceh, Kabupaten Aceh Tenggara dibantu aparat TNI/Polri masih terus melakukan pencarian terhadap korban banjir bandang itu. "Kami kesulitan dalam evakuasi, karena medan yang sangat berat dan berlumpur," kata Indra.

Akibat banjir dan tanah lonsor hubungan lalulintas dari Kutacabe ke Medan Sumatera Utara terputus, ratusan kendaraan yang ingin melewati jalan tersebut harus meninggalkan mobilnya untuk berjalan kaki guna menembus ke Aceh Tenggara.

Soal bantuan, saat ini baru Satlak Kabupaten dan beberapa lembaga swadaya masyarakat yang telah menyalurkan. Sementara itu, IOM (Organisasi Internasional untuk Migrasi) dalam siaran persnya (20/10) menyebutkan telah mengirimkan 4.000 botol air minum masing-masing berisi dua liter dan makanan. Sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNHCR akan tiba di Kutacane tadi malam juga membawa berbagai bantuan untuk keperluan pengungsi dan korban luka berat dan ringan.

Pembalakan Liar

Koordinator Bidang Advokasi dan Kampanye Walhi Aceh Dewa Gumay kepada Pembaruan menyebutakan bencana banjir bandang yang telah meluluh lantakkan lima Desa di Aceh Tenggara berasal dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), sebab daerah tersebut sangat rawan bencana tepatnya di Kawasan Hutan Bur Tanah.

Apalagi sebelum banjir datang daerah tersebut telah diguyur hujan deras selama sepekan akibatnya terjadi luapan anak sungai Titi Papan dan anak sungai Lawe Kinga, selain banjir juga terjadi tanah longsor yang membawa lumpur dan batu-batuan gunung.

Akibat dari banjir tersebut sabanyak 639 KK warga setempat terpaksa mengungsi dan sebanyak 225 buah rumah, tiga unit rumah Ibadah, tiga unit gedung pendidikan tiga unit pusat pasar simpang dilaporkan hancur total. Serta puluhan hektar lahan pertanian dan perkebunan rusak kerugian ditaksir mencapai kurang Rp 210 miliar lebih.

Banjir itu terjadi disebabkan oleh pengelolaan hutan yang tidak berbasis bencana, apalagi letak geografis lokasi bencana, lokasi itu seharusnya sudah mempunyai "Sistem Mitigasi" atau penanganan terhadap bencana secara terpadu dan diperlukan kebijakan atau regulasi jelas untuk tidak melakukan Eksploitasi atau konversi hutan secara besar-besaran.

Menurut Walhi Aceh pembangunan Ruas Jalan Titi Pasir - Bahorok Tahun 2002 merupakan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap bencana banjir bandang ini, karena Ruas jalan berada pada Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang menghancurkan ekosistem hutan sebagai wilayah tangkapan air (Water Cathment Area). Hujan yang terus mengguyur Kec. Semadam seharusnya tidak akan menyebabkan Banjir bandang jika wilayah tangkapan air di wilayah KEL tidak rusak.

Kawasan Ekosistem Leuser memiliki areal seluas 2.570.652,78 hektar, saat ini pembalakan liar telah merusak sedikitnya 653.482,17 hektar dengan areal gundul 262.564,67 ha dari luas KEL yang ada.

Di Kawasan Ekosistem Leuser, sampai hari ini kerap terjadi bencana banjir bandang dengan dampak cukup besar memakan korban jiwa, diantaranya November 2003 di Bahorok, 26 April 2005 di kec. Badar (147)


Last modified: 21/10/05