SUARA PEMBARUAN DAILY

Pembangunan Perbatasan Harus Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

PONTIANAK - Pada dasarnya masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan kurang peduli terhadap komoditas yang akan dikembangkan di daerah perbatasan. Bagi mereka, yang terpenting adalah komoditas yang dikembangkan harus dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan komoditas itu tidak harus kelapa sawit.

Hal itu dikatakan Iwan Wibosono dari National Campaigner of Heart of Borneo yang juga salah seorang staf World Wild Fund (WWF) kepada Pembaruan, Kamis (20/10), seusai mengadakan kunjungan ke daerah perbatasan.

Dikatakan, rencana pemerintah membangun perkebunan kelapa sawit di sepanjang perbatasan Indonesia - Malaysia harus dapat memperhatikan keadaan alam di sepanjang kawasan tersebut. Sebab di daerah itu masih banyak hutan yang bernilai konservasi tinggi.

Selain itu, sesuai dengan informasi yang diterima dari Wakil Bupati Kapuashulu, kemiringan lahan di daerah perbatasan rata-rata di atas 30 persen dan ketinggiannya antara 500 sampai 1.000 meter di atas permukaan laut. Jadi, daerah itu kurang cocok untuk pengembangan perkebunan sawit. "Lebih baik, rencana pembangunan sawit itu diarahkan pada lahan yang sudah kritis atau lahan yang ditinggalkan oleh pengusaha. Sementara untuk pembangunan daerah perbatasan sebaiknya mengikuti saran dan keinginan masyarakat setempat. Selain sawit, masyarakat ingin mengembangkan karet dan tengkawang," kata Iwan.

Leboih jauh dikatakan, jika pemerintah tetap ingin mengembangkan perkebunan sawit di daerah perbatasan, akan banyak hutan yang dikonversi. Akibatnya dalam waktu yang tidak begitu lama, pembangunan sawit akan menimbulkan masalah. Oleh sebab itu, pengembangan perkebunan sawit di Indonesia hendaknya tidak dilakukan dengan cara membuka atau mengkonversi hutan, terutama hutan dengan nilai konservasi tinggi. Namun dilakukan secara berkelanjutan dan didukung rencana tata ruang yang tepat.

"Hendaknya pemerintah mengambil pelajaran dari pelaksanaan pembangunan mega proyek 1 juta hektare lahan gambut. Proyek itu hanya meninggalkan kerusakan lingkungan yang sangat sulit diperbaiki," ujarnya. (146)


Last modified: 21/10/05