SUARA PEMBARUAN DAILY

Ketertiban Umum Vs Kebutuhan Perut

"Pepaya, mangga, pisang jambu

Dibeli dari Pasar Minggu

Di sana banyak penjualnya

Di kota banyak pembelinya..."

PEMBARUAN/CHARLES ULAG

Aparat Tramtib Pemkot Jaksel membubarkan para pedagang kaki lima yang memblokade Jalan Ragunan, Pasar Minggu.

BAIT lagu di atas diambil dari lagu popular tahun 50-an berjudul Pasar Minggu. Kawasan ini dahulu memang dikenal sebagai kawasan wisata yang terutama menghasilkan buah-buahan.

Tak heran, banyak penduduk Jakarta saat itu yang menganggap pergi ke Pasar Minggu sebagai naar boven (pergi ke atas), sama dengan kawasan Puncak saat ini. Apalagi, ketika Kebun Binatang Cikini kemudian dipindahkan ke Ragunan. Kawasan ini pun kian diminati sebagai salah satu daerah tujuan wisata.

Namun sekarang, kawasan Pasar Minggu boleh dibilang sebagai kawasan majemuk. Institusi pendidikan bermunculan. Rumah-rumah mewah didirikan di berbagai kawasan. Namun, kekumuhan tak juga hilang.

Konsentrasi kekumuhan ini terlihat jelas di sekitar Terminal Pasar Minggu dan stasiun KA Pasar Minggu yang letaknya berdekatan bak segitiga. Di daerah ini, para pedagang kaki lima (PKL) berjejer di sepanjang Jl Raya Pasar Minggu dan Jl Raya Ragunan.

Yang dijadikan komoditas dagangan pun bermacam-macam. Dari sayur-mayur, buah-buahan, onderdil hingga pakaian dalam. Semua dipajang di lapak-lapak pinggir jalan, terkena debu dan asap dari kendaraan bermotor.

Tak pelak, kemacetan pun terjadi. Di sepanjang ruas Jl Raya Pasar Minggu atau Jl Raya Ragunan, perpaduan antara PKL dan angkutan kota (angkot) yang berhenti sembarangan menjadi biang keladi utama. Belum lagi para pejalan kaki yang terpaksa berjalan di badan jalan karena trotoar diserobot para PKL. Suasana pun jadi sumpek dan semrawut.

Toh, karena terjadi setiap hari, segala rasa sumpek dan semrawut yang terjadi tak lagi dihiraukan. "Yah, namanya juga cari makan. Saya sudah berdagang di sini selama 20 tahun lebih. Masalah diusir petugas sih sudah jadi makanan sehari-hari kami yang berdagang di sini. Tapi, habis diusir, ngumpet sebentar, terus dagang lagi deh," tutur Siti (47), seorang pedagang buah-buahan di Jalan Raya Ragunan dekat pintu masuk terminal Pasar Minggu.

Kondisi seperti ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Saat ini, diperkirakan, terdapat sekitar 3.000 PKL yang berjualan di pintu masuk terminal Pasar Minggu.

Tentunya, hal ini sangat mengganggu kelancaran lalu lintas di kawasan tersebut. Tak heran, kawasan Pasar Minggu dikenal sebagai biang macet. Jika tak perlu benar, jarang yang mau melewatinya.

Menata

Melihat hal tersebut, Pemkot Jaksel terus berupaya menata dan menertibkan kawasan Pasar Minggu. Secara serius, pemkot bahkan menyediakan lahan khusus bagi para PKL agar tidak lagi berjualan di areal publik seperti badan jalan, trotoar dan terminal.

Lokasi seluas 8.000 m2 di antara Terminal Pasar Minggu dan PD Pasar Jaya ini bahkan menelan dana hingga Rp 6 miliar dan dibangun sejak tiga tahun lalu. Dalam lokasi penampungan itu, terdapat 600 kios berukuran 2x1 m yang akan digunakan 1.200 pedagang yang dibagi dalam dua shif.

Mereka juga akan dibagi ke dalam jenis-jenis dagangan, antara lain ikan, buah dan sayur, kelontong, sembako, dan sebagainya.

Menurut Kasudin Koperasi & UKM Jaksel, Yuliani Purwaningsih, beberapa waktu lalu, lokasi penampungan PKL itu sudah ada sejak 2003. Namun, karena berbagai faktor, lokasi itu pun terbengkalai. "Dulu, jalan masuk ke dalam sini becek dan bau. Selain itu, pagar terminal pun tertutup sehingga para pedagang tak terlihat dari luar. Ini kan membuat para pedagang enggan berjualan di lokasi penampungan karena takut kehilangan pelanggan," tutur Yuli.

Sekarang, semua faktor penghalang itu sudah dienyahkan. Jalan masuk ke dalam lokasi sudah diperbaiki. Sementara pagar terminal dibuat lebih rendah sehingga lokasi penampungan tidak terisolir lagi.

Para pedagang sendiri akan dibebaskan dari biaya sewa. Menurut Yuli, Pemkot Jaksel yang memfasilitasi bangunan tersebut. Namun untuk retribusi kebersihan dan listrik, para pedagang dan tim pengelola diminta untuk memusyawarahkannya sendiri.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Camat Pasar Minggu, Ahmad Sotar Harahap, kepada Pembaruan baru-baru ini. Untuk menghindari bentrokan saat menertibkan para PKL, ia dan jajarannya memilih pendekatan secara persuasif.

Diharapkan, pendekatan semacam ini tidak akan mengulang kejadian penertiban PKL di Pasar Senen, Jakpus, dan Cawang, UKI, Jaktim, beberapa waktu lalu. Apalagi sejatinya, para PKL yang ada di kawasan Pasar Minggu hanya akan dipindahkan lokasi berjualan dari pinggiran jalan ke dalam lokasi penampungan PKL yang disediakan pemerintah.

"Kami sudah menyosialisasikan program ini selama satu bulan sebelum penataan dilakukan. Intinya adalah memasukkan PKL ke tempat yang sudah disediakan," tuturnya.

Gagal Ditertibkan

Sayang, harapan tinggal harapan. Penertiban dan penataan yang dilakukan pihak Pemkot Jaksel menghadapi resistensi dari beberapa PKL yang didukung kelompok mahasiswa. Mereka menggelar demonstrasi besar-besaran yang berujung pada bentrok antara PKL dan petugas Tramtib.

Bahkan, banyak juga PKL yang mau menempati lokasi penampungan, lalu kembali lagi ke pinggir jalan untuk berjualan. Mereka mengaku, berdagang di pinggir jalan lebih menguntungkan ketimbang di dalam lokasi penampungan.

"Omzet saya menurun hingga lebih dari 50 persen. Makanya, saya balik lagi ke sini. Pembelinya lebih banyak," kata Toha, seorang pedagang buah.

Toha tak sendirian. Ratusan PKL lainnya kembali menyemut di sekitar Jl Raya Ragunan dan Jl Raya Pasar Minggu, beberapa hari setelah penataan digelar. Ada PKL wajah baru, ada juga PKL wajah lama yang kembali ke lokasi awal.

Kini, kedua ruas jalan tersebut sudah kembali dipadati PKL. Ada pedagang sayur yang berjualan di pintu masuk terminal, pedagang buah yang asyik nongkrong di tengah ruas Jl Raya Ragunan, atau pedagang mainan anak yang menggelar lapak di antara kepulan asap kendaraan yang lalu lalang.

Bahkan, persimpangan antara ruas Jl Raya Ragunan dan Jl Raya Pasar Minggu nyaris tertutup oleh PKL. Jika pengemudi kendaraan bermotor tak melihat secara jeli, pasti menyangka persimpangan itu adalah jalan buntu.

Rencana perbaikan kawasan Pasar Minggu hingga menjadi kawasan tertib, indah, dan nyaman pun terlupakan. Karena, bagi para PKL ini, yang penting adalah perut dan kebutuhan sehari-hari.

"Mau bagaimana lagi Mbak. Kalau saya enggak begini, saya enggak bisa makan. Apalagi sebentar lagi mau Lebaran, kebutuhan hidup tambah banyak. Jadi, biarin deh dibilang melanggar. Mereka yang ngomong begitu kan enggak ngalamin hidup kayak saya. kalau mereka jadi saya, mungkin mereka juga bakal melakukan hal yang sama," kata Toha, mencari pembenaran. Anda setuju?

Pembaruan/Irawati Diah Astuti


Last modified: 21/10/05