SUARA PEMBARUAN DAILY

Jakarta Jelang Pagi

"Sahur on the Road"

AKSI amal bertajuk Sahur on the Road tengah menjadi tren belakangan ini. Biasanya, aksi yang membagi-bagikan makan sahur kepada kaum dhuafa secara langsung itu, dilaksanakan pada akhir pekan.

Sambil sahur bersama, kebersamaan pun bisa dirasakan tanpa melihat perbedaan.

Salah seorang yang rutin ikut dalam acara Sahur on the Road adalah Gugun Gondrong. Presenter dan MC kondang ini mengaku, motivasinya hanya satu, yakni berbagi kepada sesama.

"Mumpung bulan puasa, kenapa sih kita enggak berbagi? Lagi pula, gue senang melihat kegembiraan kaum dhuafa pas kita bagikan makanan untuk sahur. Ada lho yang mengaku, tidak bisa berpuasa karena tak punya apa-apa untuk dimakan saat sahur dan buka. Dengan acara ini, berarti kan kami membantu mereka untuk menunaikan ibadah puasa," kata Gugun kepada Pembaruan, Kamis (20/10) malam.

Ia mengaku, kontribusinya dalam acara sahur bukanlah secara material. Ia hanya dihubungi pihak panitia yang memintanya untuk menjadi MC gratis dalam acara tersebut. Selain itu, Gugun juga kerap berisiniatif mengoordinasikan rekan-rekannya sesama artis untuk ikut berpartisipasi. Pasalnya, kehadiran para selebritis ini akan membuat para kaum dhuafa merasa lebih bahagia.

"Sayangnya, artis-artis kita susah banget kalau dihubungi untuk ikut acara beginian. Dari 300 orang yang gue SMS, yang balas hanya 30 orang. Itu pun yang benar-benar nongol ke acara paling-paling cuma 10 orang. Padahal, acara ini kan bagus," keluhnya.

Sahur on the Road umumnya dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama, dan yang tengah menjadi tren, adalah membagi-bagikan makanan sahur kepada para kaum dhuafa di sekitar Jakarta sambil berkeliling.

Yang menjadi penerima umumnya adalah para penyapu jalanan, pemulung, dan pengemis. Saat ini, acara tersebut kerap digelar beberapa stasiun radio swasta, beberapa organisasi anak muda, dan perkumpulan kendaraan bermotor.

Yang kedua adalah mengoordinasikan mereka di masjid atau lokasi tertentu, dan baru membagikannya. Jenis kedua ini biasanya dilakukan oleh institusi tertentu yang diramaikan dengan kehadiran selebriti atau penceramah kondang.

"Alhamdulillah, saya senang banget dapat makan sahur gratis kayak begini. Pakai lauk ayam segala lho. Padahal jarang banget saya bisa makan enak kayak begini. Makanya, saya demenan sahur gratis daripada kompensasi BBM. Sudah repot ngurusnya, eh belum tentu dapat. Kalo sahur gratis ini kan enak. Udah gratis, diantar lagi," kata Nurdin, seorang pengemis di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Toh, niat baik tak selalu berujung baik. Gugun mengaku, misinya membagikan makanan sahur kepada para kaum dhuafa pernah disalahgunakan oleh pihak yang lebih mampu.

Waktu itu, kebetulan, ia dan rekan-rekannya yang menggelar Sahur on the Road berhenti di depan sebuah pangkalan ojek. Bukan kaum dhuafa yang mengambil makanan gratis, malah para tukang ojek itu yang menggasaknya.

"Wah, kami langsung bingung, lah kok yang ikut antre tukang ojek semua? Ternyata mereka mengira, ada pembagian makanan gratis, jadi mereka langsung ikut aja. Setelah kami jelaskan, mereka mengerti, lalu kami langsung pergi ke tempat yang lain. Sayang kan kalau makanan gratis itu tidak sampai kepada yang lebih patut menerimanya?" kisah Gugun.

Namun, ia mengaku maklum dengan fenomena itu. Begitu juga dengan kisah-kisah serupa yang banyak diceritakan oleh para pelaku Sahur on the Road lainnya. Karena acara ini mulai menjamur, banyak pihak yang sengaja menunggu di beberapa lokasi yang kerap dilewati. Tujuannya sudah jelas, mereka berharap agar ikut diberi makanan gratis untuk sahur.

"Kalo menurut gue, itu sah-sah aja. Dengan harga kebutuhan hidup yang melonjak, pasti tambah banyak orang yang kesusahan. Lagi pula, gue pikir, kalo mereka mampu, enggak mungkin dong mereka mau bersusah payah ikut-ikutan ngantre makanan sahur gratis tengah malam? Jadi, gue sih yakin aja, yang ikutan antre adalah orang-orang yang enggak mampu. Kalo orang mampu dan masih mau antre, itu sih namanya kebangetan," tuturnya. (D-10)


Last modified: 21/10/05