SUARA PEMBARUAN DAILY

Warga Butuh KRL Ekonomi dan Ekspres

Sudah Saatnya KRL Jabodetabek Menerapkan Standar yang Lebih Baik

JAKARTA - Beragam pendapat diungkapkan para penumpang kereta rel listrik (KRL), baik jurusan Jakarta-Bekasi, dan Jakarta-Bogor tentang penghilangan kelas ekonomi dan ekspres.

Rata-rata penumpang yang ditemui Pembaruan di tempat terpisah, Jumat (21/10) menyatakan tidak setuju adanya penghilangan kelas itu. Masalah tarif serta kenyamanan, menjadi dua faktor utama yang diungkapkan para penumpang dari masing-masing kelas.

"Kalau digabungkan, tarifnya bagaimana?" kata Maskuri, warga Teluk Pucung, Bekasi Utara, ditemui Pembaruan di Stasiun Senen, Senin (21/10). Alasan dia menumpang KRL kelas ekonomi, justru karena tarifnya yang murah.

Untuk ke tempat kerjanya di Jakarta, dia butuh sekurangnya Rp 5.000 untuk dua kali ganti angkutan umum. Sementara dengan KRL ekonomi, dia cukup mengeluarkan Rp 1.500. "Siapa yang tak mau kalau KRL jadi pakai AC (pendingin ruangan), nyaman. Tapi kalau ongkosnya jadi berlipat-lipat, mending tidak usah saja," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Herdian, warga Bekasi. "Memang kondisi KRL parah, desak-desakan, banyak copet. Kita juga mau itu diperbaiki. Tapi asal tarifnya jangan naik gila-gilaan," ucapnya. Menurut dia, sebaiknya adanya pembagian kelas ekonomi tetap diperlukan, untuk memperjelas keberadaan transportasi murah, yang bisa dijangkau masyarakat bawah.

Sementara itu, dari beragam pendapat yang diungkapkan para pelanggan KRL kelas ekspres, asalan utama ditolaknya penghapusan pembagian kelas KRL adalah masalah kenyamanan serta keamanan. "Selama ini adanya KRL Ekspres bisa diharapkan jadi solusi untuk transportasi terjangkau dan nyaman, masa mau dihilangkan," kata Maya.

Menurut warga Bogor itu, KRL menjadi alternatif utama transportasi buat dia, lantaran bisa mengatasi masalah kemacetan. "Enak tidak macet. Memang Ekspres lebih mahal, tapi daripada pakai bis, ongkos mahal kena macet lagi," tuturnya. Untuk KRL kelas ekonomi, Maya menyebut tak bakal mau menaikinya.

"Takut naik kelas ekonomi. Banyak cerita dari teman, kalau perempuan sering dijailin. Desak-desakan, bukan cuma rawan copet, tapi perempuan juga dipegang-pegang. Pokoknya tidak aman. Selama ini pakai KRL Ekspres sudah lumayan enak, jangan diubah deh," katanya.

Apa pun alasannya, kata Maya, sebaiknya tetap ada pembagian kelas KRL. Hal itu, menurutnya adalah penyediaan pilihan bagi calon pengguna. "Itu kan masalah pilihan nantinya. Mau lebih nyaman, pakai Ekspres. Tapi kalau pertimbangan utamanya murah, ya, pakai Ekonomi," ucapnya.

Terkait kenyamanan, perhatian para penumpang KRL juga masalah ketepatan waktu. "Kalau nanti digabungkan, jadwal keberangkatannya bakal sering molor kayak KRL Ekonomi tidak? Lebih baik diberesin dulu deh pelayanannya. Terutama penjagaan keamanan. Kalau nanti Ekonomi digabung ke Ekspres, copet dari kelas ekonomi tetap ngikut, kan," ujar Maya.

Menurut Jayani (33), warga perumahan Cimanggu Permai yang bekerja di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan, di satu sisi perubahan tersebut akan menyenangkan. Karena dengan sendirinya penumpang akan menikmati kenyaman dan rasa aman berkendara dengan KRL.

Namun, itu akan berdampak pada kenaikan tarif yang tentu saja sangat memberatkan masyarakat pengguna. Oleh karena itu sebaiknya, tarif yang diberlakukan pun tidak terlalu mahal atau terjangkau oleh masyarakat banyak.

Sebetulnya menurut Jayani, masyarakat sangat menginginkan kenyamanan dan keamanan saat naik KRL. Kondisi saat ini betul-betul sangat memprihatinkan.

"Pintu-pintu dan jendela-jendela tak bisa ditutup, kotor dan berdesak-desakkan hingga penumpang sulit menggerakkan tubuhnya," katanya. Oleh karena itu, Jayani berharap PT Kereta Api bisa menambah jumlah gerbong KRL Ekonomi.

Lain lagi dengan Dewi (30) salah seorang karyawan perusahaan swasta di bilangan Harmoni, Jakarta Pusat. Menurutnya, penghapusan itu akan berpengaruh pada waktu tempuh kereta. Selama ini banyak karyawan seperti dirinya memilih naik KRL Ekspres, selain untuk kenyamanan juga agar lebih cepat tiba di kantor.

Jika nanti harus berhenti di setiap stasiun, waktu tempuhnya akan lebih lama. Dengan kondisi tersebut, tentu masyarakat keberatan jika harus membayar terlalu mahal. "Apalagi PT KA berencana menaikkan tarif menjadi Rp 13.000," katanya.

Standar

Di tempat terpisah, Direktur Eksekutif The Indonesian Institute (TII) Jeffrie Geovanie mengatakan, sekarang sudah saatnya KRL Jabodetabek menerapkan standar yang lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada penumpang KRL dengan fasilitas AC untuk semua penumpangnya. Semua KRL untuk melayani komuter, juga tidak perlu dibedakan dengan kelas ekonomi dan ekspres. Di luar negeri tidak ada pembedaan kelas untuk kereta komuter.

Berkaitan dengan tidak perlu pembedaan kelas untuk KRL Jabotabek, Ketua Divisi Advokasi Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Soedaryatmo mengatakan, ide ini sangat mungkin diterapkan dan PT KA dapat beroperasi dengan baik. Untuk menutup biaya operasionalnya, harga karcis KRL dibedakan berdasarkan waktu.

Jadi, pada saat jam sibuk dan padat, harga karcisnya lebih tinggi dibandingkan pada jam yang tidak sibuk. "Saya kira, itu bisa dilakukan untuk KRL Jabodetabek, sebab di beberapa negara lain juga dapat diterapkan dengan baik. Saya lihat di Cile, penerapan harga karcis berdasarkan waktu operasi dapat dilakukan. Tarif kereta dibedakan bukan berdasarkan kelas, tetapi zona waktu," katanya. (L-11/B-14/M-11)


Last modified: 21/10/05