MUZAFFARABAD - Koordinator Bantuan PBB Jan Egeland mendesak dunia internasional menggencarkan bantuan bagi tiga juta warga yang kehilangan rumah akibat gempa bumi di kawasan Asia Selatan.
Sementara itu kematian tiga korban akibat tetanus terus menambah kekhawatiran bahwa penyakit dan infeksi tersebut akan menambah jumlah korban tewas diatas 79.000 orang.
Ketika berbicara Kamis (20/10) di Jenewa, Egeland meminta kepada kepada Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan beberapa pihak yang berpotensi untuk bergabung membentuk "sebuah jembatan udara Berlin kedua." Yakni memobilisasi bantuan dengan helikopter dan mengangkut ratusan ribu korban. "Dunia belum cukup berbuat. Kita harus dapat menolong mereka," tandas Egeland.
Ia memperkirakan dibutuhkan penerbangan bolak-balik nonstop untuk menolong ribuan korban gempa bumi. Ini mengingatkan pada upaya bantuan yang diberikan AS dan Inggris ke Berlin Timur pada akhir 1940-an. Saat itu militer Soviet mengisolasi Berlin dari Barat.
Diperkirakan NATO akan mendistribusikan bantuan medis dan ratusan tenaga teknik dari militer untuk membersihkan jalan dan membantu rekonstruksi. Para komandan NATO berupaya mengerahkan helikopter yang dibutuhkan untuk membawa bantuan ke wilayah terpencil di pegunungan.
Helikopter-helikopter yang memuat bantuan dan para tentara bergerak menyebar di kota yang hancur lebur, Muzaffarabad, lokasi pusat gempa. Mereka berpacu dengan waktu untuk membantu para korban di wilayah pedalaman Himalaya ini yang hancur pada gempa bumi 8 Oktober lalu.
"Dibutuhkan pengerahan helikopter yang lebih banyak agar bisa bergerak ke kawasan yang tidak bisa diakses," ujar Hillary Benn yang menjabat menteri negara untuk pembangunan internasional Inggris, saat berkunjung ke wilayah tertimpa gempa bumi. Kondisi geografisnya sangat sulit dan lagipula musim dingin semakin mendekat.
Laksamana Muda AS Mike Le Fever mengatakan sebanyak 20 helikopter akan tiba pertengahan minggu depan untuk membantu penyebaran bantuan. Helikopter milik "Pengawal Udara Nasional AS sekarang dikumpulkan lagi di Afghanistan sebelum diterbangkan ke Pakistan," katanya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sudah ada 17 kasus infeksi tetanus di tengah para pengungsi di wilayah gempa. Tiga orang yang terinfeksi di Kota Balakot akhirnya meninggal dunia.
Koordinator tim WHO di lokasi gempa Sarfaraz Tan Afridi mengatakan timnya telah berusaha untuk memberikan imunisasi kepada orang-orang sebanyak mungkin. Tetanus adalah infeksi bakteri yang menyebabkan demam, tekanan darah tinggi dan otot tegang yang berakibat pada kematian. (AP/H-12)