SUARA PEMBARUAN DAILY

Terorisme dan Naiknya Harga BBM Penyebab Lesunya Pariwisata Indonesia

MASALAH keamanan terutama insiden bom Bali II, menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), merupakan sebagian penyebab menurunnya dunia usaha, yang otomatis memicu lesunya pariwisata Indonesia. Pada gilirannya, hal tersebut jelas akan mengurangi pemasukan devisa dari sektor pariwisata.

Walaupun pada awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla (SBY - JK) penanganan pariwisata andalan, di antaranya Bali, telah mengalami gairah secara bertahap dengan hasil maksimal. Namun dengan adanya peledakan bom di "Pulau Dewata" itu, jelas menyurutkan kembali upaya yang telah dilakukan.

Oleh sebab itu, dirasakan perlu agar dalam "mendongkrak" dunia pariwisata Indonesia, hendaknya jangan difokuskan pada satu daerah atau lokasi saja. Indonesia memiliki beragam kekayaan alam, budaya, adat dan masyarakat tradisional, yang memiliki nilai jual tinggi untuk industri pariwisata. Tidak kalah dengan negara-negara lainnya. Demikian "benang merah" evaluasi kondisi pariwisata Indonesia selama satu tahun pemerintahan SBY - JK yang diungkapkan oleh sejumlah pelaku pariwisata dalam percakapan terpisah dengan Pembaruan di Jakarta, Rabu (19/10) dan Kamis (20/10).

Mereka adalah Ketua Yayasan Cinta Budaya Indonesia (YCBI) Raymond Timotius Lesmana, President Director Aseanta (Asean Tourism Association) yang juga Direktur Utama Pantravel Elly Hutabarat, dan Retail Business Development Manager Panorama Tours Tom Mc Ifle.

Menurut Raymond, tidak bisa dipungkiri terpilihnya pasangan SBY- JK menambah semangat dunia usaha, apalagi sektor pariwisata. Sektor tersebut - dan tentu saja sector-sektor lainnya - memang menginginkan adalah situasi damai, aman, dan nyaman. Ditambah lokasi yang indah dan bersih. Alam Indonesia menjadi idola wisatawan asing karena kekayaan alam, budaya unik dan langka, termasuk keramah tamahan masyarakanyat.

Ditambahkan lagi, pada satu sisi, eco-tourism sebenarnya bisa mendongkrak pariwisata Indonesia. Sayangnya hal itu belum maksimal diberdayakan. Belum tertangani eco-tourism tersebut adalah akibat ketidakjelian kita. Contohnya wisata bahari tidak banyak dikenal, bahkan tertangani dengan baik. Padahal, 75 persen wilayah Indonesia adalah air, pantai, dan pesisir, yang tidak kalah menarik dengan wisata alam lainnya.

YCBI memang dikenal spesialis menangani wisata bahari dengan mayoritas konsumennya adalah turis asing dari berbagai negara. Tahun 2004, YCBI membawa ribuan wisatawan asing dari 16 negara untuk mengikuti wisata bahari dengan menumpang 70 kapal. Tahun 2006, juga telah dijadwalkan membawa penumpang dalam jumlah sama plus 70 kapal mengelilingi lokasi wisata bahari Indonesia.

Kepercayaan Wisatawan

Tom Mc Ifle mengatakan, awal SBY terpilih sebagai Presiden, mayoritas dunia pariwisata Indonesia menjadi bergairah. Kepercayaan wisatawan atas keamanan kala itu, menjadikan para wisatawan tak ragu datang ke Indonesia. Hal itu sekaligus meningkatkan jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia.

"Kami punya data, kurun waktu itu (awal pemerintahan SBY-Red.) sempat ada kenaikan wisatawan sampai 30 persen, terutama berkat kerja sama antara berbagai pihak. Namun setelah bom Bali menyusul kenaikan BBM, begitu drastis dirasakan penurunan wisatawan, bukan hanya dari luar negeri tetapi juga wisatawan domestik. Wajar saja mereka mengerem pengeluaran. Walau ada kelebihan ,tentu tidak semuanya dibelanjakan untuk wisatawan," ujar Tom.

Namun situasi pariwisata nasional kemungkinan masih bisa menjadi lebih baik, dengan syarat pemerintah cepat menyelesaikan sejumlah kasus, terutama pengungkapan kasus bom Bali II, serta minimal mempertimbangkan lagi kenaikan harga BBM, dengan harapan agar strategi itu bermanfaat membendung kondisi lebih buruk lagi tahun 2006.

Tom menilai beberapa lokasi wisata di Indonesia yang layak dipromosikan maksimal sampai tingkat dunia, antara lain Padang, Sumatera Barat, dan Manado, Sulawesi Utara. Demikian pula kawasan DI Yogyakarta dan Lombok, Mataram, merupakan daerah tujuan wisata yang menarik.

Sementara itu, Elly Hutabarat menilai peningkatan pariwisata di awal pemerintahan SBY - JK, antara lain karena sikap SBY, terutama upayanya menggairahkan dunia usaha plus tidak banyak diganggu oleh peraturan baru yang dikeluarkan pemerintah. Sehingga konsistensi itu menumbuhkan kepercayaan masyarakat.

Menurut Elly, koordinasi antara bidang-bidang yang berkaitan dengan usaha pariwisata juga terus meningkat. Mereka memang bersaing, namun berlangsung sehat. Itu dibuktikan adanya peningkatan usaha, bahkan tidak sedikit bermunculan usaha pariwisata baru.

"Pada prinsipnya, pariwisata Indonesia tetap bergairah, karena alamnya punya potensi dengan nilai jual tinggi. Tentang pariwisata selama kepemimpinan SBY-JK lebih baik. Hanya saja terulangnya bom Bali, ditambah kenaikan harga BBM, maka bukan hal aneh jika dampak tersebut akan mengganggu kelancaran pengembangan pariwisata. Apalagi masalah keamanan bagi pariwisata adalah vital. Pemerintah ke depan harus mengembalikan kepercayaan masyarakat jika pariwisata ingin kembali bergairah," kata Elly.

Jadi, bagaimana dengan tahun 2006? Kita tentu semua berharap keadaan lebih baik. Lebih banyak lagi wisatawan asing yang datang ke Indonesia, tanpa dibatasi ketakutan, keraguan, dan travel warning.

Sementara itu, wisatawan domestik juga harus terus ditumbuhkembangkan. Selain membantu pengembangan pariwisata, dengan semakin banyaknya orang Indonesia sendiri yang mengenal daerah lainnya lewat kegiatan pariwisata, diharapkan akan tumbuh pula semangat persatuan dan rasa memiliki terhadap semua wilayah Indonesia. Semoga.

PEMBARUAN/GARDI GAZARIN


Last modified: 21/10/05