SUARA PEMBARUAN DAILY

Harga Ikan Naik

JAKARTA - Kondisi ribuan nelayan di Jakarta Utara pascakenaikan harga bahan bakar minyak makin memprihatinkan. Di antaranya, dalam seminggu jumlah kapal yang melaut hanya tiga sedang sebelumnya 40 - 60 kapal. Para nelayan itu tidak sanggup membeli solar yang harganya tinggi. Tapi, sekalipun tidak melaut mereka tetap harus membayar sewa tempat di dermaga.

Sementara itu, pasokan ikan ke sejumlah tempat pelelangan ikan (TPI) di Jakarta Utara menurun dan harga ikan pun naik 10-20 persen. Harga ikan di pasar tradisional, Rabu (19/10), naik sekitar Rp 1.000 - 2.500 per kg. Misalnya, di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, harga ikan kembung yang semula Rp 16.000 kini menjadi Rp 17.000 per kg, mujair dari Rp 8.000 menjadi Rp 9.000 per kg, bandeng dari Rp 13.500 menjadi Rp 15.000 per kg, teri basah dari Rp 6.000 menjadi Rp 7.000 per kg, selar dari Rp 10.000 menjadi Rp 12.000 per kg, cumi dari Rp 23.000 menjadi Rp 25.000 per kg.

Magfur, pemilik kapal kecil ketika ditemui Pembaruan di Kalibaru, Jakarta Utara, Selasa (18/10), mengatakan, kalau tidak pergi ke laut kami kan tidak dapat uang. ''Tapi, mau tidak mau kami harus bayar tempat untuk kapal atau perahu di dermaga," katanya.

Secara terpisah Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi DKI Jakarta H Yan M Winata Sasmita, mengatakan, kapal kecil atau berukuran 5 gross ton ke bawah harus membayar sewa tambat pelabuhan Rp 300 per 24 jam. Kapal 10-20 gross ton membayar Rp 2.000 per 24 jam, kapal 20 gross ton ke atas membayar Rp 4.000 per 24 jam.

Pinjam Uang

Magfur mengaku masih sempat mencari ikan ke laut hingga satu minggu pascakenaikan harga BBM. Tapi, karena hasilnya tidak pernah cukup untuk menutupi biaya operasional maka Magfur pun memilih menambatkan kapalnya di der- maga.

"Sekali melaut paling bisa bawa pulang uang sekitar Rp 200.000 dibagi tiga dengan anak buah kapal (ABK). Masih dipotong lagi untuk sewa kapal dari juragan dan membeli solar serta perbekalan. Paling saya bisa bawa uang paling banyak Rp 25.000 per hari. Itu juga sekarang tambah susah karena ikan makin jarang," tuturnya.

Dudung, nelayan kapal jaring cumi kecil berukuran 20 gross ton, mengatakan, dalam satu kali pelayaran yang membutuhkan waktu selama 20 hari dia harus mengeluarkan biaya operasional sekitar Rp 50,9 juta. Jumlah tersebut untuk membeli 7.000 liter solar seharga Rp 4.300 per liter, membeli es sekitar 400 balok dengan harga Rp 8.500 per balok, membayar 11 ABK sebesar Rp 20.000 per hari per orang, membeli oli dan lainnya sekitar Rp 4 juta. (Y-6)


Last modified: 19/10/05