SUARA PEMBARUAN DAILY

Cakupan PIN Polio Putaran II Mencapai 97 Persen

Dok Pembaruan/ Adi Marsiela

vaksin polio - Istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla (kiri) bersama Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (kanan), meneteskan vaksin polio kepada Salsabila (2,5 tahun) di Kompleks Masjid Al Hidayah, Kelurahan Campaka, Kecamatan Andir, Bandung, pada PIN polio putaran I.

JAKARTA - Cakupan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) polio putaran II mencapai 97 persen dari sasaran balita sebanyak 23.426.156. Persentase itu meningkat dibandingkan cakupan PIN putaran I sebanyak 95 persen. Sekalipun demikian, WHO merekomendasikan Indonesia tetap melakukan PIN polio putaran III yang direncanakan 27 November yang akan datang. Demikian keterangan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dan Dr Bardan, perwakilan WHO untuk Indonesia, Selasa (18/10) di Jakarta.

Menurut Bardan, sekalipun kasus polio sudah menurun tetapi masih ditemukan satu-dua kasus polio. Misalnya, di Lebak Banten, yang semula jumlah kasus polio tinggi, tetapi dengan imunisasi massal terbatas dan PIN polio putaran I dan II terjadi penurunan kasus.

Namun, lanjutnya, di Lebak masih ditemukan satu-dua kasus polio. Artinya, untuk Banten tidak cukup pelaksanaan PIN sebanyak dua putaran, diperlukan PIN polio putaran ketiga.

"Beberapa negara juga mengalami wabah polio dan responsnya juga sama. Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalami wabah polio. Kami merekomendasikan pemakaian vaksin polio monovalen untuk mempercepat penghentian wabah," ujar Bardan.

Cakupan Rendah

Fadilah menjelaskan, ada provinsi yang cakupannya rendah, sehingga memerlukan upaya ekstra untuk meningkatkan cakupan. Seperti Papua yang cakupannya 74,8 persen, Irian Jaya Barat 85,4 persen, Maluku Utara 88,3 persen, dan Maluku 89,6 persen. Kemungkinan faktor yang membuat cakupan imunisasi itu rendah adalah kendala geografis dan kekurangan sumber daya manusia. Namun, untuk memastikan penyebabnya akan dilakukan penelitian.

Disebutkan, untuk mencapai eradikasi polio tahun 2008, maka kemungkinan dilakukan PIN polio pada tahun 2006. Selain itu, program imunisasi rutin tetap dilaksanakan. Sampai 11 Oktober, kasus lumpuh layuh yang tercatat (belum tentu karena virus polio) ada sebanyak 1.352 anak berusia kurang dari 15 tahun.

Sedangkan situasi KLB polio sampai 13 Oktober, ada 269 anak menderita polio liar yang tersebar di 10 provinsi. Virus polio yang menyerang Indonesia memiliki angka serangan yang sangat tinggi. Dalam waktu tujuh bulan, ada 269 anak balita terserang polio dengan daerah sebaran di 35 kabupaten/kota di 10 provinsi.

Wakil Ketua Komisi Nasional Penanggulangan dan Pengkajian Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) dr Dahlan Ali Musa SpA(K) menambahkan, hasil kajian yang dilakukan pihaknya terhadap kasus-kasus yang diduga efek samping imunisasi PIN putaran II menyimpulkan bahwa KIPI yang terjadi pascaimunisasi bukan karena imunisasi. KIPI itu disebabkan hal lain yang tidak berhubungan dengan imunisasi polio. (N-4)


Last modified: 19/10/05