SUARA PEMBARUAN DAILY

Cegah KLB DBD, Masyarakat Diminta Lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk

UTUN KARTAKUSUMAH

PASIEN BALITA - Rico bin Wagino, salah seorang anak yang terserang DBD, Selasa (18/10) pagi, sementara dirawat di ruang Selasar Mawar, RSUD Pasar Rebo, Jakarta Timur. Hingga hari Selasa, jumlah pasien DBD yang dirawat di RS tersebut sebanyak 73 orang.

JAKARTA - Untuk mencegah kejadian luar biasa demam berdarah dengue (KLB DBD) masyarakat diminta melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan metode 3M (menutup, menguras, mengubur) wadah yang menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti. Masyarakat hendaknya menjadi juru pemantau jentik (jumantik) di lingkungan masing-masing.

Demikian diutarakan secara terpisah Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dan Kepala Subdirektorat Arbovirosis Departemen Kesehatan Rita Kusriastuti, Rabu (19/10) di Jakarta.

Menurut Rita, kasus DBD di berbagai daerah cenderung meningkat. Hal ini sejalan dengan musim penghujan. Di DKI Jakarta sendiri, ujarnya, ada 55 kelurahan yang masuk kategori "merah". Artinya, di kelurahan itu selama tiga minggu berturut-turut selalu ada kasus DBD.

Disebutkan, secara kumulatif sejak Januari sampai 19 Oktober jumlah kasus DBD di seluruh provinsi mencapai 52.980 kasus dengan angka kematian 711 orang.

Rita menegaskan, KLB DBD bisa dicegah bila ada kesadaran dari seluruh masyarakat untuk melaksanakan PSN. Pengasapan (fogging), bukan solusi tepat untuk pencegahan DBD. Pengasapan dilakukan bila sudah ada kasus di suatu lokasi. Tenaga kesehatan akan mencari kasus lain di sekitar tempat tinggal yang terkena DBD dan melakukan pengasapan bila ditemukan kasus lain.

"Jadi mencegah kasus DBD itu ketika kasusnya belum ada dengan PSN, bukan pengasapan. Peran masyarakat sangat diperlukan untuk memberantas sarang nyamuk," tegasnya.

Secara terpisah Fadilah menuturkan, selama masyarakat tidak peduli dengan jentik nyamuk maka selama itu pula terjadi kasus DBD. Menurutnya, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan harus memberi contoh kepada masyarakat bagaimana cara menangkap jentik di lingkungan penduduk.

Misalnya dengan memakai senter. Bila di satu rumah tangga ada satu sampai dua orang yang mencari jentik di tempat tinggalnya, maka akan semakin banyak jumantik di Indonesia.

Fadilah menambahkan, jumantik bukan tenaga honorer, melainkan masyarakat yang ikut berpartisi memantau jentik di lingkungan masing-masing.

"Kita belum terlambat mencegah KLB DBD. Tetapi kalau masyarakat tidak peduli, berarti akan terlambat," ucapnya. (N-4)


Last modified: 19/10/05