PT Pembangunan Jaya Ancol (PJA) memberikan santunan kepada 750 anak yatim piatu dari 32 yayasan yang berada di Jakarta Utara. Dalam keterangan persnya yang diterima Pembaruan, penyerahan santunan yang dirangkai dengan acara buka puasa bersama dengan jajaran manajemen dan staf PT PJA, dilaksanakan di Masjid Baiturrahman, Ancol, Senin (17/10) lalu. Menurut Dirut PT PJA, Budi Karya, kegiatan yang mengambil tema "Meningkatkan Rasa Kepedulian Sosial" ini dilaksanakan secara rutin pada setiap bulan puasa. "Ini merupakan wujud kepedulian kami kepada kaum duafa," kata Budi.
Dia menambahkan, kegiatan ini juga untuk menumbuhkembangkan Ukhuwah Islamiyah antara PT PJA dengan masyarakat. Dia mengemukakan, kepedulian sosial yang merupakan kebijakan perusahaan tersebut juga dilaksanakan dalam berbagai bentuk, di antaranya sunatan massal, sekolah rakyat, dan Ancol Sayang Lingkungan. "Semoga kegiatan-kegiatan ini memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat khususnya bagi kaum duafa." (M-16)
PEMERINTAH Kota Depok merazia para gelandangan dan pengemis (gepeng) yang memenuhi Kota Depok saat bulan puasa hingga Lebaran, Selasa (18/10). Sekitar 50 personil satpol PP, polisi, TNI beserta staf Disnakersos melakukan razia di berbagai tempat strategis di kota itu. Para gepeng, yang sebagian besar adalah pengemis, terjaring dari sejumlah pusat keramaian, di antaranya pasar, persimpangan jalan, serta stasiun-stasiun kereta api. Razia itu hanya berhasil menjaring 33 gepeng dan 14 anak jalanan, lalu mereka didata tanpa ada pembinaan.
Seperti razia di Pasar Lama Dewi Sartika, Pasar Depok Jaya, pengemis yang umumnya ibu-ibu, tak berkutik saat petugas menuntun mereka menuju truk tronton milik Satpol PP Kota Depok. Kepada mereka, diberi uang saku yang besarnya bervariasi antara Rp 10.000-Rp 15.000 per orang. Menurut sejumlah warga yang menyaksikan razia, apa yang dilakukan Pemkot Depok hanya formalitas. Dalam kenyataannya, para gepeng dan anak jalanan itu tetap akan kembali mengemis jika tidak dibina, apalagi kepada mereka diberi ongkos pulang. Kenyataannya, setelah razia usai, aksi para gepeng kembali marak di antara kepadatan lalu lintas, terutama di persimpangan jalan. (R-8)
Gara-gara sebuah mobil meledak di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (18/10) sore, lalu lintas yang melaju di jalan itu harus mengalami macet total sepanjang 1 km. Bunyi ledakan yang memekakkan telinga juga sempat membuat masyarakat sekitar panik karena menyangka ada bom yang meledak.
"Bunyinya kencang sekali, tak kalah dengan ledakan bom di depan Kedubes Australia dulu. Namun bedanya, kalau ledakan bom dulu sampai menghancurkan kaca-kaca jendela, sementara ledakan ini tidak. Tetap saja, saya dan teman-teman kantor sempat panik dan menyangka, ada bom Kuningan kedua," tutur Dwi, seorang pegawai yang berkantor di sekitar lokasi kejadian.
Ledakan ini mengakibatkan kemacetan panjang ke arah Mampang Prapatan, Jaksel. Apalagi, mobil kijang kapsul bernomor polisi B 2405 G itu meledak di depan gedung Graha Irama atau Gedung Indorama, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, tepat di jalur cepat. Para pengemudi yang melewati jalur cepat pun panik karena tiba-tiba mobil milik Budi itu meledak dan terbakar hingga hangus.
Budi mengaku kaget dengan peristiwa yang melanda mobilnya itu. Apalagi, mobil tersebut masih tergolong baru, produksi tahun 2003. sebelum meledak dan terbakar, mobil tersebut sempat mogok terlebih dulu.
"Mungkin selang injection-nya bermasalah. Ledakan sudah terjadi saat saya masih di dalam mobil. Setelah saya keluar, baru mobil terbakar hebat," tutur Budi yang mengaku pasrah dengan nasib mobilnya. (D-10)