SEHARI menjelang Ramadhan, ratusan mahasiswa, LSM dan politisi masih menggelar aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM. Namun patut disayangkan, aksi di Jakarta dan Depok telah dicoreng dengan tindakan anarkis segelintir pengunjuk rasa. Mereka membajak truk BBM yang dinilainya sebagai simbol protes dari rakyat.
Di era reformasi dan demokrasi, semua orang bebas mengeluarkan pendapat, namun yang disayangkan penyampaiannya yang seringkali tidak sesuai dengan aturan main. Mahasiswa, LSM dan bahkan politisi cenderung bersikap arogan, emosional dan tidak realistis menyikapi perbedaan.
Mereka cenderung memilih cara-cara yang bersifat menekan dalam penyelesaiannya, misalnya melalui pembentukan opini negatif, character assassination, pembajakan, membuat kerusuhan bahkan menuntut pembubaran pemerintahan melalui parlemen jalanan.
Ironis, cara-cara yang tidak proporsional dan kurang cerdas dalam aksi tanggal 4 Oktober 2005 di Bundaran HI Jakarta diikuti oleh segelintir politisi dari DPRseperti Permadi, SH, Alex Litaay dan DR. Ir Sri Bintang Pamungkas. Untuk politisi sekaliber mereka bertiga, nampaknya sudah tidak pantas apalagi ikut-ikut memprovokasi massa aksi.
Kalaupun mau "berjuang" menyampaikan aspirasinya bisa dengan cara-cara yang lebih elegan, santun dan terhormat. Toh ada lembaga DPR dan lembaga hukum lainnya yang punya kewenangan untuk "memprotes" kebijakan pemerintah yang dinilai tidak aspiratif.
Meski kebijakan soal BBM sudah dikeluarkan, namun itu bukan harga mati atau keputusan yang tidak bisa berubah. Masih ada celah dan kesempatan bagi masyarakat untuk meminta pemerintah meninjau ulang kebijakan tersebut asalkan dilakukan sesuai koridor hukum dan argumentasi yang masuk akal dan dipercaya dapat memecahkan persoalan ekonomi dan anggaran negara.
Jadi, janganlah melakukan aksi yang provokatif, anarkis dan merusak. Kasihan hidup rakyat sudah sulit akibat kenaikan harga BBM, jangan lagi dibebani oleh ulah pengunjuk rasa yang sering mengakibatkan kemacetan dan keributan massal.
Della R Subardono
Jl Gorda No 51 Lubang Buaya, Jaktim
Setahun Tanpa Perubahan
PERUBAHAN, itulah janji selama masa kampanye. Karena janji itulah sebagian besar masyarakat jadi tertarik dan punya harapan akan datangnya perubahan yang lebih baik.
Katanya, angka pengangguran akan dikurangi. Kenyataannya PHK ribuan karyawan terjadi di mana-mana, pengangguran bertambah. Janjinya, pendapatan per kapita akan naik 200 persen dalam waktu lima tahun atau 40 persen dalam waktu satu tahun. Faktanya, pendapatan dan daya beli masyarakat malahan anjlok.
Dulu BBM bisa dibeli tanpa harus antri, sekarang harus antri berjam-jam dan itupun dibatasi. Sebelumnya, masyarakat bisa menikmati tayangan TV dan siaran radio 24 jam. Di era perubahan justru jam tayang dan siaran justru dibatasi.
Pemerintah berjanji, sesudah kenaikan BBM pada Maret 2005 dijamin tak ada kenaikan lagi pada tahun yang sama. Ternyata, BBM naik lagi dengan persentase yang lebih besar. Katanya pula, masalah Aceh akan diselesaikan secara baik-baik.
Nyatanya, MoU yang ditandatangani menabrak banyak UU. Kegiatan pemberantasan korupsi pun belum memasukkan satupun koruptor ke Nusakambangan (yang terjadi adalah memindahkan koruptor lama ke pulau tersebut). Penindakan judi juga terbatas pada penjudi kelas teri. Pengentasan kemiskinan juga tak terbukti, bahkan sejak BBM dinaikkan Maret, angka kemiskinan bertambah 22 juta orang.
Dr Azhari Husin dan Noordin Mohd Top belum tertangkap. Kasus Munir juga belum terungkap tuntas. Koordinasi antar menteri pun kurang baik. Semua menteri bicara sendiri-sendiri ke pers sehingga peranan Menkominfo jadi tidak jelas. Apalagi, jubir kepresidenan lebih banyak tampil di televisi sebagai bintang iklan kopi dibandingkan sebagai jubir.
Hariyanto Imadha
Jl AIS Nasution 5 Bojonegoro
Penjelasan dari BCA
SEHUBUNGAN dengan telah dimuatnya keluhan Eka Setiadi di Pembaruan tanggal 16 September 2005 dengan judul ''Halo Halo Halo BCA'', BCA sebelumnya telah memberikan penjelasan baik yang disampaikan secara lisan maupun melalui surat kepada nasabah yang bersangkutan.
Adapun penjelasan tersebut adalah Pertama, transaksi benar dilakukan dengan menggunakan kartu ATM dan PIN yang benar. Kedua, tidak ada satu data pun yang menunjang bahwa transaksi tersebut mengalami hambatan. Ketiga, pada saat transaksi berlangsung data dari mesin ATM BCA menunjukkan bahwa uang telah berhasil keluar dari mesin ATM sesuai dengan permintaan nasabah.
Evoni Barlianto
Deputy Manager
Biro Hubungan Masyarakat PT Bank Central Asia Tbk
Pembayaran CDMA Melalui ATM BCA
SEBAGAI pengguna fasilitas CDMA StarOne saya amat senang dengan adanya fasilitas pembayaran ATM BCA karena mempermudah tentunya. Namun saya sebagai salah seorang nasabah BCA Cabang Bidakara dengan No Rekening 4500005420 ketika akan mencoba fasilitas tersebut sejak 6 Oktober 2005 dikecewakan dengan selalu gagal melakukan pembayaran, padahal saldo mencukupi. Begitu saya klik layanan pembayaran StarOne kata-kata yang keluar selalu ''Maaf untuk sementara layanan ini tidak dapat diproses''.
Saya sudah melaporkan beberapa kali ke layanan pelanggan BCA namun sampai saya menulis surat pembaca ini belum ada penanganan yang berarti dari BCA. Begitu saya hubungi bagian layanan StarOne mengatakan hal itu menjadi tanggung jawab BCA.
Kuspinasti
Mampang Prapatan IV/62
Jakarta