SUARA PEMBARUAN DAILY

Diplomasi

Suara Allah atau Ambisi Kaisar?

Josef P Widyatmadja

EMPAT puluh tahun lalu, setelah peristiwa berdarah 1965 para mahasiswa, pelajar, dan pemuda yang tergabung dalam berbagai kesatuan aksi berdemonstrasi menuntut Presiden Soekarno meletakkan jabatan dan diadili. Seorang tokoh nasional berkata: "Suara rakyat adalah suara Allah: Voix Populaire pour Voix De".

Apakah suara rakyat identik dengan suara Allah? Apakah setiap demo di jalanan yang disponsori pihak tertentu, pemilu yang dimenangkan secara curang, bisa dianggap suara Allah? Perdebatan tentang suara dan kehendak Allah bukan suatu masalah sederhana.

Pengalaman dan keyakinan seseorang secara pribadi sering menjadi latar belakang bahwa seseorang meyakini dirinya menjalankan kehendak Allah. Pengalaman dan keyakinan seseorang tak bisa dijadikan pegangan dan berlaku untuk semua orang dan peristiwa.

Di Yogyakarta empat puluh tahun lalu, sebelum sese- orang diterima sebagai mahasiswa perguruan tinggi teologi, ia harus menjalani wawancara penyaringan di hadapan para dosen. Suatu ketika seorang dosen bertanya kepada salah seorang calon mahasiswa, "Apakah saudara merasa dipanggil Allah untuk belajar teologi di sini?"

Mahasiswa itu menjawab, "Ya, saya merasa dipanggil oleh Allah untuk kuliah di tempat ini. Saya yakin Allah memanggil saya sebab itu saya memutuskan mendaftar di tempat ini."

"Bagus," ujar dosen penguji itu. Kemudian giliran mahasiswa kedua untuk memberikan jawaban kepada sang dosen.

Ia menjawab sebagai berikut, "Saya tidak tahu kalau Allah memanggil saya atau tidak. Karena saya belum pernah mendengar suara Allah memanggil saya seperti Allah berkata kepada nabi-nabi-Nya dalam Kitab Suci. Saya belum pernah bermimpi, bertemu atau mendengar suara langsung dari Allah bahwa Allah menyuruh saya belajar teo- logi."

Dosen penguji kemudian bertanya lebih lanjut, "Lalu untuk apa saudara mendaftar di tempat ini? Bukankah lebih baik Anda kuliah di tempat lain?"

Lalu jawab mahasiswa itu, " Karena saya berminat untuk belajar teologi supaya saya bisa bekerja di gereja Tuhan setelah selesai pendidikan. Entah saya dipanggil oleh Allah atau tidak, saya tidak tahu karena hanya Allah yang tahu. Saya tidak bisa berbohong pada diri sendiri atau berbohong pada bapak dalam soal panggilan Allah kepada saya."

Akhirnya kedua mahasiswa itu diterima di perguruan teologi tersebut. Tetapi di kemudian hari, mahasiswa pertama gagal studinya karena persoalan pribadi, sedangkan yang kedua menyelesaikan studinya dan melayani lembaga gereja sampai kini.

Keyakinan seseorang beriman bahwa ia dipanggil oleh Allah untuk menjalankan suatu keputusan tertentu bisa salah karena ia berasumsi bahwa Allah akan menuruti keputusan dan tindakannya. Kehendak Allah merupakan misteri dalam kehidupan.

Panggilan dan kehendak Allah sulit dimengerti dengan akal manusia atau dengan bantuan ilmu yang ada. Panggilan Allah hanya bisa dirasakan ketika waktu telah berlalu.

Manusia tidak boleh mengindentikkan kehendak hatinya sama dengan kehendak Allah. Itu berbahaya dan bisa berakibat menurunkan kesucian Allah dan bisa dianggap telah mempermainkan Allah.

Tidak salah ketika se- orang Muslim ingin melakukan sesuatu keputusan dan tindakan ia berucap, "Insya Allah. Jika Allah menghendaki." Sedangkan bagi orang Kristen ketika ia harus meminta sesuatu yang terjadi pada dirinya ia hanya bisa berucap, "Jadilah kehendak-Mu bukan kehendakku."

Kehendak dan niat seseorang harus diuji, apakah itu kehendak Allah atau merupakan kalkulasi pribadi dan politik. Kehendak Allah atau bukan hanya bisa dibuktikan oleh waktu dan perkembangan sejarah di kemudian hari. Bukan ditentukan ketika pernyataan itu dilontarkan dan diyakini oleh seseorang.

Kehendak Allah?

Dua minggu lalu BBC baru saja memberitakan bahwa menurut pengakuan Nabil Shaath, Menteri Luar Negeri Palestina, pada Juni 2003 Presiden George Bush berkata kepada pemimpin Palestina bahwa Allah memerintahkan dia untuk menginvasi Irak dan Afghanistan.

Ujar Allah kepada Bush, "George, go and fight those terrorist in Afghanistan." Dan, saya ( Bush) melaksanakan perintah itu, kemudian Allah juga berkata kepada saya, "George, go and end the tyranny in Iraq and I did".

Kalau pengakuan Nabil Shaath itu benar, ucapan dan tindakan Bush sangat berbahaya. Ucapan dan keyakinan Bush akan menimbulkan dampak negatif bagi hubungan antar-agama dan ucapan itu mengecilkan peran Allah sebagai Pencipta kehidupan. Mengapa? Ucapan Bush telah mencampurkan keyakinan iman dengan kalkulasi politik dan ekonomi.

Dalam pemikiran orang Muslim, Allah George Bush adalah Allah agama Kristen, sedangkan sebagian besar orang Irak dan Afghanistan, mempercayai Allah sesuai dengan ajaran Islam. Bisa menimbulkan kesan bahwa invasi di Irak adalah invasi dari Allah orang Kristen (Allahnya George Bush) untuk menaklukkan Allah orang Irak yang Muslim.

Perang Irak bukan perang antara dua sosok Allah tapi perang kerakusan dan imperial dari suatu negeri super power. Sebagian besar suara rakyat di dunia termasuk umat Muslim dan Kristen di dunia tidak menolak dan menentang invasi Amerika di Irak.

Sangat diragukan bahwa Allah memerintahkan Bush untuk menyerang suatu negara yang tidak memiliki senjata pemunah massa. Orang bisa berpikir dan bertanya dan mengambil kesimpulan sendiri, apakah Bush berbohong atau tidak.

Dalam soal senjata pemunah massa, Bush telah membohongi dunia dengan mengatakan bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemunah bersenjata (WMD), atau Saddam Hussein terlibat dalam peristiwa 911 dan jaringan Al Qaeda.

Kini, sekali lagi orang akan berpikir bahwa Bush membohongi dunia dengan menggunakan nama Allah untuk membenarkan ambisi kekaisaran. Teologi dan iman Bush dikuasai oleh pemikiran Kristen fundamentalist/ konservatif yang ingin menggunakan ayat-ayat Perjanjian Lama untuk menyerang pihak lain demi memperluas pengaruh ekonomi, politik dan kebudayaan.

Bisa juga dikatakan bahwa Bush menempatkan diri seperti kaisar Konstantin Agung pada abad ke empat yang merasa dipanggil oleh Allah untuk menyerang musuh-musuh politiknya. Para penasihat politik Bush dikuasai oleh nafsu untuk membangun Pax Romana zaman kini, di mana kekuasaan imperial Amerika mendapat mandat dari Allah untuk mengatur dunia dibawah Amerika.

Bush telah menyalahgunakan Allah dan agama untuk kepentingan politik dan ekonomi Amerika. Perilaku Bush juga bisa terjadi di tempat lain termasuk di Indonesia. Orang bisa saja menggunakan atau atas nama Allah dan Kitab Suci untuk memperuncing perbedaan agama, penutupan dan perusakan rumah ibadah, pengekangan kebebasan beragama, melakukan kekerasan demi untuk kepentingan politik dan ekonomi suatu golongan.

Berbeda

Pemimpin nomor satu gereja Katolik Paus Yohanes Paulus II pernah berkomentar tentang perang Irak sebagai berikut, "A war would be a defeat for humanity and would be neither morally nor legally justified."

Selanjutnya pesan Paus kepada Presiden Bush, "Ini perang yang tak adil. Invasi dari Irak merupakan suatu kejahatan." Dunia bisa bertanya, apakah invasi Irak ini kehendak Allah atau kejahatan kaisar?

Sehubungan dengan kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh pemerintah, Aa Gym memuat iklan di berapa media yang memberikan dukungan kenaikan BBM yang dilakukan oleh pemerintah. Spontan saja masyarakat luas memberikan kritik pada iklan itu.

Kritik masyarakat tidak dibiarkan berlalu dari telinga pengkhotbah kondang itu. Dengan segera Aa Gym mencabut kembali isi iklan itu. Suatu tindakan yang terpuji dari seorang tokoh masyarakat. Tokoh dan lembaga pemerintah dan agama perlu belajar dari jiwa besar Aa Gym.

Suatu peraturan pemerintah dan fatwa majelis agama yang tidak menyejahterakan rakyat, perlu dicabut dan diperbaharui. Penjabat pemerintah dan tokoh agama tidak perlu malu mengoreksi kesalahan atas apa yang dilakukan. Hanya dengan cara berani mengakui dan mengoreksi kesalahan, orang beriman bisa mengenal kehendak Allah.

Manusia perlu berinteraksi dengan sesamanya dan membuka mata kejadian di sekitar kehidupan supaya seseorang dapat mengenal kehendak Allah. Bencana alam merupakan fenomena biasa yang bisa dijelaskan dengan gejala alam dan tindakan manusia. Tapi, Allah pun bisa menyapa manusia melalui peristiwa sejarah dan kejadian alam seperti bencana tsunami, badai New Orleans dan yang terakhir gempa bumi di Asia Selatan.

Sangat payah kalau para pemimpin politik dan agama, bukan saja tak mampu membaca tanda-tanda zaman dan kemurkaan alam, tapi juga menutup mata dan telinga terhadap jeritan orang yang menderita karena ketidakadilan.

Suatu bangsa tidak mungkin menjadi bangsa yang besar kalau bangsa itu di pimpin orang yang tak bersedia mengoreksi kesalahan yang dilakukannya. Lebih baik mengoreksi dari pada melestarikan kesalahan bukan? *

Penulis adalah pemerhati masalah internasional


Last modified: 19/10/05