SUARA PEMBARUAN DAILY

Puisi Pandapotan MT Siallagan

fragmen kamar 1

mataku bertanya pada silau lampu,

"apakah kau pernah punya cita-cita?"

tapi lenguh jam dinding buru-buru meludahkan sebuah kado

"upeti dari malam," katanya

hatiku berdebar-debar menyingkap hadiah itu

astaga! hening dan sunyi tercincang-cincang di situ

dadaku kaget menyaksikan kematian yang asing itu

tapi lenguh jam melemparkan lagi sebuah kado dengan buru-buru

"undangan bercinta dari malam," katanya

jantungku terombang-ambing membuka hadiah itu

seikat bait di dalamnya menyeringai,

"kau tahu akhirnya, lampu memang keji, pembunuh sunyi."

maka kubunuh lampu

sembari anganku mendengar suara isak,

"setelah mati, cita-citaku adalah hidup"

tapi kubiarkan diriku mengawang dalam kelam

sebab siang adalah suara-suara gelap

dalam lembaran mimpi setiap pemabuk

Kamarpilu, Pekanbaru, 2005

*

fragmen kamar 2

jejaring lelaba menjala waktu yang beterbangan

dari detak jam. lampu yang menukangi laut cahaya

tersentak menatap sunyi mengering, serupa igauan

yang menggersangkan doa dari mulut pemabuk itu

di kamar yang mati dicekik alkohol

Kamarpilu, Pekanbaru, 2005

ziarah

seseorang mengunjungimu

mungkin seseorang yang rindu pada dirinya

kau dengar ia sesunggukan mengetuk pintu di beranda

dan kau beranjak malas dari tidurmu yang merana

membuka pintu dan menyuruh seseorang itu masuk

seseorang itu masuk

tapi kau tidak bertemu siapa-siapa

kecuali dirimu

setelah itu, kau pergi mengunjungi seseorang

mungkin seseorang yang tenggelam dalam tidur panjang

tidur panjang di sebuah tempat

tempat semua sunyi menumpuk jadi ajal riwayat

kau tertawa, sebab di pintu rumah itu terukir namamu

tawamu yang keras membangunkan seseorang itu

lalu beranjak membuka pintu

menyuruhmu masuk

kau masuk

tapi tidak kau temukan siapa-siapa

kecuali dirimu

lalu kau pergi, tidak untuk dikunjungi dan mengunjungi

kauucapkan belasungkawa kepada nisan

sebagai salam kangen bagi dunia

Kamarpilu, Pekanbaru, 2005


Last modified: 14/10/05