mataku bertanya pada silau lampu,
"apakah kau pernah punya cita-cita?"
tapi lenguh jam dinding buru-buru meludahkan sebuah kado
"upeti dari malam," katanya
hatiku berdebar-debar menyingkap hadiah itu
astaga! hening dan sunyi tercincang-cincang di situ
dadaku kaget menyaksikan kematian yang asing itu
tapi lenguh jam melemparkan lagi sebuah kado dengan buru-buru
"undangan bercinta dari malam," katanya
jantungku terombang-ambing membuka hadiah itu
seikat bait di dalamnya menyeringai,
"kau tahu akhirnya, lampu memang keji, pembunuh sunyi."
maka kubunuh lampu
sembari anganku mendengar suara isak,
"setelah mati, cita-citaku adalah hidup"
tapi kubiarkan diriku mengawang dalam kelam
sebab siang adalah suara-suara gelap
dalam lembaran mimpi setiap pemabuk
Kamarpilu, Pekanbaru, 2005
*
jejaring lelaba menjala waktu yang beterbangan
dari detak jam. lampu yang menukangi laut cahaya
tersentak menatap sunyi mengering, serupa igauan
yang menggersangkan doa dari mulut pemabuk itu
di kamar yang mati dicekik alkohol
Kamarpilu, Pekanbaru, 2005
seseorang mengunjungimu
mungkin seseorang yang rindu pada dirinya
kau dengar ia sesunggukan mengetuk pintu di beranda
dan kau beranjak malas dari tidurmu yang merana
membuka pintu dan menyuruh seseorang itu masuk
seseorang itu masuk
tapi kau tidak bertemu siapa-siapa
kecuali dirimu
setelah itu, kau pergi mengunjungi seseorang
mungkin seseorang yang tenggelam dalam tidur panjang
tidur panjang di sebuah tempat
tempat semua sunyi menumpuk jadi ajal riwayat
kau tertawa, sebab di pintu rumah itu terukir namamu
tawamu yang keras membangunkan seseorang itu
lalu beranjak membuka pintu
menyuruhmu masuk
kau masuk
tapi tidak kau temukan siapa-siapa
kecuali dirimu
lalu kau pergi, tidak untuk dikunjungi dan mengunjungi
kauucapkan belasungkawa kepada nisan
sebagai salam kangen bagi dunia
Kamarpilu, Pekanbaru, 2005