SUARA PEMBARUAN DAILY

Harga Naik, Rakyat Kian Terjepit

JAKARTA - Kenaikan harga sembako dan bahan pangan sejak BBM naik membuat rakyat dari golongan menengah ke bawah kian terjepit. Mereka yang berdagang makanan kecil-kecilan pun bingung untuk menentukan harga makanan yang mereka jual.

Siti Muhayah (40), seorang pedagang gado-gado di kawasan Condet, Jakarta Timur, misalnya,. mengaku, naiknya harga sayur mayur, kacang, cabei, gula dan bahan baku lainnya untuk membuat gado-gado naik drastis. Karena itu, dia terpaksa segera menaikkan harga jualannya. "Cabe sekarang Rp 30 ribu per kg, padahal dulu Rp 25 ribu per kg. Minyak goreng juga naik jadi Rp 5400 per kg. Belum lagi dengan harga sayuran dan buah yang naik minimal Rp 500 per kg. Kalo enggak saya naikin harga dagangan saya, bisa-bisa saya tekor dong," tuturnya kepada Pembaruan, Selasa (11/10).

Kini, Siti memutuskan untuk menjual gado-gado, rujak dan ketoprak di kedainya seharga Rp 4000, naik Rp 500 dari harga sebelumnya Rp 3500 per porsi."Selama bulan puasa, saya kan libur jualan. Nanti baru buka lagi habis Lebaran. Mudah-mudahan sih harga segitu cukup karena saya juga takut, kalau naikan harga lebih tinggi, malah enggak ada yang beli dagangan saya lagi. Tapi kalau ternyata nanti tekor, ya bingung juga saya. Mau naikkan lagi, pelanggan pasti protes. Kalau enggak naik, saya rugi," katanya.

Menaikkan harga dagangan juga dilakukan Zainab (47), pedagang kue lupis di kawasan yang sama. Jika biasanya dia menjual lupis per batang bambu Rp 6000, sekarang naik menjadi Rp 9000. Dia mengeluhkan harga bahan baku untuk dagangannya mengalami lonjakan harga cukup tinggi. "Kemarin-kemarin sih saya masih kuat, enggak naikkan harga lupis meski ketan, gula dan kelapa naik. Jadi untungnya sedikit. Lah sekarang, harga naik gila-gilaan. Kalau saya enggak naikkan harga dagangan, bisa-bisa saya malah tekor," tukasnya.

Tutup Rekening

Bertambahnya beban hidup yang dipicu oleh kenaikan harga BBM juga mengena pada pemegang kartu kredit. Seperti Tanti (42), warga Depok yang sedang mengantre di sebuah bank swasta di Jalan Margonda Raya, Depok hendak menutup rekening kartu kreditnya. "Kemarin saya juga memulangkan kembali kartu kredit Kartu Belanja Carrefour di ITC Depok. Tinggal satu saja kartu kredit yang saya pegang, untuk berjaga-jaga kalau ada keperluan mendesak dan uang kontan tidak ada", kata ibu dua anak itu, baru-baru ini.

Dengan menatap lesu, dia menambahkan, kejutan apa lagi yang akan dibuat pemerintah sehingga rakyatnya mati perlahan-lahan karena tersiksa beban hidup. "Tak ada tanda-tanda gaji naik, yang ada semua kebutuhan sudah naik, transportasi sudah naik, rasanya dada ini makin sesak. Atasan saya seenak 'udel'-nya saja nyuruh saya ke customer-customer lagi, bensin begini mahal. Bukan saja capek fisik tapi capek pikiran," katanya terus berceloteh.

Berbeda dengan Enny (35) yang berada di sebelahnya, ketika itu malah berspekulasi mencoba menggesek kartu kreditnya yang baru. "Saya pedagang grosir di Pusat Grosir Cililitan. Entah dari mana datanya tahu-tahu saya dikirimi kartu kredit bank ini. Baru kali ini saya mau pakai. Ya, karena ini menjelang Lebaran, saya coba ambil uang tunai untuk modal. Tapi ternyata mahal ya, bunganya 3,6 persen per bulan," paparnya. Lain lagi dengan Stevani (30), karyawan swasta yang tinggal di Depok Lama. Biasanya setiap awal bulan dia belanja keperluan rumah tangga sekaligus. "Sekarang, saya prioritaskan dulu yang paling penting," tuturnya. (D-10/R-8)


Last modified: 12/10/05