SUARA PEMBARUAN DAILY

Yang Lolos dari Maut

HANYA ada satu kata: mukjizat. Itulah yang dirasakan ibu dua anak, Erna Nurmawati (31), yang lolos dari maut, saat bom meledak di Kafé Menega, Jimbaran, Kuta Bali, Sabtu (1/10) malam.

Erna yang dijumpai di ruang rawat inap Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, Minggu (2/10) siang, tampak termangu merenungi nasibnya. Sesekali ia tampak menahan rasa sakit akibat luka-luka di wajahnya. Penderitaannya itu semakin bertambah-tambah dengan pendengarannya yang terganggu sesudah meledaknya "Bom Bali jilid II" di Jimbaran dan Kuta.

Beberapa kali ia minta pertanyaan diulangi lebih keras. "Maaf, saya tidak dengar. Tolong diulang lagi. Kepala saya masih sakit. Dan, maaf, kalau tidak bisa bicara keras," katanya dengan suara pelan.

Erna, datang ke Bali bersama rombongan berjumlah 36 orang dari kantornya, China International Freight (CIF), Jumat (30/9). Mereka mengikuti acara out meeting di kawasan wisata Tanah Lot. Sehari setelah pertemuan, ia bersama rekan-rekannya bersepakat pergi makan malam ke Pantai Jimbaran, tempat aneka kafé yang menyajikan menu seafood yang cukup terkenal lezat, dan lokasinya yang romantis.

"Saat ke Jimbaran, dari 36 anggota rombongan, hanya 26 orang yang memutuskan ikut. Sampai sekarang saya tidak tahu apakah semua teman saya selamat atau meninggal," katanya.

Firasat Buruk

Semua berjalan sesuai rencana pada awalnya. Namun, Erna mulai merasakan firasat buruk ketika bersama teman-temannya berfoto bersama di tempat kejadian perkara (TKP). Hasil tiga kali foto bersama menggunakan kamera digital selalu jelek, sehingga ia sempat bertanya dalam hati, ada apa ini?

Selain itu, sesaat sebelum ledakan terjadi, Erna sempat menelepon suami dan anak-anaknya di Jakarta. "Saat saya telepon, anak saya nangis dan

merengek-rengek minta supaya saya cepat pulang. Hal itu tidak biasanya, sehingga saya sempat tidak enak dan kepingin balik ke Jakarta," ujarnya.

Alhasil, tak sampai sepuluh menit setelah berbicara dengan anaknya itu, tiba-tiba terdengar ledakan yang dahsyat dan keras. "Saya tidak tahu dari mana sumber ledakan, tetapi saya yakin tidak jauh dari meja makan tempat saya memesan makanan. Saat terjadi ledakan itu saya tidak tahu apa-apa lagi dan tiba-tiba saya terbaring di sini," katanya, menunjuk ruang tempat ia menjalani rawat inap, dengan perasaan tidak percaya kalau akhirnya ia selamat.

Erna mengaku sangat ingin dirawat di Jakarta sehingga bisa dekat dengan keluarga. "Kalau dibolehkan, lebih baik saya rawat inap di Jakarta. Supaya suami dan anak-anak tidak jauh dari saya," kata Erna, yang mengaku kalau selama di Bali menginap di Hotel Oasis, Kuta.

Lain lagi yang dialami Suhardjo Kartosuwiryo, anggota DPR-RI yang lolos dari musibah karena batal ikut bersama anak, menantu, dan cucunya ke

Jimbaran. "Sebelumnya saya satu rombongan dengan mereka berlibur ke Bali. Tetapi karena ada keluarga saya yang sakit di RSUP Sanglah, saya memilih membesuk keluarga saya di rumah sakit ini, Sabtu sore," katanya.

Kendati lolos dari musibah itu, nyawa anak tercintanya, Ratih Jayanthi, tidak tertolong lagi.

Sedangkan menantunya, Matsudo Yusuke, selamat dan masih dirawat di ruang ICU RSUP Sanglah.

"Kalau ditanya sedih, saya tentu sedih karena anak saya meninggalkan saya selama-lamanya. Saya relakan kepergiannya. Mudah-mudahan mereka yang membuat anak saya meninggal akan mendapat karmanya," katanya. Malam itu juga ia mener- bangkan jenazah anaknya ke Jakarta.

Lolos Lagi

Kisah Suhardjo itu mirip dengan apa yang diceritakan Putu Alit, warga Pedungan, Denpasar, yang ditemui di RSUP Sanglah, Sabtu tengah malam.

Alit juga nyaris jadi korban Bom Bali II, setelah sempat menjadi korban pada tragedi Bom Bali I yang meledak di Legian dan Renon pada Sabtu tengah malam tanggal 12 Oktober 2002.

"Saya sebenarnya sudah janji dengan manajer Raja's Bar & Restaurant (tempat ledakan, Red) untuk urusan bisnis. Jam pertemuan berkisar antara pukul 19.30-20.00 (waktu ledakan, Red). Namun, untungnya saya lupa, karena diajak teman yang lain ke sebuah kafé di Denpasar," katanya.

Ia menuturkan, pada peristiwa Bom Bali tiga tahun lalu, ia selamat kendati mobilnya hancur-lebur.

"Saat itu saya selamat karena sempat mampir membeli celana pendek di sebuah artshop. Kalau tidak mampir saya pasti ikut jadi korban," ujarnya, sambil beberapa kali mengucapkan syukur.

PEMBARUAN/I NYOMAN MARDIKA dan CHRIS MBOEIK


Last modified: 3/10/05