SUARA PEMBARUAN DAILY

Bom Bali Belum Berdampak Terhadap Nilai Tukar Rupiah

AFP PHOTO/ ADEK BERRY

JAKARTA - Teror bom di kawasan wisata Jimbaran dan Kuta, Bali pada Sabtu lalu tidak berdampak negatif terhadap nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ).

Terbukti, sentimen negatif hanya berlangsung sesaat, yakni pada pembukaan perdagangan, IHSG melemah 17 poin. Namun berangsur-angsur menguat, dan pada pukul 11.00 WIB, indeks untuk sementara turun 1,748 poin ke posisi 1.077,527. Sementara itu, nilai tukar rupiah menguat ke kisaran Rp 10.260 per dolar Amerika Serikat (AS) dibanding akhir pekan lalu di posisi Rp 10.310 per dolar AS.

Lebih Kecil

Analis dari Quo Capital Edwin Sinaga kepada Pembaruan di Jakarta, pagi tadi, mengatakan, sentimen para investor terhadap bom Bali II relatif lebih kecil dibanding dengan bom Bali I pada Oktober 2002. ''Pada awal perdagangan indeks memang turun, tetapi sekarang tinggal turun dua poin saja. Investor kelihatannya lebih melihat upaya pemerintah melakukan pemulihan perekonomian secara keseluruhan dengan menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak) yang cukup tinggi,'' tuturnya.

Menurut dia, jika tidak terjadi bom Bali, indeks hari ini semestinya naik cukup tajam. Tetapi karena ada tragedi itu, maka kenaikannya tidak linear. Investor justru akan merespon positif jika pemerintah, khususnya kepolisian, bisa menangani dan mengungkap kasusnya lebih cepat.

Dia menambahkan, hal yang paling penting pemerintah lakukan adalah bagaimana segera mewujudkan berbagai insentif yang ditawarkan ke industri dan dunia usaha sebagai bentuk kompensasi kenaikan harga BBM.

Misalnya, rencana mendorong investasi dengan menghilangkan berbagai pungutan liar, mempercepat pengurusan izin penanaman modal dan meminimalkan penyelundupan.

Sementara itu Head of Forex Trading PT Bank Permata Tbk Suriyanto Chang mengungkapkan, nilai tukar rupiah sempat melemah di awal perdagangan hingga menyentuh Rp 10.400 per dolar AS. Tapi, dalam perkembangannya, para pelaku pasar tampaknya belajar pada tren-tren pengeboman sebelumnya seperti bom Kuningan pada September 2004. Di awal perdagangan sempat melemah, kemudian terjadi aksi ambil untung dengan melepas dolar AS, sehingga mendongkrak nilai rupiah.

''Kelihatannya ada aksi profit taking (ambil untung), sehingga rupiah kembali menguat. Dalam beberapa hari ini rupiah akan stabil di kisaran 10.200 hingga 10.300 per dolar AS,'' ujarnya. (B-15)


Last modified: 3/10/05