
Pembaruan/Alex Suban
PERSIAPAN NGABEN - Seorang ibu mempersiapkan wadah abu jenazah untuk almarhum I Gusti Ketut Sudana, pelayan di kafe Rajas yang tewas saat ledakan bom di Kuta, Bali, Sabtu (1/10) malam. Ngaben akan dilakukan Senin (3/10) di rumah duka, Tuban, Kuta Bali.
DENPASAR - Sampai Senin (3/10) siang tidak tampak eksodus besar-besaran wisatawan mancanegara dari Bali pascatragedi Bom Bali II, Sabtu (1/10) malam. Arus kunjungan wisatawan baik yang datang maupun pulang masih dalam posisi normal dan berimbang.
''Sampai sekarang kami belum menerima informasi atau masukan dari pihak hotel yang tamunya tiba-tiba ingin pulang ke negaranya karena tragedi bom kedua ini. Kalau ada yang kembali ke negaranya karena memang masa liburannya sudah habis," ujar Kepala Dinas Pariwisata Bali Drs Gde Nurjaya MM kepada Pembaruan, Senin (3/10) siang.
Dikatakan, begitu terjadi peristiwa bom pihaknya langsung menghubungi komponen pariwisata untuk menyatukan persepsi dalam mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Termasuk kekhawatiran akan terjadi eksodus besar-besaran, seperti ketika kasus bom pertama 12 Oktober 2002. Pada saat itu Bandara Internasional Ngurah Rai penuh dengan penumpang yang pulang ke negara masing-masing.
Pendapat yang sama disampaikan Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Ir Tjok Raka Sukawati MSi yang ditemui secara terpisah. Pihaknya belum menerima laporan turis mancanegara pulang ke negaranya akibat takut.
Tetap Berlibur
Pihak hotel di Bali melaporkan kalau tamunya masih tetap berlibur sesuai dengan jadwal mereka. Kecuali, para korban bom warga asing, yang sempat dirawat di RSUP Sanglah, yang memilih balik untuk dirawat di negaranya.
''Kondisi ini besar pengaruhnya karena masyarakat di daerah pariwisata ini termasuk turis mancanegara tidak panik. Termasuk juga aparat keamanan, masyarakat dan para medis cepat mengambil tindakan untuk memberikan pelayanan kepada para korban," tegas Tjok Raka.
Nurjaya menambahkan, data Imigrasi Ngurah Rai, Senin, menunjukkan jumlah kedatangan turis mancanegara 991 orang sedangkan keberangkatan 1.235 orang. Sedang jumlah arus kunjungan selama September 2005 sebanyak 125.187 orang, meningkat dibandingkan dengan bulan yang sama tahun 2004 sebanyak 110.399.

Mantan Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali itu juga mengatakan, memang ada laporan melalui faksimail yang membatalkan kunjungan ke Bali pascabom Bali II, tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak, satu atau dua orang.
Arus penerbangan di Bandara Ngurah Internasional Ngurah Rai, Tuban, Senin, berlangsung normal seperti hari-hari biasa. Tidak ada penambahan pesawat yang terbang ke luar negeri akibat eksodus seperti halnya ke Australia dan Jepang yang warganya paling banyak berlibur di Bali.
Hal serupa juga terlihat di sepanjang pantai Kuta yang padat dikunjungi turis terutama asal Australia dan Asia. Mereka seolah-olah tidak terpengaruh akibat bom Bali II sehingga tetap saja berenang dan berjemur di pasir Pantai Kuta.
Bom Bunuh Diri
Kapolda Bali Irjen Pol Made Mangku Pastika menolak berspekulasi soal keterkaitan serangan Bom Bali II dengan aksi serupa sebelumnya. Namun, dia memastikan, peledakan bom di Bali, Sabtu malam, di Jimbaran dan Kuta, adalah bom bunuh diri
"Semua kemungkinan tengah diselidiki. Terlalu dini mengaitkan bom kali ini dengan bom lainnya. Begitu pula dengan jaringan pelakunya," kata Made Mangku kepada wartawan di Media Center Hotel Inna Beach Kuta, Bali, Minggu malam.
Kepastian aksi itu adalah bom bunuh diri diperoleh melalui metode investigasi kejahatan secara ilmiah. Pertama, analisis terhadap tiga potongan tubuh yang hancur di bagian tengah dan potongan kepala yang terlempar jauh dari tubuhnya, serta bahan peledak yang menempel pada potongan tubuh. Kedua, penelitian serpihan-serpihan yang diperkirakan wadah bom. ''Sejauh ini wadah bom itu belum bisa dipastikan, apakah tas atau jaket,'' katanya.
Ketiga, rekaman video kamerawan amatir yang berlibur di Bali bersama keluarganya. Rekaman yang memperlihatkan gerak-gerik pelaku di Raja's Bar & Restaurant itu telah diserahkan ke polisi.
Pada kesempatan tersebut Kapolda meluruskan sejumlah kesimpang-siuran soal jumlah bom yang meledak Sabtu malam lalu. "Hanya tiga ledakan bom bunuh diri. Dua di Jimbaran dan satu di Kuta. Ledakan pertama terjadi pukul 19.40 di Kafe Menega, kemudian di Kafe Nyoman pukul 19.41, dan terakhir di Raja's Bar & Restaurant, Kuta pukul 19.45.
Ia membantah informasi adanya tiga bom yang tidak meledak. "Tidak ada bom lagi, yang ada hanya benda yang dicurigai sebagai bom dan setelah diledakkan dipastikan bahwa bukan bom," tegasnya.
Kapolda mengatakan, dari penyelidikan sejauh ini bom yang meledak tergolong high explosive dengan bahan dasar TNT (trinitrotoluene).
Evakuasi
Sehari setelah pengeboman itu, terjadi evakuasi besar-besaran dari para korban yang dirawat di RSUP Sanglah, terutama warga asing dari Australia dan Korea. Delapan warga Australia yang dirawat di Burn Unit RSUP Sanglah langsung dibawa ke Australia. Mereka adalah Terrie Fitzgerald (40 tahun), Toni Purkess (40), Eric Pilar (55), Jenny Pilar (46), Jenny Scott (47), Maryam Purkess (43), Nicollas Scott (46), dan Penelope Gladys Anilich (58). Hari Sabtu dua warga Australia lebih dulu dievakuasi ke Singapura, yakni Paul Anilich (60) dan Bruce Williamson.
Sedangkan korban dari Korea yang dievakuasi ke negaranya dengan menumpang Korea Air Line adalah Cho Song Mi (29), Chun Yin Chinha (29), Chung Sung Ae (29), dan Kim Mi Yang. Mereka sebelumnya dirawat di RSUP Sanglah.
Menkes Siti Fadilah mengatakan, seluruh logistik untuk korban yang dirawat di RSUP Sanglah ditanggulangi pemerintah daerah. Biaya pengobatan korban bom Bali semuanya gratis dan ditalangi pemerintah daerah. Pemerintan pusat tetap menyiapkan anggaran kalau memang dibutuhkan.
Data dari Posko Relawan di RSUP Sanglah, menyebutkan, total korban Bom Bali II di Jimbaran dan Kuta 148 orang. Dari seluruh korban tersebut 26 orang meninggal dunia, 47 sudah pulang, dan 75 masih dirawat.
Dari 26 korban yang meninggal, 16 sudah teridentifikasi dan 10 belum teridentifikasi. Sebanyak 16 korban yang teridentifikasi antara lain, Akiyo Kawasaki (Jepang), Brandon Fitgerald (Australia), sisanya dari Indonesia yakni Arthur Kevino, Teuku Dafansyah, Darmawan, Edwin Sindu, Ely Sunarto, Eny, Gusti Ketut Sudana, Kojarwati, Mega, Mien Darmawan, Ratih Jayanthi, Veny, Wayan Sudika, dan Yuni Trisnawati.
Razia
Jajaran Polda Jawa Timur menggelar razia besar-besaran guna mengantisipasi kemungkinan kaburnya rekan-rekan pelaku peledakan bom Bali ke Jatim, Minggu (2/10) dini hari. Razia dilakukan setelah diperoleh informasi dari Mabes Polri dan Polda Bali bahwa kemungkinan pelaku melarikan diri ke Lombok atau Jatim.
Operasi itu dititikberatkan di bandara, pelabuhan penyeberangan, dan daerah pantai tertentu yang dicurigai, kata Kapolda Jatim Irjen Pol Eddy Sunarno yang dikonfirmasi wartawan melalui Kepala Biro Humas Kombespol Endro Wardoyo, Senin (3/10) pagi.
Sejak Minggu pagi, semua jenis kendaraan bermotor termasuk mobil niaga seperti truk boks, dirazia. Para petugas Polres/Polresta dan Polsek/Polsekta juga mengimbau seluruh warga agar ikut membantu mencari jejak orang-orang dan kendaraan yang mencurigakan dengan cara melapor ke petugas polisi terdekat. Bantuan aktif masyarakat akan mempercepat identifikasi pelaku selain ketiga tersangka yang bunuh diri. Namun, sampai sekarang belum diterima laporan tentang ditangkapnya tersangka," tambah Endro.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, pemerintah akan melakukan langkah-langkah cepat dan tepat dalam menyelidiki tragedi Bom Bali II, untuk menemukan pelaku serta menyeretnya ke pengadilan agar mendapat hukuman setimpal, seperti yang telah dilakukan sebelumnya.
''Pemerintah mengutuk keras aksi pengeboman yang tidak berperikemanusiaan ini, yang tidak saja menimbulkan korban jiwa dan harta benda, tapi juga mencoreng nama baik bangsa, mengganggu tatanan sosial dan keamanan serta perekonomian kita," ujar Presiden dalam jumpa pers mendadak di Media Center Bom Bali II di Hotel Inna Kuta Beach, Minggu sore, yang digelar di sela-sela peninjauannya di lokasi bom dan mengunjungi para korban di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. (137/M-12/070)