SUARA PEMBARUAN DAILY

Presiden dan Bahasa Inggris

KETIKA menjadi Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) di Kabinet Gotong Royong, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mendapat penghargaan sebagai tokoh berbahasa Indonesia lisan terbaik. Penghargaan itu datang dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional bersama tujuh organisasi media massa, pada 14 Oktober 2003, atau kurang lebih dua tahun lalu.

Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, ketika itu, ditetapkan sebagai tokoh berbahasa Indonesia bersama lima tokoh lain, yakni Yusril Ihza Mahendra (Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, sekarang Mensesneg), Eep Saefulloh Fatah (pengamat politik), Nurcholish Madjid (cendekiawan Muslim, almarhum), Pradjoto (pengamat hukum perbankan), dan Richard Gozney (Duta Besar Inggris untuk Indonesia).

Pengumuman mereka sebagai tokoh berbahasa Indonesia lisan terbaik dilakukan dalam Pembukaan Kongres Bahasa Indonesia VII, di Hotel Indonesia (ketika itu), Jakarta, dan penghargaan berupa plakat diserahkan oleh Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat yang waktu itu dijabat Jusuf Kalla, mewakili Wapres Hamzah Haz.

Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono, seperti dikutip beberapa media massa, saat itu, mengatakan kriteria penilaian meliputi pilihan kata atau istilah dan struktur kalimat, penalaran, dan organisasi tuturan. Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono mewakili penerima penghargaan ketika itu menyatakan, bahasa Indonesia bukan saja harus dilestarikan dan diberdayakan, tetapi juga diletakkan dalam proses kehidupan bangsa yang dinamis.

Itu cerita dua tahun lalu. Saat ini Menko Polkam itu telah menjadi Presiden dan dikenal dengan panggilan Presiden Yudhoyono. Tetap bagus dalam bertutur dalam bahasa Indonesia, apalagi ditambah "gaya" yang memang disiapkan sejak masa kampanye, tentu pas ketika berbicara.

Misalnya kalau memang harus mengangkat tangan atau melihat lawan (lebih enak dengan sebutan "kawan" sebenarnya) bicara. Yang jelas body language benar-benar diatur dan harus diakui, melihat, mendengar Presiden Yudhoyono berpidato, mengundang daya tarik tersendiri, setidaknya ingat kampanye menghadapi Pilpres.

Pertemuan Forum Rektor

Kalau pun ada yang berbeda dari Susilo Bambang Yudhoyono, antara Menko Polkam dan Presiden Republik Indonesia, hal itu terlihat dari penggunaan bahasa Inggris yang makin hari makin sering diucapkan. Pada pertemuan dengan Forum Rektor, Rabu (28/9) siang, di Istana Negara, misalnya, dalam pidatonya Presiden -sebelum dialog yang dinyatakan tertutup bagi wartawan - banyak sekali menggunakan bahasa Inggris. Padahal kalau pun diindonesiakan, rasanya tidak sulit-sulit amat.

Di situ Presiden berbicara tentang subsidi BBM yang mau tidak mau harus dikurangi, selain menceritakan perjalanannya ke New York, sekitar dua pekan lalu. Ia, misalnya, mengatakan, "Saya juga banyak menghabiskan waktu untuk talk direct to the people." Atau ketika membicarakan tentang harga minyak dunia, Presiden mengatakan, "Soal minyak ini tidak ada yang tidak headache."

Lalu soal unjuk rasa, Presiden mengatakan, "That's democracy." "I know beban rakyat, I know the step of there economic." Dan soal pengambilan keputusan menaikkan harga BBM, dikatakannya, "Bukan berani atau tidak berani, terlambat atau tidak terlambat ambil keputusan, but before I made decision harus sudah diolah semuanya, economic factor-nya, social security political impact-nya. That all the consideration that have to made by me."

Soal pilihan pengambilan keputusan Presiden mengatakan ada dua pilihan, "Doing nothing policy atau doing something policy." Presiden menyatakan memilih doing something policy, dengan segala konsekuensinya. Namun ia menegaskan, yang dilakukan bukan mencabut subsidi, karena itu "just impossible", yang dilakukan hanyalah to reduce subsidy.

Ketika berbicara tentang agenda pemerintahan pascareformasi, Presiden Yudhoyono juga banyak menggunakan bahasa Inggris yang langsung digabung dengan bahasa Indonesia dalam satu kalimat. Misalnya, "Kita berada di situ, you are player, jadi kalau reformasi ini membuahkan hasil, I have to be thank you to you all, karena semua ikut berperan, tapi kalau ada kurang-kurang, we have realize pada masalah-masalah yang ada pada kita."

Presiden mohon doa restu agar "Bringing building a good government fighting corruption, building some legal frame work."

Tentang perjalanan ke New York, Presiden "melaporkan", "I good understand bahwa yang dipikirkan kami semua, world leader, di bidang politik itu bagaimana tata dunia baru menjadi lebih adil, representing semua kepentingan, listening to the bond of the people all the world. Maka ada reformasi PBB. We are all concern with yang disebut MDGs."

Dan begitulah, dalam pidato sekitar 30 menit itu, banyak sekali menggunakan bahasa Inggris yang langsung di-mixing dengan bahasa Indonesia. Barangkali memang sah-sah saja menggunakan dua bahasa sekaligus. Yang jelas, di antara peserta dialog itu, tentu saja rektor juga, yang duduk di bagian belakang dan dekat dengan wartawan, ada yang nyeletuk, "Apa sih yang diomongkan ini, kok banyak pakai istilah asingnya."

Namun rektor itu kaget ketika diingatkan rekan di sampingnya, "Ada wartawan lho." Wartawan sendiri yang melihat langsung adegan kecil itu hanya tersenyum dan bilang, "Bahasa Inggris bukan bahasa asing kok Pak, hanya kalau nggak pas penggunaannya jadi aneh, bukan asing."

PEMBARUAN/YW NUGROHO


Last modified: 3/10/05