SUARA PEMBARUAN DAILY

"Multiwell Method" untuk Mengatasi Tuberkulosis dengan Lebih Cepat

Istimewa - Penderita Tuberkulosis sedang menjalani rontgen

YOGYAKARTA - Penelitian dan pengembangan obat dan peralatan medis harus didorong memasuki industri dalam negeri, terutama yang selama ini bergantung pada komoditas impor. Hal ini menjadi sangat penting mengingat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dapat membuat harga obat dan peralatan medis impor melambung tinggi. Sementara sejumlah penyakit, seperti tuberkulosis (TB, dulu singkatan yang digunakan TBC), selain membutuhkan waktu penyembuhan yang lama, pasien juga sangat bergantung kepada variasi obat dan resistensi bakteri tehadap obat yang dikonsumsi.

Hal tersebut diutarakan peneliti di Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Yeva Rosana MS SpMK yang ditemui Pembaruan pada acara "Open Science Meeting II" yang berlangsung selama tiga hari di Yogyakarta, 27-29 September 2005.

"Kita sudah antisipasi dengan kenaikan BBM. Saat ini sudah ada perusahaan yang sedang menjajaki dan menghitung. Kalau kita bisa buat sendiri plate yang dibutuhkan untuk mengamati bakteri (Mycobacterium Tubercolosis) tentu harganya akan murah. Saat ini, kita sedang mencari bahan-bahan yang harganya tinggi untuk dibuat di Indonesia," kata Rosana.

Pengobatan terhadap penderita TB, menurut Rosana, memerlukan waktu berbulan-bulan karena penentuan obat yang tepat memerlukan pengujian terlebih dahulu. Caranya, dengan mengambil spesimen bakteri yang ada di tubuh pasien, kemudian ditanamkan pada sebuah plate dan diberi protein (Albumine). Bakteri ini terus diamati perkembangannya sehingga bisa diketahui kekuatannya.

Selama ini ada empat bentuk pengujian daya tahan bakteri terhadap obat (drug sensitivity testing/DST), yaitu Radiometer (mengukur CO2 yang dihasilkan bakteri yang ditanam di protein), absolute concentration (menggunakan konsentrasi obat yang rendah), resistance rate, dan proportion.

Melihat jumlah penderita dan lamanya pengobatan, maka keempat metode tersebut perlu dipercepat agar pengobatan pasien bisa ditanggulangi dengan waktu yang lebih singkat. Dengan demikian, biaya berobat pun menjadi relatif lebih murah.

Rosana menegaskan, pihaknya sedang mengembangkan satu metode DST yang lebih cepat dan lebih murah yang dikenal sebagai multiwell method. Metode ini lebih cepat karena memiliki 25 plate untuk mengembangkan spesimen bakteri yang akan diuji secara bersamaan. Metode ini didukung dengan peralatan mikroskopik Middlebrook's 7H10 yang dapat memantau pengujian enam jenis obat untuk spesimen bakteri yang bervariasi.

Selain itu, peralatan ini mampu memelihara bakteri lebih baik sehingga mempunyai masa inkubasi lebih singkat, 1-2 minggu. Dengan demikian, bakteri yang dikembangkan lebih cepat diuji sifat resistensinya terhadap berbagai macam dan kadar obat. Sementara metode lainnya, semuanya menggunakan satu tabung untuk enam obat anti-TB. Masa inkubasi bakteri pun lebih lambat yakni 3-6 minggu.

Meski terbilang murah dibanding metode lainnya, Rosana mengakui biaya perawatan pasien tetap akan relatif mahal. Pasalnya, bahan-bahan pengujian DST masih menggunakan Albumin dan platic plate yang diimpor dari luar negeri. Biaya pemanfaatan Albumin mencapai US$ 5 per plate. Padahal untuk pengujian dalam menentukan obat bagi pasien membutuhkan banyak plate.

Data Penderita

Hingga saat ini belum ada data akurat tentang jumlah pasien TB di Indonesia. Hal ini, antara lain karena pasien yang berobat belum semua terdata dan tidak semua pasien mau berobat sampai tuntas.Mengutip data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2004, Rosana mengatakan, diperkirakan hanya 35 persen saja pasien TB di Indonesia yang terdeteksi.

Dari jumlah itu, hanya 30 persen saja yang sudah ditangani secara medis. Padahal, pertumbuhan penderita TB di Indonesia tergolong besar, yakni sebanyak 262.000 penderita per tahun. Bakteri pada pasien kambuhan dan yang malas berobat bisa mengalami mutasi genetic, sehingga tahan (resisten) terhadap satu atau lebih jenis obat.

Menurut peneliti Depatemen Patologi Klinik Universitas Padjadjaran, Bandung, Ida Parwati MD, pada pengujian DST yang dia lakukan terhadap 410 penderita TB baru dan 67 penderita kambuhan, menunjukkan angka yang cukup tinggi dari bakteri yang menjadi resisten terhadap obat. Hasilnya, sejumlah pasien baru dan kambuhan memiliki bakteri yang resisten terhadap antibiotik, seperti Amikacin, Isoniazid, Rifampicin, Para aminosalisilic acid, Ethambutol, dan Streptomicin. Resistensi rata-rata bakteri dari penderita baru mencapai 4 sampai 9 persen (empat sampai sembilan orang dari 100 pasien). Sedangkan resistansi bakteri pada penderita kambuhan berkisar 16 sampai 22 persen.

Selain itu, Ida juga mengingatkan menjangkitnya bakteri TB jenis baru yang ditemukan pada warga Negara Belanda Dick Van Sooligen. Bakteri yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotik ini ditemukan di Beijing dan diberi nama M Tuberculosis Beijing. (Y-5)


Last modified: 3/10/05