JAKARTA - Rematik tidak hanya menyerang orang tua. Orang muda pun bisa mengalami penyakit ini. Diagnosis dan pengobatan yang tepat diperlukan untuk mengatasi penyakit ini. Pasalnya, hampir semua obat rematik berisiko menimbulkan gangguan jantung.
Hal tersebut diutarakan ahli rematik dari Universitas Brawijaya Malang Profesor dr Handono Kalim dan dr Angela BM Tulaar SpRM dari RSCM dalam semiloka rematik yang berlangsung, Sabtu (1/10) di Jakarta.
Menurut Handono, saat ini obat rematik yang beredar di pasaran ada dua golongan, yaitu steroid dan nonsteroid. Obat-obat tersebut bermanfaat meredakan nyeri (anti-inflamasi).
Steroid merupakan hormon dan kerap disalahgunakan pemakaiannya, yakni dicampurkan pada obat tradisional/jamu.
Obat golongan steroid bisa menimbulkan efek moon face (wajah membengkak), perut membuncit, sementara ukuran kaki dan tangan mengecil.
Hal ini disebabkan terjadi perpindahan lemak pada tubuh, sehingga menimbulkan kegemukan sentral. Sedangkan obat nonsteroid berisiko meningkatkan gangguan jantung.
Obat rematik nonsteroid, papar Handono, ada yang bekerja secara selektif dan nonselektif. Obat rematik nonsteroid yang bekerja selektif menghambat senyawa prostaglandin di lambung.
Padahal senyawa ini berperan melindungi lambung, sehingga pemakaian obat jenis ini berisiko menimbulkan luka di lambung yang menyebabkan perdarahan lambung. Sedangkan obat rematik nonsteroid yang nonselektif bekerja dengan menghambat prostaglandin di sendi, sehingga tidak nyeri. Namun obat golongan ini berisiko menimbulkan gangguan jantung.
"Pemakaian obat rematik harus tepat dan benar, serta diawasi dokter. Dalam meresepkan obat dokter hendaknya menggunakan prinsip manfaat dan risiko yang dialami pasien. Rematik tidak selalu diatasi dengan obat. Cara pertama mengatasi rematik adalah tanpa obat-obatan dan mengurangi berat badan. Rasa sakit atau nyeri yang ditimbulkan rematik tergantung pada toleransi seseorang terhadap nyeri. Bila kuat menahan nyeri maka tidak perlu obat. Tetapi bagi mereka yang tidak tahan nyeri, barulah diberikan obat," ucap Handono.
Orang Muda
Sementara itu, Angela menyatakan hampir semua radang sendi (artritis) yang terjadi pada orang dewasa bisa juga terjadi pada anak-anak, antara lain juvenile rheumatoid arthritis (JRA), yaitu suatu kondisi kronis yang menyebabkan peradangan sendi selama enam minggu pada orang berusia 16 tahun atau kurang. JRA paling sering ditemukan pada anak-anak. JRA terdapat pada sendi kaki dan tangan.
Radang sendi lain yang menyerang orang muda adalah, osteoartritis (OA), lupus (systemic lupus erythematosus/SLE). Khusus pada anak-anak, ujarnya, nyeri sendi yang terjadi berupa growing pains dan psychogenic rheumatism. Growing pains terjadi pada anak berusia sekitar 4-5 tahun. Nyeri terjadi pada malam hari. Psychogenic rheumatism adalah nyeri sendi pada anak yang merupakan manifestasi gangguan somatisasi (gangguan kejiwaan).
Dikatakan, selain nyeri sendi, anak-anak juga mengalami nyeri pinggang kronis. Penyakit rematik yang juga menyerang anak dan usia muda adalah lupus. Penyakit ini merupakan penyakit otoimun dengan keluhan yang tidak spesifik, berupa kelelahan.
"Masalah utama adalah aktivasi nonspesifik sistem imun yang menetap dan menyebabkan deposisi kompleks imun jaringan yang meluas, menghasilkan peradangan yang merusak jaringan," ujar Angela. (N-4)