SUARA PEMBARUAN DAILY

Tarif Angkot Naik Tak Terkendali

JAKARTA - Beban hidup masyarakat Ibukota kian bertambah pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 Oktober lalu. Pasalnya, tarif angkutan umum, termasuk angkutan kota (angkot) pun sudah mulai naik tak terkendali, mendahului pengumuman resmi Pemerintah DKI Jakarta.

Aksi menaikkan tarif oleh para pengemudi angkutan umum sejak Sabtu (1/10) masih terjadi hingga Senin (3/10) ini. Alasan para pengemudi, untuk mengurangi beban pembelian BBM yang dinilai harganya cukup tinggi. Selain itu, jumlah setoran ke pemilik/pengelola angkutan umum juga sudah naik.

Di beberapa bus bahkan ada pengumuman pada secarik kertas yang isinya "Tarif Patas Naik karena BBM Naik 100 persen".

Untuk angkutan kota jenis mikrolet umumnya kenaikan berkisar Rp 500 untuk jarak dekat dan Rp 1.000 untuk jarak jauh. Misalnya, tarif angkot dari Cililitan ke Rawasari yang biasanya Rp 2.000 kini menjadi Rp 3.000.

Sementara itu, sopir Metromini berbagai jurusan di Jakarta sudah ada yang ikut menaikkan tarif, meski umumnya masih menahan diri untuk tidak menerapkan tarif baru. Beberapa sopir Metromini jurusan Kp Rambutan-Lebak Bulus ada yang sudah meminta tarif Rp 2.000 hingga Rp 2.500. Padahal tarif sebelumnya hanya Rp 1.500

Kenaikan tarif juga dilakukan beberapa pengemudi Kopaja P-16 dengan rute Tanah Abang-Ciledug. Tarif naik dari Rp 1.600 menjadi Rp 2.000.

Mayasari Bhakti juga sudah menaikkan tarif. Untuk bus Patas AC naik dari Rp 3.500 menjadi Rp 5.000, atau terjadi kenaikan sekitar 42 persen. Sedangkan untuk bus Patas Reguler naik dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.500 atau 47 persen.

Mayasari Bakti P-6 jurusan Kampung Rambutan-Grogol naik dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.500. Tarif Bus reguler PPD 46 naik dari Rp 1.200 menjadi Rp 1.500.

Patas AC 76 jurusan Senen-Ciputat dari Rp 3.500 menjadi Rp 4.000 per orang, Steady Safe PAC 73 jurusan Kampung Rambutan-Ciledug menjadi Rp 5.000 per orang.

Kenaikan tarif tidak hanya berlaku pada angkutan dalam kota, tetapi juga terjadi pada angkutan antar kota. Bus AGA dengan rute Balaraja, Banten - Tanjung Priok yang tarifnya semula Rp 7.000 hari Senin ini sudah naik menjadi Rp 9.000. Iwan, sopir bus PPD bus 213 mengatakan, mereka terpaksa menaikkan tarif. "Kalau tidak dinaikkan kita bisa bawa pulang apa. Ini saja sudah kesulitan," ujar Iwan.

Menurut salah seorang penumpang, Arifin Kosim, kenaikan ini cukup berat karena sebagai pegawai golongan kecil di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, upah tiap bulannya tidak mencukupi untuk satu sektor saja, yaitu transportasi.

Karena itu, ia berharap Pemprov DKI Jakarta segera memberlakukan tarif baru dengan konsekuensi kenaikan yang tidak terlalu tinggi. Karena kalau belum ada kepastian para pengemudi seenaknya menaikan tarif, ujar dia.

Mengenai bus-bus yang menaikan tarif secara sepihak, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Nurachman, mengancam, akan mengandangkan bahkan mencabut izin trayek.

Bogor

Kenaikan tarif juga diberlakukan oleh semua operator bus AC Bogor - Bekasi. Tarif dari Bogor hingga-UKI Cawang yang sebelumnya Rp 4.500 naik menjadi Rp 6.000. Sedangkan Bogor Bekasi naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 9.000.

Sementara tarif angkutan di dalam Kota Bogor sudah naik sejak Jumat (1/10) lalu. Untuk tarif jarak dekat naik dari tarif semula Rp 1.200 menjadi Rp 1.700. Sedangkan untuk jarak jauh dari Rp 1.500 menjadi Rp 2.200. Kenaikan tersebut atas inisiatif para pengusaha angkot mendahului pengumuman resmi pemerintah.

Sejak Minggu (2/10) tarif angkot 09 jurusan Sukasari-Warungjambu, yang semula Rp 1.200 menjadi Rp 1.700. Angkot 13 Bantarkemang- Pasar Bogor, Angkot 07 Watungjambu - Merdeka, Angkot 03 Baranangsiang-Terminal Bubulak, semuanya menaikkan tarif dari Rp 1.500 menjadi Rp 2.200.

Naiknya tarif angkutan di berbagai daerah tersebut amat sangat memberatkan masyarakat terutama masyarakat pekerja yang sehari-hari menggunakan angkutan umum. Namun mereka pun hanya bisa pasrah terhadap kenaikan sepihak tersebut.

KRL

Sementara itu, masyarakat pekerja yang bekerja di Jakarta dan berasal dari Depok, Bogor, Bekasi, dan Tangerang kian banyak yang beralih menggunakan jasa angkutan kereta api listrik (KRL). Meski kondisi pelayanannya sangat memprihatinkan, terpaksa digunakan karena moda transportasi jenis ini dianggap paling murah.

Oleh karena sejumlah pengguna KRL menghimbau pemerintah untuk memperbaiki dan memperbanyak layanan transportasi kereta api.

Kepala Dinas Lalu Lintas Angkutan dan Jalan (LLAJ) Kota Depok, Etty Suharyati menjelaskan, pemberlakuan tarif sementara angkutan kota sudah ditetapkan naik berkisar 28 persen. Hal ini diatur untuk kelancaran operasional dan menganitipasi pemogokan.

Hari Sabtu dan Minggu, beberapa angkutan mogok, seperti angkota jurusan Terminal Depok-Pasar Minggu, Terminal Depok-Kukusan, dan lain-lainnya. Penumpang mengeluh karena jarak pendek sopir tidak mau lagi menerima ongkos di bawah Rp 1.000. Sedangkan ongkos ojek naik antara Rp 500 sampai Rp 1.000.

Dalam tarif sementara itu, Etty mengatakan antara Kukusan-Terminal Depok tadinya Rp 1.500 jadi Rp 1.800, Depok-Terminal Parung dari Rp 2.500 jadi Rp 3.800. Tarif ini akan dicabut setelah wali kota menetapkan tarif resmi.

Di Tangerang, meskipun pemerintah dan Organda belum menentukan tarif resmi, tetapi pengemudi angkot yang beroperasi di wilayah ini sudah menaikkan tarif baru yang naik antara Rp 500 hingga Rp 1.000 sekali jalan.

Kenaikan ini menyebabkan penumpang banyak yang mengeluh tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena umumnya pengemudi ngotot menentukan tarif baru. Tak jarang adu mulut terjadi antara penumpang dan pengemudi.

Kenaikan itu hanya berdasarkan kesepakatan komunitas pengusaha angkot semata, belum resmi dari pemerintah Kota Tangerang.

Pantauan Pembaruan Minggu hingga Senin pagi angkot yang sudah menaikkan tarif sepihak itu terjadi di semua rute. Misalnya angkutan jurusan Cipondoh - Pasar Anyar, yang semula Rp 2.000 kini menjadi Rp 2.500 atau naik Rp 500. Tarif jauh dekat untuk penumpang umum dan pelajar menjadi Rp 1.500 dari semula Rp 1.000. "Kalau tidak dinaikkan saya makan apa," ujar Ujang sopir jurusan Cipondoh - Pasar Anyar. Hal yang sama juga dikemukakan pengemudi jurusan Binong -Lippo -Malabar juga naik.

"Saya tidak bisa mengejar setoran kalau tidak menaikkan tarif," kata Udin, sopir Malabar - Binong.

Sementara itu dihubungi terpisah, Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi (Infokom) Pemkot Tangerang, Achmad Chairudin mengatakan, pemerintah daerah setempat belum secara resmi menaikkan tarif angkutan. (132/M-16/J-9/HR/126/R-8/L-11)


Last modified: 3/10/05