JEDDAH - Negara-negara yang bergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) mengutuk serangan bom Bali II yang disebutnya sebagai serangan teroris yang bertentangan dengan ajaran dan nilai Islam.
"Tindakan teroris tidak sesuai dengan ajaran Islam dan menghancurkan nilai-nilai Islam yang dikenal dengan toleransi dan saling menghargai keberadaan setiap agama," demikian pernyataan OKI yang dikeluarkan di kantor pusat di Jeddah, seperti diberitakan The Daily Star yang terbit di Lebanon, Senin (3/10).
Sekretaris Jenderal OKI Ekmeleddin Ihsanoglu menyatakan, 57 negara anggota OKI menyampaikan solidaritas dengan Indonesia, melawan tindakan teroris yang tidak hanya menewaskan warga sipil tak berdosa tetapi juga menghancurkan citra Islam.
PM Pakistan Shaukat Aziz menyatakan, serangan kaum ekstrimis tidak mendapat dukungan karena mereka hanya menodai citra agama Islam.
Para pemimpin Muslim di Australia juga mengutuk serangan bom itu, tetapi mereka khawatir adanya serangan balasan. "Kami percaya bahwa setiap tindakan teror adalah tindakan yang jahat," kata Ketua Dewan Islam New South Wales, Ali Roude.
Sedangkan Juru Bicara Asosiasi Muslim Lebanon Abed al-Ayyoubi juga mengecam tindakan tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan sangat mengutuk keras serangan bom itu. "Dia mengirimkan pernyataan simpati mendalam kepada para korban dan khususnya pemerintah Indonesia. Dia mendesak agar aparat berwenang di Indonesia segera mengidentifikasi dan mengadili pelaku penyerangan yang sangat pengecut ini," tambah juru bicara Sekjen PBB.
Sedangkan pemerintah Malaysia berharap dua warganya yang diduga sebagai otak aksi teror itu segera ditangkap dan diadili.
Perdana Menteri Australia John Howard mengutuk pemboman itu dengan menyebutnya sebagai pembunuhan yang tidak diskriminatif. Australia mengirim tenaga kesehatan dan polisi, Inggris mengirim tim asistensi darurat dan Amerika Serikat (AS) serta Selandia Baru berjanji membantu untuk menangkap pelaku yang diduga sebanyak tiga orang, yang menewaskan 25 orang dan melukai lebih dari 100 orang.
Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo, di mana negara bagian selatan itu juga berperang melawan terorisme, berpendapat, serangan teroris muncul lagi.
Presiden Prancis Jacques Chirac melalui surat ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, "Serangan bom itu mengejutkan dan menyedihkan saya. Prancis sangat mengutuk aksi tersebut."
Seorang wanita Prancis yang tinggal di Indonesia luka-luka akibat serangan itu. Menteri Luar Negeri Jerman Joschka Fisher mencerca tindakan itu sangat tercela.
Bongkar Tuntas
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan mengutuk keras pelaku bom Bali dan menilai tindakan itu sebagai biadab, pengecut, dan tidak berperikemanusiaan. PBNU berharap polisi segera membongkar tuntas motivasi, menangkap pelaku lainnya dan jaringannya serta tidak ragu-ragu menghukum pelaku seberat-beratnya. Demikian pernyataana Ketua Umum PBNU KH A Hasyim Muzadi dan Ketua PBNU Masdar F Mas'udi, Minggu (2/10).
Dikatakan, apapun alasan yang digunakan oleh aktor intelektual pengeboman itu sama sekali tidak pernah membawa hasil perubahan apapun, apalagi mencapai tujuan yang mereka harapkan.
"Kami keluarga besar NU berdoa semoga aparat Kepolisian dapat dengan cepat menyingkap identitas pelaku, meringkus aktor intelektualnya, dan mengungkap latar belakang aksi yang sama sekali tidak mengenal peri kemanusiaan itu," ujar Kiai Hasyim, panggilan akrab KH A Hasyim Muzadi menjawab pertanyaan wartawan seusai mengikuti Haul almarhum orang tuanya H Muzadi dan Hj Rumiyati, serta almarhum H Badrud Taman, ayahanda Nyai Muthomimah Hasyim di kedimannya Pesantren Al Hikam, Kota Malang, Jawa Timur. (AP/H-12/070/Y-3/ADI/O-1)