
JAKARTA - Perbankan nasional menghadapi tekanan keras dari faktor domestik dan internasional. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan inflasi menjadi faktor domestik yang berpotensi meningkatkan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL).
Direktur Utama Bank BNI Sigit Pramono di Jakarta, akhir pekan lalu mengatakan, selama semester I tahun 2005, perkembangan perbankan cukup menggembirakan karena fungsi intermediasi menunjukkan tren positif. Tetapi memasuki semester II, tekanan terhadap industri perbankan makin keras. Saat ini, perbankan dihadapkan pada risiko kredit bermasalah.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), pada periode Januari -Mei 2005, NPL cenderung tinggi. Pada Januari 2005, kredit bermasalah mencapai nilai Rp 25,7 triliun atau (4,68 persen). Lalu berturut-turut naik pada Februari menjadi Rp 26,3 triliun (4,69 persen), Maret menjadi Rp 25 triliun (4,34 persen), April menjadi Rp 26 triliun (4,42 persen), dan Mei melonjak menjadi Rp 37,7 triliun (6,19 persen).
Dikatakan, menghadapi potensi kredit bermasalah itu, kinerja perbankan akan menurun dan menghadapi gangguan. Tekanan dari sisi eksternal seperti iklim dunia usaha dan sisi internal yakni kemampuan debitor sangat berpotensi menaikkan NPL. Sebagai upaya antisipasi, perbankan harus melakukan langkah-langkah penyehatan kredit atau peningkatan kualitas kredit.
''Pembiayaan sindikasi bakal menjadi tren. Selain itu, perbankan memerlukan konsorsium penyelesaian NPL sebagai respons pemberlakuan PBI 7/2/2005,'' katanya.
Sigit menjelaskan, depresiasi nilai tukar rupiah dan laju inflasi tahunan yang tinggi, mendorong kenaikan suku bunga SBI dan BI Rate. Konsekuensinya, perbankan akan menyesuaikan suku bunga simpanan dan suku bunga kredit.
Namun di sisi lain, persentase pinjaman yang tak tercairkan (undisbursed loan) meningkat cukup signifikan, apabila iklim ekonomi tidak kondusif. Tingginya angka undisbursed loan juga menyebabkan ekspansi kredit terganjal.
Secara lebih khusus, Sigit mengatakan, posisi kelompok bank BUMN makin terdesak oleh kelompok bank umum swasta nasional, bank asing dan bank campuran. Agresivitas kelompok bank asing dalam menyebar jaringan juga menjadi faktor signifikan terpangkasnya posisi dominan kelompok bank BUMN.
Dalam kesempatan terpisah, Komisaris Bank Central Asia (BCA) Cyrillus Harinowo mengakui, dampak kenaikan harga BBM cukup signifikan bagi perbankan. Untuk itu, BCA masih melakukan kajian ulang atas dampak yang menimpa para debitornya. Diakui, kemungkinan para debitor akan kesulitan membayar kredit karena iklim usaha menjadi tidak kondusif.
''Bank harus melakukan semacam review terhadap kenaikan BBM. Terutama dampaknya pada perusahaan-perusahaan yang diberi kredit. Soal seberapa besar dampaknya, sangat bergantung pada status perusahaan itu dengan perusahaan lain,'' katanya.
Menurut Harinowo, dampak kenaikan BBM pada perbankan dan kaitannya dengan debitor, sangat bergantung pada hubungan antara debitor dengan bank yang bersangkutan. Jika kedua belah pihak ingin mengacu pada hubungan yang kontinyu, bank harus melakukan sejumlah kompromi. Kenaikan suku bunga kredit, misalnya, tidak akan berlaku untuk semua sektor usaha debitor.
''Biasanya ada perlakuan yang berbeda dengan tiap nasabah, yang sangat bergantung pada hubungan antara bank dan nasabahnya,'' kata Harinowo. (U-5)