CALO memang bukan profesi, tapi bisa disebut pekerjaan. Ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran kerap membuka peluang hidup calo. Itu pula yang menjadi permasalahan dalam setiap penjualan tiket angkutan kapal laut di pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah. Agar tak membuat konsumen rugi, para calo itu diberi label "setengah resmi".
Praktik percaloan diperkirakan akan marak pada musim Lebaran Oktober -November mendatang. Saat jumlah penumpang angkutan kapal laut meningkat, peluang calo menjadi lebih besar. Mungkin kasus lenyapnya banyak tiket di loket resmi juga akibat praktik percaloan. Alhasil tarif angkutan laut pun melonjak drastis, di luar tuslah.
Dalam perhitungan sederhana, praktik percaloan memang merugikan penumpang. Mereka akan sulit mendapatkan tiket dengan harga yang wajar. Jika penumpang tidak menemukan alternatif angkutan mereka harus tarik urat dengan para calo. Buntut panjang dari efek percaloan sangat mudah ditebak. Penumpang enggan memilih angkutan kapal laut. Paling tidak, mereka enggan naik kapal di Pelabuhan Tanjung Emas.
Berdasarkan data Administratur Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, hingga Juli 2005, jumlah kunjungan kapal jenis umum mencapai 180 dan jenis roro 218. Jumlah penumpang kapal jenis umum untuk penumpang turun 40.214 orang. Arus penumpang naik kapal jenis umum 36.880 orang. Kecenderungan penumpang naik/turun di Tanjung Emas terlihat mulai meningkat. Jika April 2005 penumpang turun mencapai 3.083 orang, jumlah penumpang turun pada Juli 2005 mencapai 8.593 orang. Fenomena itu juga tampak pada jumlah penumpang naik di Tanjung Emas pada April 2005 yang mencapai 2.386 orang dan Juli 8.127 orang.
Berdasarkan data 2004, peningkatan penumpang arus liburan besar terlihat pada Oktober-November. Pada dua bulan itu, jumlah penumpang turun tercatat 10.131 orang dan 14.285 orang. Peningkatan jumlah penumpang naik terjadi pada November -Desember menjadi 18.299 dan 11.099 orang.
Penanganan Calo
Menurut Kepala Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Kirkardjono, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk menertibkan calo dari tahun ke tahun. Tetapi upaya tersebut nyaris tidak efektif. Para calo tetap saja muncul. Bahkan menjelang arus mudik, jumlah calo meningkat. Alhasil pihak pengelola terminal penumpang melakukan langkah koordinasi dengan KP3, KPLP, dan Adpel.
"KP3 telah memberi pengarahan. Mereka ditekan agar jumlahnya tidak terlalu banyak merugikan calon penumpang. Calo-calo itu diminta menampakkan diri dengan pakaian tertentu dan diberi identitas. Sewaktu-waktu ada calo yang merugikan penumpang, kami mudah mencarinya dan memberi sanksi," tambahnya.
Selama ini, katanya, praktik percaloan memang terlihat sebagai fenomena musiman. Upaya memberantas calo sudah dilakukan dengan berbagai cara. Tetapi upaya yang lebih efektif seharusnya datang dari agen penjual resmi. Entah dengan metode pemesanan telepon atau internet, pengelola jasa angkutan dapat meminta lampiran KTP sebagai syarat pembelian.
"Kadang dari pihak tiket sendiri justru mempermudah. Tanpa KTP pun orang bisa beli, padahal kalau mau selektif harus memakai KTP. Tetap masalahnya kemudian kalau terjadi kecelakaan, nama penumpang tidak terdaftar. Kami bisa juga kalau diminta tertib, tapi nanti malah berkesan hanya cari-cari saja," katanya.
"Kadang sejak awal penumpang sudah ditempel calo dari terminal Terboyo. Kalau mereka sebut mau ke Tanjung Emas, calo-calo sudah langsung berebut. Kami juga kesulitan kalau kasusnya seperti itu," ujarnya.
Di pihak lain, Administratur Pelabuhan Tanjung Emas, Sukardi menegaskan, percaloan sudah tidak ada. Penjualan tiket sudah ditangani langsung operator angkutan. Penjualan tiket sudah dilakukan lewat travel dan dilakukan secara online. Tetapi yang lebih penting, praktik percaloan sudah menghilang dengan sendirinya karena mekanisme pasar.
"Sekarang ini calo mau hidup bagaimana? Load factornya sedikit. Dulu calo banyak karena penumpang banyak. Sekarang kapal bermuatan 200 orang, paling hanya terisi 120 orang. Kapal besar yang muat 1.000 orang paling hanya terisi 400 orang," katanya.
Sepintas praktik percaloan sudah tampak sepi karena peluangnya makin kecil. Para penumpang masih dapat membeli tiket yang banyak tersisa. Orang-orang yang dulu menjadi calo kini lebih banyak beralih pekerjaan sebagai penjual jasa informasi bagi pengguna angkutan. u
Pembaruan/Unggul Wirawan