SUARA PEMBARUAN DAILY

Wajah Lelah Yudhoyono

JeffrieGeovanie

DALAM beberapa kali penampilannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono makin terlihat lelah. Pelupuk matanya terlihat menebal dan kelam, pertanda sang presiden kurang tidur. Kelelahan ini terutama tampak ketika Presiden Yudhoyono melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat. Presiden Yudhoyono tidak lagi terlihat segar, sekalipun terus mencoba menyampaikan berbagai hal yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.

Paling tidak, Yudhoyono menghadapi sejumlah persoalan krusial. Pertama, menyangkut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai 1 Oktober 2005 untuk menaikkan pendapatan negara. Kedua, terjadi bom di Bali pada Sabtu (1/10) malam yang tentunya sangat mengejutkan dan mengguncangkan.

Ketiga, tuntutan reshuffle kabinet yang mulai menguat dari kalangan partai-partai politik dan kaum demonstran. Keempat, dari sisi elite politik, pertemuan rutin sejumlah tokoh-tokoh nasional, terutama Wiranto, Abdurrahman Wahid, Akbar Tandjung, Megawati Soekarnoputri dan Try Sutrisno, sepertinya sedang membangun kerja sama politik yang mulai bersifat oposisional.

Namun, keempat persoalan krusial itu adalah bagian tidak terpisahkan dari berbagai beban pemerintahan hari ini. Bagaimanapun, Yudhoyono tidaklah mewarisi keadaan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, sekalipun sempat stabil pada akhir pemerintahan Megawati Soekarnoputri.

Tetapi, sebagian masalah justru datang dari kalangan pemerintah sendiri, terutama anggota kabinet, yang memang sebagian tidak menunjukkan kinerja yang semakin baik.

Perhatian

Sementara, munculnya dinamika politik akhir-akhir ini yang ditunjukkan secara terbuka adalah bagian dari proses konsolidasi demokrasi yang kita tempuh.

Kelelahan Yudhoyono bisa jadi karena kepeduliannya yang tinggi atas prestasi pemerintahannya.

Sekalipun Presiden Yudhoyono pernah mengatakan "I don't care!" atas popularitasnya, terutama dalam upayanya menghapuskan atau minimal mengurangi korupsi di Indonesia, tetap saja Yudhoyono memiliki perhatian tinggi atas kinerja anggota-anggota kabinetnya.

Besarnya popularitas Yudhoyono menjelang dan pada saat pemilu 2004 berakibat kepada tingginya perhatian publik atas apapun yang dilakukan dan diucapkan Yudhoyono. Yudhoyono tidak hanya berhadapan dengan kemajuan teknologi media hari ini, sehingga apapun yang dilakukannya terlihat dan terbaca oleh publik, melainkan juga berimbas kepada kemampuannya menampakkan diri dengan cara yang benar-benar sesuai dengan kehendak publik.

Sehingga, kesalahan dan kelemahan sedikit saja akan berpengaruh kepada kritikan-kritikan yang disampaikan oleh publik, termasuk para pengamat dan pemerhati pemerintahan. Upaya pembatasan apapun yang dilakukan untuk menyembunyikan wajah Yudhoyono dari hadapan publik, justru berisiko atas masa depan politik dan pemerintahannya.

Keterbukaan politik seperti inilah yang memunculkan risiko-risikonya sendiri. Presiden Yudhoyono tidak hanya harus selalu tampil prima dalam menjalankan roda pemerintahan, karena di samping itu Presiden Yudhoyono juga dikepung oleh semangat populisme.

Penolakan kenaikan harga BBM yang disuarakan oleh sejumlah tokoh politik, misalnya, tidak lebih dari sekadar menampung arus populisme seperti itu.

Padahal, siapapun pihak yang memerintah hari ini akan dihadapkan kepada pilihan sulit itu, terutama karena sejak dulu Indonesia memang tidak mempunyai strategi jangka menengah dan panjang untuk menggantikan BBM dengan energi alternatif lainnya.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah meruntuhkan rezim Orde Baru, serta membuat limbung pemerintahan berikutnya. Berbagai persoalan kemudian mengikutinya, seperti kelangkaan pangan, pengangguran, dan rendahnya Human Development Index Indonesia. Kekacauan sosial juga terjadi, karena ketidakpercayaan kepada pilar-pilar utama pemerintahan.

Beban krisis itulah yang masih tersisa sekarang, termasuk tambahan krisis baru akibat kerusakan alam dan gelombang bencana. Adanya pertaruhan kepentingan global juga berpengaruh terhadap kondisi dalam negeri Indonesia.

Sehingga, setiap pengambilan kebijakan apapun akan berpengaruh bukan hanya pada tataran nasional, melainkan juga regional dan internasional. Kenaikan harga BBM di dalam negeri, misalnya, juga dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia.

Kerja Sama

Patut disayangkan kalau hal-hal mendasar ini tidak disadari oleh kalangan pengambil kebijakan, termasuk para politikus dan lapisan kelas menengah dan elite.

Upaya mengeluarkan Indonesia dari belitan krisis multi-dimensional tidak hanya membutuhkan program kerja yang terukur oleh setiap pemerintahan, melainkan juga membutuhkan kerja sama berbagai elemen bangsa.

Mencoba untuk simpati dan empati adalah salah satu sikap yang mulai hilang, sehingga transisi yang kita alami mulai memasuki tahapan transisi yang permanen. Apalagi, pertaruhan kekuasaan begitu mengental, terutama karena adanya pergesekan kepentingan di kalangan para elite, baik yang mulai memudar kekuasaannya, atau yang mendapatkan keuntungan dari arus besar demokratisasi politik.

Pada dasarnya, bukan hanya Presiden Yudhoyono yang terlihat lelah, melainkan juga bangsa ini. Kelelahan bangsa ini sudah mulai memicu apatisme dan rasa frustrasi.

Ketahanan mental sebagian anggota masyarakat menjadi jebol karena begitu banyaknya persoalan yang datang secara silih-berganti. Sehingga kesabaran dan rasionalitas mengalami kemunduran.

Lebih parahnya lagi, upaya melemparkan berbagai tanggung jawab pemerintahan sepertinya hanya diarahkan kepada satu orang yang kebetulan hari ini adalah Presiden Yudhoyono.

Sebelumnya, tanggung jawab itu juga yang dipikulkan kepada Presiden Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri sehingga mempermudah hujatan kepada mereka ketika mereka dijatuhkan.

Tetapi, apapun yang terjadi di masa lalu, selayaknya wajah lelah Yudhoyono tidak terus-menerus muncul. Situasi rileks lebih dibutuhkan, bahkan canda-tawa dan nada-humor, sehingga persoalan apapun yang dihadapi terasa lebih ringan.

Bahkan, seorang Yudhoyono sekalipun memerlukan waktu untuk beristirahat, bahkan mengerjakan hobby pribadinya, sehingga wajah seorang presiden akan tampak lebih manusiawi.

Sudah saatnya kita berpikir, betapa mudahnya semangat untuk menghujat seseorang, ketika yang diperlukan adalah kesadaran untuk menahan diri dan memberi kesempatan.

Dalam situasi menjelang satu tahun pemerintahan Yudhoyono ini, tindakan yang paling tepat adalah memberikan kesempatan kepada Yudhoyono untuk memperbaiki kabinetnya. Kalau perlu, sosok menteri-menteri yang duduk di kabinet tidak lagi didominasi kalangan akademisi yang terlihat kaku dan serius, melainkan juga layak diisi oleh kalangan aktor, seniman atau bahkan pelawak.

Profesionalisme toh tidak perlu dikemas secara kaku. Dalam keadaan seperti ini, justru senyum SBY lebih dibutuhkan, ketimbang wajah lesunya di layar televisi. *

Penulis adalah Direktur Eksekutif The Indonesian Insti tute, Jakarta


Last modified: 3/10/05