
Denny JA
ESULITAN yang menimpa negeri ini seolah susul- menyusul. Kesulitan yang diakibatkan naiknya harga BBM belum selesai diatasi, tiba-tiba meledak lagi bom di Bali. Berbagai upaya diplomasi untuk menarik masuknya investasi asing ke Indonesia segera porak-poranda.
Semoga negeri ini akhirnya selamat dari berbagai persoalan yang menyelimutinya. Jika tidak, negara kita bisa mengalami breakdown seperti Uni Soviet. Kesulitan yang ada melampaui ambang batas kekuatan negara itu untuk bertahan. Akibatnya, negara yang luas dan plural itu terpecah-belah menjadi beberapa negara. Kekerasan segera pula meluas mengikuti pecahnya sebuah negara.
Semoga masyarakat Indonesia masih kuat menghadapi semua kesulitan yang susul-menyusul. Jika tidak, akan lahir gerakan ketidakpuasan yang meluas. Masyarakat Indonesia akan berada dalam konflik berkepanjangan. Konflik itu tak hanya berakar pada kesulitan ekonomi, namun segera bercampur dengan sentimen primordialisme yang berbahaya.
Semoga pemerintah Indonesia cukup kuat mengelola dan memberikan harapan. Jika tidak, pemerintahan ini segera pula porak-poranda. Kemarahan publik luas dengan cepat dapat mengikis habis legitimasi pemerintahan. Bahkan Bung Karno dan Pak Harto sekali pun tak kuat menahan publik yang marah. Dua pemimpin besar itu pun tumbang.
Para politisi, pengusaha, tokoh masyarakat dan publik luas, kini harus memilih. Menghadapi kesulitan yang ada, apakah mereka bersatu dan menjadi solusi. Ataukah sebaliknya, mereka semakin berpisah jalan, konflik, saling mencari kesempatan, dan akhirnya justru menambah persoalan baru.
Nasib Buruk
Banyak sekali persoalan yang muncul di Indonesia saat ini, muncul di luar kontrol politisi mana pun. Siapa pun yang menjadi presiden dan wakil presiden, mereka menghadapi persoalan yang sama. Nasib buruk akan menimpa siapa pun yang terpilih sebagai presiden RI.
Tak lama setelah dilantik, Yudhoyono-Kalla segera menghadapi gelombang besar badai tsunami. Ini bencana alam yang tak hanya besar, tetapi terbesar dalam sejarah dunia modern. Jumlah angka kematian melampaui semua bencana alam yang pernah ada. Segera jumlah angka kemiskinan di Indonesia bertambah. Bencana tsunami ini juga akan datang, walau yang menjadi presiden adalah tokoh lain.
Belum selesai bencana alam diatasi, datang pula wabah penyakit susul-menyusul. Mulai dari penyakit polio, busung lapar dan flu burung. Efek dari penyakit itu adalah kematian dan penderitaan terutama bagi keluarga yang menjadi korban. Proses yang menyebabkan munculnya aneka wabah penyakit itu berada di luar urusan politik praktis. Siapa pun yang terpilih menjadi presiden, juga akan menghadapi persoalan yang sama.
Belum selesai wabah penyakit diselesaikan, harga minyak dunia meroket. Sebab-musabab naiknya harga minyak dunia juga di luar kontrol politik domestik Indonesia.
Siapa pun yang menjadi presiden, segera menghadapi kesulitan yang sama. Anggaran negara berada dalam titik kritis. Sementara jika anggaran negara dibuat sehat, harga BBM harus naik. Aksi protes segera melanda negeri.
Baru saja harga BBM diumumkan naik. Penyesuaian publik luas terhadap harga BBM baru dilakukan, bom kembali meledak di Bali. Indonesia terdiri atas begitu banyak pulau. Kekuatan aparat keamanan sangat terbatas untuk memantau keseluruhan wilayah. Siapa pun yang menjadi presiden saat ini, juga akan mengalami nasib yang sama. Bom potensial meledak di aneka tempat.
Sementara efek dari meledaknya bom tersebut sangat merugikan bagi kenyamanan investasi di Indonesia. Tanpa investasi mustahil dapat diciptakan lapangan kerja. Tanpa lapangan kerja, pengangguran dan kemiskinan yang ada akan bertambah. Level ketidakpuasan publik atas kondisi ekonomi segera menaik.
Tak ada kata lain untuk melukiskan situasi pemerintahan saat ini bahwa mereka memang sedang bernasib buruk. Banyak hal terjadi di luar kontrol mereka. Namun, efek kejadian itu sungguh besar dalam menurunkan legitimasi pemerintahan.
Persoalannya kemudian adalah bagaimana merespons aneka persoalan di atas? Respons dapat berbeda dari satu pemimpin ke pemimpin lain. Pada titik inilah leadership dan tokoh yang memerintah menjadi penting. Jika yang menjadi presiden dan wakil presiden adalah tokoh lain, mungkin respons kebijakan yang dilahirkan akan berbeda pula.
Tepatkah respons Yudhoyono-Kalla dalam menghadapi aneka bencana, mulai dari bencana alam, bencana penyakit, bencana BBM, sampai bencana teror? Dalam merespons krisis BBM sebagai misal, apakah memang naiknya harga minyak tanah sampai 185 persen adalah langkah yang bijak? Apakah pemberian uang tunai sebagai kompensasi adalah langkah yang tepat? Jika yang menjadi presiden adalah tokoh lain, apakah ia akan melakukan tindakan serupa?
Aksi Protes
Kini perhatian publik luas terkonsentrasi kepada bom Bali. Isu itu mampu mengalihkan perhatian publik dari persoalan BBM, tapi hanya untuk sementara.
Dibandingkan semua persoalan yang kini dihadapi Yudhoyono-Kalla, masalah BBM itu memang yang paling langsung berhubungan dengan rakyat banyak. Bom Bali lebih terkonsentrasi di Bali. Namun, masalah BBM menjangkau seluruh populasi Indonesia di seluruh wilayah.
Segera setelah daya pukau bom Bali selesai, BBM kembali menjadi isu utama. Harga barang kebutuhan pokok segera melonjak. Kehidupan publik luas semakin terasa berat, terutama bagi penduduk yang tidak mendapatkan kompensasi. Mereka kini ibarat rumput kering yang mudah sekali terbakar.
Satu-satunya kondisi yang dapat menahan akumulasi kemarahan publik luas adalah perekonomian nasional harus tumbuh. Namun bagaimana ekonomi dapat tumbuh sehat jika terus-menerus terganggu oleh isu keamanan? Bagaimana ekonomi dapat tumbuh jika muncul persepsi bahwa politik di Indonesia masih rawan?
Gejolak politik di bawah permukaan kini semakin panas dan liar. Berbagai isu mulai dikampanyekan. Berbagai pihak memiliki persepsi dan kepentingannya sendiri. Mereka disamakan oleh kesempatan, menggunakan isu BBM sebagai pintu masuk. Ada yang tujuan utamanya hanya mengganti kementrian tertentu. Ada pula yang memasang target lebih jauh: pergantian kepemimpinan nasional. Semua tahu, rakyat banyak kini sedang goyah.
Yang siap membuat manuver tidak hanya pihak yang berada di luar kekuasaan. Namun pihak yang kini bersama-sama pemerintah juga ikut bermain dalam rangka reposisi atau mendapatkan bagian yang lebih besar. Politik menjadi bola liar.
Semoga semua itu hanya gejala sementara saja. Jika gonjang-ganjing politik tak terhindari, semoga negeri ini selamat. Kasihan nasib sekitar 200 juta manusia di Republik ini yang menjadi pertaruhan.*
Penulis adalah Direktur Eksekutif Lingkaran Survei In donesia/LSI dan Lembaga Studi Demokrasi