JAKARTA - Parahnya kondisi persepakbolaan Indonesia, khususnya di lingkungan Kompetisi Divisi Utama Liga Djarum Indonesia 2005 ini, membuat, 28 tim pesertanya tidak pantas untuk menyandang predikat sebagai tim fair-play.
Menurut penjelasan Manajer Kompetisi Badan Liga Indonesia, Djoko Driyono kepada Pembaruan di Jakarta, Senin (26/9) pagi, tim fair-play bukan disebut sebagai tim yang paling fair-play. Tim ini bisa saja telah memenuhi syarat minimal sebagai tim yang pantas disebut tim "fair-play" dengan cara merespon keluhan tim-tim tamu dan melalui fakta-fakta media tendangan di masing-masing klub.
"Dan, sebagaimana data yang sudah kita kumpulkan, tidak satu pun tim peserta Liga Djarum Indonesia 2005 ini yang benar-benar menjadi contoh. Dan, dengan sangat menyesal dan sesuai dengan kenyataannya, di tahun ini memang tidak ada tim yang menyandang perdikat tim fair-play," kata Djoko.
Dengan demikian, berarti sudah dua kali kompetisi terbesar di Indonesia ini tidak menghadirkan tim fair-play. Padahal untuk predikat itu, PSSI sudah menyiapkan dana pembinaan sebesar Rp 250.000.000.
Djoko menambahkan, pihaknya juga sedang mempertimbangkan, untuk menentukan tim fair-play terdapat kendala-kendala dalam penjurian. Diakui atau tidak, kata dia, obyektivitas penjurian menjadi kesulitan juga.
"Saya harus mengatakan jujur, dalam setiap pertandingan, mayoritas Inspektur Pertandingan (IP) selalu memberikan laporan bahwa tim-tim tuan rumah selalu sportif. Tetapi, pada faktanya, laporan itu tidak 100 persen benar. Padahal, ujung tombak kita dalam penilaian tim fair-play adalah laporan IP yang di musim ini tersebar di 378 pertandingan," ujar dia.
Untuk bisa mendapatkan kebenaran atas penilaian sebuah tim, pihaknya memerlukan tim penilai yang benar-benar banyak, punya kecakapan, serta memiliki obyektivitas yang tinggi. Kalau Sumber Daya Manusia dari IP seperti ini, pihaknya masih akan menggodok apakah penghargaan untuk tim fair-play tetap diadakan atau tidak di tahun-tahun mendatang.
"Akan tetapi, sebagai proses dan untuk mempermudah kerja tim penilai fair-play. Penilaian itu alangkah baiknya dimulai dari babak 8 Besar. Sebab, pada babak ini menggunakan sistem home tournament di dua kota, sehingga lebih mudah terpantau dan lebih realisis," kata Djoko. (F-4)