PALU -Para nelayan di kawasan Teluk Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) terpaksa beralih profesi menjadi buruh bangunan karena kesulitan modal untuk melaut menyusul kenaikan harga kebutuhan pokok sebagai dampak rencana pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bulan oktober mendatang.
Para nelayan itu yang ditemui Pembaruan di sepanjang pantai Teluk Palu dan Donggala Senin, (26/9) pagi mengungkapkan, sebelum ada rencana kenaikan BBM, harga-harga kebutuhan pokok sudah lebih dahulu melonjak tajam terutama minyak tanah.
Akibatnya, modal yang dibutuhkan nelayan untuk melaut semakin tinggi. Sementara hasil tangkapan hanya sedikit, tidak sesuai modal.
"Ikan-ikan di Teluk Palu juga semakin sulit ditemukan karena beroperasinya bagan-bagan besar yang didukung para pengusaha ikan berskala besar," kata Ahli Hali, nelayan Desa Tipo, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu.
Anggota Serikat Nelayan Teluk Palu ini mengatakan selain bensin, bahan bakar minyak tanah menjadi kebutuhan utama nelayan jika ingin melaut sangat mahal dan sulit didapatkan.
Sekali turun melaut (semalaman), para nelayan membutuhkan paling kurang 4,5 liter minyak tanah untuk menghidupkan lampu-lampu petromax yang dipakai saat menangkap ikan.
"Sebab kalau lampu tak terang maka ikan-ikan tak mau mendekat ke perahu kami. Sehingga dalam satu perahu kami harus memaka paling kurang dua lampu petromax," katanya.
Tapi celakanya sudah berbulan-bulan ini, minyak tanah semakin sulit ditemukan di desanya. "Dari kepala desa, kami dijatah 5 liter per minggu dan membeli di pangkalan Rp 970 per liter. Tapi jumlah itu sangat tak cukup sehingga kami harus mencari di kios-kios eceran dengan harga tinggi antara Rp 2.000 - Rp 2.500 per liter," ujarnya Mohammad Amir, nelayan Tipo lainnya.
Belum lagi nelayan juga harus membeli bensin untuk mesin generator yang menjalankan perahunya serta membawa bekal makanan, rokok dan sebagainya. Amir mengaku membeli bensin di Desa Tipo seharga Rp 3.000 per liter.
Kondisi ini mengakibatkan modal yang dibutuhkan para nelayan untuk sekali melaut dengan menggunakan perahu bermesin generator 5 PK antara Rp 20.000 hingga Rp 25.000.
Dengan kondisi ini, sejak sebulan terakhir banyak nelayan di kawasan ini akhirnya memilih menjadi buruh bangunan dengan upah Rp 20.000 per hari. Para nelayan itu umumnya menjadi buruh bangunan di pembangunan ruko-ruko yang lagi marak di Palu dan Donggala.
"Tapi kalau tidak ada lagi ruko yang dibangun maka kami akan kehilangan lahan pekerjaan," ujar Mahmud yang jadi buruh bangunan di lokasi pembangunan Tatura Mall di Palu. (128)