SUARA PEMBARUAN DAILY

Selamat Jalan Prof Dr Ihromi

JAKARTA - Satu lagi tokoh gereja dan pembawa semangat persaudaraan lintas iman meninggal dunia, Prof Dr Ihromi MA, mantan Rektor Sekolah Tinggi Teologia Jakarta dan salah satu Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang merupakan pakar bahasa Ibrani dan Semit di Universitas Indonesia.

Ihromi meninggal karena menderita sejumlah komplikasi di kediamannya di Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (25/9) pukul 01.30 WIB di usianya yang ke 77 tahun.

Prof Ihromi lahir pada 4 April 1928 dan ditahbiskan sebagai pendeta Gereja Kristen Pasundan pada tanggal 18 April 1955. "Almarhum kemudian menjadi Rektor STT Jakarta beberapa periode dan kemudian mengajar Perjanjian Lama dan memperdalam bahasa Ibrani di STT Jakarta dan Universitas Indonesia," ujar Wakil Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Weinata Sairin.

Menurut Weinata, sebagai pendeta GKP almarhum terlibat aktif dan memberikan kontribusi pemikiran melalui komisi teologi, badan kesejahteraan dan dalam pengembangan hubungan gereja dan lembaga oikumenis di luar negeri. Almarhum juga pernah menjadi Ketua Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia pada tahun 1980 hingga 1984. Dan banyak memberikan sumbangan pemikiran pada komisi pertimbangan pendidikan nasional.

Sebagai seorang yang mengalami secara praktis kehidupan dalam masyarakat majemuk, maka almarhum menaruh perhatian tinggi terhadap kegiatan dialog antar agama baik pada tingkat lokal maupun nasional.

Sejak kecil ia sudah dipanggil ''profesor'' oleh teman-teman se-SD-nya. Ini mungkin gara-gara Ihromi berkaca mata, suka duduk di bangku paling belakang, senang membaca, dan ''pintar- pintar bodoh''. Soalnya, ia paling pintar di satu pelajaran, dan ''paling bodoh'' pada pelajaran yang lain..

Julukan itu mendorongnya giat belajar. ''Saya ingin menunjukkan bahwa saya benar-benar akan menjadi profesor,'' ujar Ihromi. Tadinya, ia ingin menjadi insinyur mesin, dan sempat masuk sekolah teknik di Bandung -- seangkatan dengan bekas Gubernur Ali Sadikin yang mengambil jurusan bangunan. Ternyata, kemudian, ia meneruskan pelajaran ke SMA, karena beralih cita-cita, ingin jadi dokter.

Setamat SMA di Sumedang, 1948, Ihromi bertemu dengan dr. Sanusi, ipar Bung Hatta. Dokter itulah yang menganjurkan si anak pedagang kecil ini masuk Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STTJ). Tamat STTJ enam tahun kemudian, ia masuk Fakultas Sastra UI, jurusan bahasa Sunda dan Arab. Gelar M.A. ilmu sejarah dan bahasa Semit diraihnya dari Universitas Harvard, AS, 1963.

Tiga tahun mendalami Kitab Perjanjian Lama di Joh. Gutenberg Universitat, di Mainz, Jerman Barat, menghasilkan gelar doktor bagi Ihromi. Disertasinya, 'Amm 'Ani Wadal Nach dem Propheten Zephanya, dipertahankannya dengan yudisium magna cum laude.Guru besar FS UI dan STTJ ini pernah menjadi anggota Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional (KPPN).

Sebagai salah satu pakar pendidikan Ihromi mengingatkan pemborosan serius yang terjadi di sektor pendidikan. Kekurangtahuan masyarakat tentang pendidikan tercermin dalam cara mereka memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang berorientasi pada gelar. Ketidaktahuan itulah yang dimanfaatkan oleh lembaga pendidikan tertentu, yang hanya mencari keuntungan. Ditinjau dari segi uang maupun waktu, ''Pemborosan ini serius sekali,'' katanya. (E-5)


Last modified: 26/9/05