YOGYAKARTA - Petugas gabungan Polda Sulawesi Tengah dan Polres Sleman DI Yogyakarta, Kamis (22/9) membekuk Maknum (40) yang diduga sebagai penyandang dana peledakan bom di Poso . Tersangka ditangkap di sebuah rumah kontrakan di Karangwuni, Caturtunggal, Depok Barat, Sleman, setelah diintai selama tiga hari.
Direktur Reskrim Polda DIY Kombes Drs Dadang Rusli, Minggu (25/9) membenarkan hal tersebut dan menyatakan bahwa tersangka sudah diterbangkan ke Sulteng pada Minggu (25) malam.
Menurut Dadang, tersangka Maknum diduga sebagai penyandang dana untuk sejumlah kasus peledakan bom di Poso (Sulawesi Tengah) dan Makassar (Sulawesi Selatan).
"Penangkapan itu dilakukan tim gabungan dipimpin Polda Sulteng yang sudah ada di Yogya sejak Selasa lalu, bersama Polres Sleman. Setelah memperoleh kepastian tentang keberadaan tersangka Maknum petugas segera menangkapnya di sebuah rumah kontrakan di kawasan Seturan, Dusun Karangwuni, Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman," jelas Dadang, Minggu (25/9).
Sebelum dipindahkan ke Sulteng, Polda DIY juga sempat melakukan pemeriksaan keterkaitan posisi tersangka Maknum dengan kelompok Yogyakarta, termasuk kaitannya dengan dua tersangka lainnya yang ditangkap, Agung Hamid dan Munir.
Tentena
Menurut Dadang, dari pemeriksaan sementara, tersangka selama ini dikenal cukup dekat dengan tersangka Ip, buron utama kasus bom Poso, terkait dengan menghilangnya Ip maupun Maknum, setelah peledakan bom di Pasar Tentena.
"Kabarnya selama dalam pelarian di Yogya, tersangka Maknum tetap menjalin hubungan dengan pelaku teror lain. Karena kuat dugaan bahwa rencana aksi terus akan dilangsungkan," ucap Dadang.
Semantara, Kapolda DIY, Brigjen Pol Drs Bambang Aris Sampurno Djati mengatakan, Yogyakarta ternyata menjadi tempat persembunyian para buron kasus peledakan bom.
Selain Maknum, sudah tujuh orang yang diduga terkait dengan kerusuhan di Poso berhasil terjaring di Yogya, tiga di antaranya kini sedang menjalani pemeriksaan di Pengadilan Negeri Yogyakarta, yaitu Syaifullah, Taufiq dan Suhardi.
Bambang Aris menyatakan, mencermati pola pergerakan jaringan terorisme, ternyata DIY dijadikan tujuan pelarian dan persembunyian para buron tersebut. Karena itu, menurutnya, pemerintah dan masyarakat DIY harus meningkatkan penjagaan wilayahnya. "Kita menyadari bahwa Yogya adalah kota tujuan pendidikan. Dengan sendirinya, mobilitas manusia sangat tinggi. Ini penting dilakukan, kos-kosan harus melaporkan siapa saja yang masuk dan masyarakat setempat hendaknya juga ikut memantau," tegasnya. (SKA/W-8)