JAKARTA - KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengklarifikasi hasil pertemuan Wapres Jusuf Kalla dengan mantan wapres Try Sutrisno yang berlangsung di rumah mantan wapres era Soeharto itu di Jalan Purwakarta, Jakarta, Sabtu (24/9). Gus Dur mengatakan usai pertemuan itu timbul kesan Try menyetujui kenaikan BBM padahal tidak sama sekali, beliau sangat konsisten dengan pendiriannya yang tidak menyetujui kenaikan BBM.
"Pak Try hanya menyatakan bahwa dia dapat memahami alasan pemerintah menaikan harga BBM. Tapi dimanipulasi dia menyetujui, padahal nggak," kata Gus Dur saat jumpa pers di gedung PBNU, Jakarta, Minggu (25/9)
Sikap Try yang tidak menyutujui kenaikan BBM itu, kata Gus Dur, adalah hasil kesepakatan bersama dalam pertemuan antara Gus Dur , Megawati, Try Sutrisno dan Wiranto dan Akbar Tandjung di Jl. Purnawarman No. 18, Jakarta, Kamis (22/9).
"Kita sudah mengambil keputusan bersama kok, saat pertemuan bersama di Rumah Akbar. Kita minta pemerintah tidak menaikkan harga BBM untuk saat ini. Kan mau lebaran."
Diakui Gus Dur, para tokoh nasional itu sering melontarkan kritik-kritik, maksudnya agar pemerintahan Yudhoyono tetap berjalan hingga akhir masa jabatannya. "Kalau pemerintahan ini ingin langgeng, berarti jangan sampai ada perlawanan arus bawah. Itu bisa jika rakyat hidup tenang," jelas mantan Presiden RI ini.
Selain itu, kritik tersebut juga diharapkan agar pemerintah tidak gegabah dalam mengambil keputusan. "Kalau di negara demokratis yang benar, memang harus ada penyeimbang bagi pemerintah, itu namanya keseimbangan politik," jelas Ketua Dewan Syuro PKB ini.
Dalam kesempatan itu, Gus Dur menjelaskan posisi tokoh-tokoh nasional itu dengan organisasi yang dideklarasikannya beberapa waktu lalu, Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu (GNBB). Para tokoh nasional itu, kata Gus Dur, tidak tergabung dalam GNBB. "Pak Try hanya datang untuk menghormati. Kami jalan sendiri, urusan sendiri."
Ditambahkannya, GNBB hanya berkutat di seputar isu menolak Kesepakatan Helsinki yang didominasi oleh kepentingan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
"Sampai saat ini GAM saja masih bernama GAM.GAM juga bohong soal senjata yang berjumlah 800 pucuk, padahal lebih dari itu," kata Gus Dur. (E-5)