SUARA PEMBARUAN DAILY

Tajuk Rencana II

Membela Kepentingan Petani

ANEH memang, selama ini petinggi kita seringkali memuji tetapi sekaligus juga menginjak kepentingan petani. Mungkin kita juga sudah terlalu sering mendengar, atau bahkan sudah bosan, mendengar dan menyaksikan para politisi dan birokrat yang dengan penuh semangat memperjuangkan kepentingan petani. Mereka berusaha meyakinkan semua orang -terutama menjelang pemilihan umum atau pemilihan presiden- bahwa nasib petani perlu dibela dan diperjuangkan, karena petanilah sebenarnya yang telah berjuang untuk memberi makan bangsa ini. Tak segan-segan, para politikus pun mengobral janji sehingga benar-benar bisa menarik simpati dari para petani, yang secara politis memiliki kekuatan yang sangat besar.

Yang menjadi persoalan apakah para politisi dan penguasa pemerintahan itu tulus dalam memperjuangkan nasib petani? Sudah pasti kita tidak akan mendapatkan jawaban yang pas, karena memang ada politisi atau aparat pemerintah yang benar-benar tulus ingin memperjuangkan nasib petani. Tetapi tak sedikit yang justru memanfaatkan nasib petani untuk kepentingan dirinya atau golongannya. Sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu bisa dilihat dari perubahan yang dialami para petani, semakin sejahtera atau semakin terpurukkah nasib petani?

Jika kita mengingat sejarah bangsa kita, sudah berapa banyak dana Kredit Usaha Tani (KUT) yang semula bertujuan membantu petani, justru dalam praktiknya dimakan oleh oknum birokrat atau politisi? Demikian pula dengan bantuan-bantuan yang sebenarnya untuk petani, tetapi petani hanya bisa gigit jari bahkan terus ditagih utang pinjaman dari uang yang tidak mereka terima.

BERUNTUNG kita masih memiliki politikus kawakan yang setia membeli nasib petani. Siapa tidak kenal Imam Churmen yang selama menjadi anggota DPR lebih dari lima periode selalu membela petani. Dia bersama politisi lain yang setia dengan komitmen untuk memperjuangkan nasib petani terus mengoreksi kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan petani. Kita juga kenal Siswono Yudhohusodo, mantan menteri yang saat menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), terus berupaya agar produk-produk yang dihasilkan petani dihargai dengan pantas. Siswono termasuk orang yang paling keras menentang kebijakan harga pangan murah karena membuat petani menderita. Kita juga mengenal tokoh-tokoh lain dan lembaga yang terus memperjuangkan nasib petani.

Bila pada akhirnya perjuangan membuahkan hasil dengan dihentikannya impor beras, ternyata sekarang muncul persoalan baru. Pemerintah yang tampuk kepemimpinannya di bawah alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) justru kembali berusaha membuka celah, mengimpor beras. Beruntung, DPR yang tampaknya sudah memahami persoalan yang dihadapi petani berjuang menolaknya. Menteri Pertanian Anton Apriantono pekan lalu juga menyatakan impor beras ditunda atau dibatalkan. Tetapi itu belum menjamin impor beras -yang bisa jadi berasnya sudah tiba di Tanah Air-tidak dilakukan.

KITA berharap, pemerintah berlaku bijak dan tidak memikirkan persoalan petani dari sisi bisnis saja dalam membuat keputusan. Hari Tani Nasional 2005 baru saja berlangsung, seharusnya itu menjadi refleksi bagi kita semua untuk melihat dan merasakan perjuangan yang dilakukan petani terhadap bangsa ini. Bagaimana pun, sejak jaman perjuangan melawan penjajahan, para petani yang berada di baris depan dan memberikan dukungan. Sekarang pun, peran mereka masih sangat dirasakan. Jadi, belalah petani dengan tulus hati.


Last modified: 26/9/05