
PUPUS sudah hasrat sejoli Endi dan Yuni menikmati keindahan satwa di Taman Margasatwa Ragunan (TMR), yang lebih dikenal dengan nama Kebun Binatang Ragunan, atau disingkat "bonbin". Sebab, menyusul dilakukannya observasi dan penelitian flu burung (avian influenza) pada unggas di Ragunan, ntuk sementara bonbin ditutup selama 21 hari mulai 19 September sampai 9 Oktober.
"Kalau tahu ditutup, saya sih nggak bakal datang jauh-jauh ke sini," kata Endi (19), karyawan Catering Agnia Boga, Kalibata, saat dijumpai Pembaruan sedang duduk- duduk di pelataran Ragunan, Selasa (20/9) sore.
Endi, warga Kalibata Utara itu, mengakui, hiruk-pikuk isu flu burung sudah sering disimaknya dari tayangan televisi. Tetapi, tayangan itu tidak cukup menciutkan nyali untuk menyaksikan kecantikan unggas di sana.
Sayang, setiba di pintu masuk Ragunan sekitar pukul 12.30 kemarin siang, pengunjung termasuk Endi dan Yuni sudah dicegat satpam yang mengatakan Ragunan ditutup untuk sementara waktu. Apa boleh buat, mereka terpaksa harus puas nongkrong di pelataran hingga sore hari.
Biasa Saja
Sedikit berbeda, Wulan (22) mengaku sudah tahu Ragunan ditutup untuk sementara waktu. Sehingga, sejak awal ia bersama temannya sudah berniat datang ke Ragunan hanya ingin bersantai sambil ngobrol-ngobrol ringan.
Wulan sendiri mengaku tidak terlampau panik atas isu merebaknya flu burung. "Biasa saja, tuh," ujar warga Cinere, Jakarta Selatan, tersebut sambil tersenyum.
Namun, kata Wulan, masyarakat perlu diberi penjelasan secara lebih utuh agar mereka tidak mengalami kepanikan luar biasa. "Reaksi masyarakat yang muncul atas berjangkitnya kejadian luar biasa (KLB) flu burung kini harus diakui sudah terasa berlebihan," ujar Wulan yang berprofesi sebagai perawat di RS Melia Cibubur itu.
Flu burung mulai teridentifikasi berjangkit di TMR sejak awal September lalu.
Balai Penelitian Veteriner Bogor (Balivet) yang bekerja atas nama Dirjen Peternakan Departemen Pertanian, pada 5 dan 6 September lalu mengambil sampel darah burung di sekitar wilayah kerja Deptan, termasuk TMR.
Dari 27 ekor burung yang diambil sampel darahnya, pada 19 ekor burung diketemukan ada virus flu burung, empat ekor negatif dan empat ekor dubius atau meragukan. Namun, semua unggas yang diambil sampel tidak menunjukkan gejala klinis terjangkit flu burung.
"Keberadaan virus baru bisa terungkap dengan pengamatan dan observasi lebih lanjut," kata Kepala Kantor TMR, drh Sri Mulyono, kepada Pembaruan seusai konferensi pers kemarin sore.
Nah, untuk mencegah meluasnya penyebaran flu burung, sekaligus terkait pengamatan dan observasi terhadap unggas penderita serta pemberantasan penyakit tersebut, TMR ditutup sementara selama 21 hari. Penanggulangan virus flu burung berbuntut penutupan TMR itu sendiri, kata Sri Mulyono, baru disampaikan secara langsung oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono kepadanya, pada Minggu (18/9) sekitar pukul 10.00.
Sejak ditutup awal pekan ini, tak ada pemasukan sama sekali mengalir ke kas TMR. Pengelola diperkirakan merugi ratusan juta rupiah. Warga sekitar yang menggantungkan nasib di Ragunan dengan berjualan makanan dan minuman, ikut terkena dampaknya. Penutupan Ragunan tak urung mengganggu periuk nasi mereka.
Sutiyo (50), warga Pisangan yang berjualan es campur di depan Ragunan, mengaku penjualan merosot drastis. Jangankan untung besar, balik modal pun susah setengah mati. Bagi pedagang, penutupan Ragunan datangnya ibarat gelombang tsunami di Aceh.
"Mendadak sekali. Tahu-tahu ditutup. Kami yang berdagang di sini semua terkena dampaknya," kata Sutiyo yang berjualan es campur di Ragunan sejak 1989 itu.
Suparmin (54), pedagang bakso di Ragunan, menilai kebijakan yang ditempuh pengelola tidak peka terhadap nasib rakyat kecil.
Kemarin pagi, misalkan, anaknya yang masih duduk di SMIP Negeri Ragunan tidak masuk sekolah karena tidak punya ongkos transport. "Kalau sehari dapat Rp 10.000, bagaimana kami mau mencukupi kebutuhan sehari-hari? Ongkos mikrolet saja sudah Rp 3.000, belum lagi keperluan belanja dapur," kata pria asal Sragen itu.
Apa boleh buat, anak Suparmin pun terpaksa mogok sekolah. Situasi kian diperparah dengan kenaikan harga minyak tanah. Barang kebutuhan pokok mulai beras hingga sayuran harganya terus melejit.
Tukang ojek, sopir Mikrolet 15 A Jurusan Ragunan-TMII dan Kopaja 602 Jurusan Ragunan-Kampung Melayu ikut merasakan penderitaan yang sama. Tukang ojek yang biasanya dapat Rp 20.000 per hari, kini harus bersyukur kalau sudah mengantongi Rp 7.000. "Jangankan menutup target setoran Rp 200.000. Dapat Rp 60.000 saja sudah susahnya bukan main," kata sejumlah sopir Kopaja 602. Negosiasi rencananya akan dilakukan para sopir dengan bos-bos mereka.
Koleksi 3.000 Ekor
Flu burung di Ragunan ternyata menyulut penderitaan bagi banyak kalangan. Apalagi, TMR adalah tempat rekreasi yang cukup digemari masyarakat lapisan menengah ke bawah. Keberadaan Ragunan sendiri tidak bisa dipisahkan dari sejarah kebun binatang pertama bernama "Planten En Dierentuin" di Batavia yang dibuka secara resmi pada 1864 di daerah Cikini, Jakarta Pusat.
Kebun binatang seluas 10 hektare di atas tanah yang dihibahkan Raden Saleh, pelukis ternama Indonesia itu, dikelola oleh Perhimpunan Penyayang Flora dan Fauna di Jakarta (Culturule Vereniging Planten en Dierentuin at Batavia). Pada 1949, namanya diubah menjadi Kebun Binatang Cikini.
Karena lokasinya dianggap kurang cocok, pada 1964 Pemerintah DKI Jakarta menghibahkan tanah seluas 30 hektare di daerah Ragunan, Jakarta Selatan. Kebun binatang itu secara resmi dibuka pada 22 Juni 1966 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dengan nama Taman Margasatwa Ragunan. Pengelolaan kebun binatang lantas diwariskan kepada Benjamin Gaulstaun, pencinta satwa, yang saat itu menjabat direktur pertama. Saat ini koleksi satwanya lebih dari 3.000 ekor, yang terdiri atas 270 jenis. Sebanyak 90 persen koleksinya adalah satwa asli Indonesia.
Apabila dibandingkan dengan Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya, bahkan di seluruh dunia, tiket masukTaman Margasatwa Ragunan boleh dibilang termurah, berkisar Rp 2.000-Rp 3.000. Diakui, dengan harga tiket semurah itu pemasukan Ragunan tidak bisa menutupi ongkos operasional.
"Sempat terbetik keinginan kami untuk menaikkan harga tiket. Namun usulan itu ditolak habis-habisan," kata Sri Mulyono. Kenaikan tarif tiket masuk dikhawatirkan menyulitkan rakyat kecil yang ingin mencari hiburan. Jadi, pengelola TMR masih berorientasi sepenuhnya pada fungsi sosial.
Pemusnahan
Kendati unggas tidak menunjukkan gejala klinis terkena flu burung, Sri Mulyono mengaku tidak mau berspekulasi. "Bila sampai jatuh korban, kami sendiri yang repot," kata jebolan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.
Sejumlah tindakan terpaksa dilakukan, baik terhadap unggas yang terserang virus flu burung maupun terhadap karyawan yang berkontak langsung dengan unggas dan lingkungan di sekitar kandang.
Pemusnahan unggas yang tidak dilindungi yang positif terkena virus flu burung dilakukan terhadap lima ekor ayam kate (Gallus sp). Selain itu, ikut dimusnahkan pula ayam kate yang tidak di-sampling tetapi masih berada dalam satu kandang dengan lima ekor ayam kate tersebut di atas, sebanyak empat ekor.
Isolasi, observasi, dan pengobatan juga dilakukan terhadap 14 unggas yang dilindungi yang terserang virus flu burung. Pengobatan juga dilakukan terhadap 2.100 ekor unggas di TMR dengan memberikan antivirus selama lima hari berturut-turut. Kualitas pakan untuk unggas yang bersifat karnivora juga diawasi secara ketat.
Pemeriksaan ulang virus flu burung dilakukan pada hari ke-6 dan ke-10 sejak observasi itu dilakukan. Selain itu, petugas TMR juga memembersihkan kandang, mengubur kotoran unggas, serta menyemprot kandang dengan disinfektan.
Saat ini pengamatan ketat juga diberlakukan terhadap 250 dari 501 karyawan TMR, seperti pengamatan suhu badan, gejala flu dan sakit tenggorokan selama 14 hari, serta pengambilan sampel darah.
"Bila ditemukan ada yang mengalami gejala panas dan flu burung, dilakukan investigasi lebih lanjut dan dirujuk ke RSPI Sulianti Suroso," kata Sri Mulyono lebih jauh. Ia berharap, observasi dan pengobatan bisa rampung secepatnya.
PEMBARUAN/ELLY BURHAINI FAIZAL