SUARA PEMBARUAN DAILY

PSSI Kehilangan Wibawa

JAKARTA - PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) benar-benar sudah kehilangan kewibawaannya. Mundurnya tim "Bajul Ijo" Persebaya Surabaya dari kancah Babak Delapan Besar Kompetisi Divisi Utama Liga Djarum Indonesia 2005 Grup Jakarta, merupakan puncak kekecewaan dari banyak pihak.

Mantan pemain tim nasional Indonesia era 80-an yang juga anggota Komisi Disiplin PSSI Ronny Pattinasarani mengatakan kepada Pembaruan di Jakarta, Rabu (21/9) pagi, tindakan Persebaya itu ibarat "gunung meletus" yang dampaknya menjadi suatu tragedi besar dalam persepakbolaan Indonesia.

"Kita tidak perlu saling menyalahkan atas kasus ini. Kita semua, khususnya pengurus PSSI, harus sadar-sesadarnya bahwa kita sudah kehilangan wibawa. Marilah kita introspeksi dengan melihat kenapa hal ini bisa terjadi, bukan kepada mereka (Persebaya) melakukan itu. Kunci dari semua persoalan ini ada di PSSI karena semuanya ada mekanismenya," kata Ronny.

Sebagai salah satu pengurus PSSI, dia sangat prihatin dengan keadaan ini. Tetapi, dia menjelaskan, PSSI tidak perlu malu untuk melihat kenyataan ini, karena apa yang dilakukan Persebaya bukanlah yang pertama terjadi dalam satu musim persepakbolaan di negeri ini.

Selain Persebaya, sudah ada tiga tim yang tidak mau bertanding, yaitu Persikabo Bogor yang tidak mau main di Dumai pada kompetisi Divisi Satu, kemudian PSM Makassar tidak mau berlaga di Badung melawan Persekaba di Copa Dji Sam Soe, dan Persib Bandung yang "takut" bertarung melawan Persija Pusat karena ancaman "The Jakmania" (pendukung Persija) di Stadion Lebak Bulus.

Mengapa Persebaya dengan mudahnya mundur, itu lantaran lemahnya PSSI dalam melakukan tindakan atau sanksi. Kalau PSSI, khususnya Komisi Disiplin, bertindak tegas dan tanpa tedeng aling-aling, tim-tim yang tidak mau bertanding atau mundur tersebut dijatuhi sanksi yang berat, jangan hanya diganjar denda saja. Kalau sanksinya hanya materi, bukan tidak mungkin mengundurkan diri akan menjadi tradisi yang menghiasi wajah kompetisi di negeri ini.

Siap Terima Sanksi

Sementara itu, tim Persebaya Surabaya siap menerima sanksi dari PSSI terkait dengan sikapnya yang tidak bersedia melanjutkan pertandingan dalam babak 8 besar grup Barat di Gelora Bung Karno Jakarta. ''Keputusan kami sudah bulat, apapun sanksi dari PSSI, kami siap menerima,'' kata Ketua Umum Persebaya, Bambang DH yang juga walikota Surabaya, melalui jubirnya Juli Subianto kepada Pembaruan, Rabu (21/) pagi.

Menurut Bambang, sikap yang diambil sudah mempunyai argumentasi yang kuat.. Pihaknya tidak ingin keamanan di ibukota negara Indonesia menjadi kurang kondusif bila terjadi bentrok fisik antara pendukung tim yang ikut berlaga dalam babak 8 besar di Jakarta. Karena itu, ia memerintahkan seluruh suporter Surabaya (bonek mania) dan Tim Persebaya segera kembali ke Surabaya.

Preseden Buruk

Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar menilai, mundurnya Persebaya Surabaya dari putaran final delapan besar PSSI merupakan preseden buruk bagi dunia persepakbolaan nasional. Kenyataan ini mengindikasikan lemahnya manajemen PSSI dalam mengatur kompetisi nasional.

Ketua Umum KONI Pusat, Agum Gumelar, di Jakarta, usai bertatap muka dengan pelatih dan atlet pelatnas SEA Games, Selasa (20/9), mengatakan, jika sepakbola dalam negeri ingin berkembang, PSSI sudah harus merestrukturisasi dirinya."Dengan kejadian ini, saya minta pembenahan di tubuh PSSI segera dilakukan. Kalau mungkin dipercepat," ujar Agum.

Ketika ditanya apakah pembenahan yang dimaksud itu adalah segera menyelenggarakan musyawarah nasional luar biasa (munaslub) yang banyak dilontarkan sejumlah insan sepakbola, Agum tidak secara tegas mengatakannya.

Usul pembenahan di tubuh PSSI sudah lama didengungkan berbagai pihak menyusul kasus pidana yang saat ini dialami Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid. Akibat tidak berfungsinya penanggungjawab organisasi secara utuh. (080/F-4/E7)