SUARA PEMBARUAN DAILY

Persebaya Tidak Takut Sanksi

JAKARTA - Kubu Persebaya yang memilih mundur dari pentas delapan besar Liga Djarum Indonesia 2005 menyatakan bahwa hal itu dilakukan atas perintah langsung dari Ketua Umum Persebaya yang juga Walikota Surabaya, Bambang DH. Karena itu, Persebaya tidak takut dengan segala bentuk sanksi yang akan dijatuhkan oleh PSSI.

"Kalau Persib yang mundur saat akan menghadapi Persija beberapa waktu lalu saja hanya didenda Rp 25 juta, maka kita akan kasih dua kali lipat," tegas Manajer Persebaya, Saleh Mukadar dalam acara jumpa pers di Hotel Maharaja, Jakarta, Selasa (20/9) sore. Dalam kesempatan itu, hadir pula Ketua Harian Persebaya, H Susanto dan Ketua Yayasan Suporter Surabaya (YSS), Wastomi Suheri.

Sebagai simbol pengunduran diri itu, Persebaya Surabaya yang juga juara bertahan Liga Indonesia X-2004, bahkan langsung menitipkan Piala Presiden yang menjadi lambang supremasi kompetisi Divisi Utama PSSI kepada pimpinan Siwo (Seksi Wartawan Olahraga) PWI Jaya, Ferry Kodrat.

Ferry Kodrat yang semula diminta tolong untuk menyerahkan Piala Presiden tersebut kepada Gubernur DKI Jaya Sutiyoso, kemudian berinisiatif untuk membawa piala bergilir lambang supremasi kompetisi divisi utama itu kepada pimpinan PSSI. Namun, Pengurus Harian PSSI ternyata tidak bersedia menerima Piala Presiden tersebut, dan bahkan meminta agar piala itu diserahkan kembali kepada tim Persebaya.

Dalam keterangan resminya kepada para wartawan yang sengaja diundang khusus ke Hotel Maharaja, Saleh Mukaddar, H.Susanto, dan Wastomi mengatakan bahwa pengunduran diri Persebaya ini tak terlepas dari kedekatan dan kecintaan mereka pada suporter Persebaya yang populer disebut Bonek itu.

Dalam konteks itu, Saleh Mukaddar menguraikan kekhawatiran Walikota Surabaya Bambang DH akan adanya intervensi dari pihak di luar lingkungan sepakbola, yang menganggap kalau kehadiran Bonek di Jakarta sangat membahayakan dan karena itu seolah-olah harus "dibasmi". Pihak luar yang dimaksud adalah Front Betawi Rempug (FBR) dan ormas lainnya yang menganggap Bonek adalah musuh masyarakat Jakarta dan karenanya tak diperkenankan berada di Jakarta.

Ketua Harian Persebaya, H.Susanto secara khusus kemudian menunjukkan adanya pesan dari Walikota Surabaya Bambang DH melalui tiga kali pengiriman pesan layanan singkat atau SMS yang dikirim ke ponselnya, selepas tengah hari.

Isi pesan layan singkat (SMS) Walikota Surabaya Bambang DH itu selengkapnya adalah, yang pertama: "Lihat Metro TV. FBR (Front Betawi Rempug) akan turun hadapi Bonek dan suporter dari luar kota Jakarta. Hentikan saja Liga Djarum Indonesia. Semua tim pulang ke daerah masing-masing. Bukti PSSI tidak sanggup laksanakan kompetisi."

Sedangkan isi SMS kedua dari walikota, "Kita Hindari Jakata dari rusuh. Jakarta itu ibukota kita semua, lambang ikatan kita sebagai sebuah bangsa yang bernegara. Kita-kita ini orang yang teramat sayang kepada republik," Dan pesan terakhir, "Perintahkan pemain dan Bonek pulang."

Menurut keterangan Wastomi, kehadiran Bonek di Jakarta sejak awal memang sudah tidak dikehendaki sehingga terus dianiaya dan dizalimi. Dia mencatat, sampai sejauh ini ada 47 anggotanya yang cedera, tujuh di antaranya serius, sementara enam orang belum diketahui kabarnya.

Saleh Mukaddar dan Santo mengisyaratkan kecurigaannya kalau intervensi dari FBR dan ormas lainnya itu memang disengaja untuk membuat ciut nyali Bonek. Dan, mereka menegaskan kalau nyali Bonek sesungguhnya tidak ciut oleh adanya ancaman dari FBR dan semacamnya.

Saleh Mukaddar dan Bambang DH juga menegaskan bahwa pengunduran diri Persebaya menjelang pertandingannya melawan Persija bukan karena mereka takut atau gentar kepada Persija, namun karena kedekatan dan kecintaan mereka pada Bonek itu. (F-4)


Last modified: 21/9/05