SUARA PEMBARUAN DAILY

AS dan Rusia Tolak Tuntutan Korut

NEW YORK - Menlu AS Condoleezza Rice dan mitranya dari Rusia menolak pernyataan Korut bahwa Pyongyang akan mulai melucuti program senjata nuklirnya jika AS menyediakan reaktor air ringan guna membuat pembangkit listriknya.

"Kami akan tetap pada teks pernyataan Beijing dan saya meyakini bahwa kita akan membuat kemajuan jika setiap orang tetap pada apa yang sudah disepakatinya," kata Rice kepada wartawan, Selasa (20/9).

"Teks kesepakatan itu menyatakan bahwa kami akan kembali berdiskusi mengenai material reaktor air-ringan pada saat yang tepat. Ada beberapa pernyataan setelah itu, yang sangat jelas mengenai rangkaian pernyataan kesepakatan itu."

Rice mengatakan, sejumlah langkah yang harus ditepati itu termasuk : Korut melucuti semua senjata nuklirnya dan program nuklir yang sedang berlangsung, Korut kembali kepada traktat non-proliferasi (NPT), dan mematuhi rambu-rambu keselamatan yang ditentukan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

"Hanya dengan begitu, isu tentang reaktor air-ringan bisa didiskusikan," kata Rice.

Sementara itu, Menlu Rusia Sergei Lavrov, yang negaranya ikut dalam perundingan enam negara yang menyetujui kesepakatan tersebut, mengatakan bahwa teks tersebut sudah disepakati dengan hati-hati dan itu merupakan bagian yang sangat sulit dikompromikan, namun sudah jelas diajukan dengan sejumlah langkah yang konsisten yang harus diambil. Dengan begitu, kita dapat membicarakan kerja sama dalam pengembangan energi nuklir di Korea Utara."

"Hal terpenting untuk saat ini adalah melihat bahwa kesepakatan tersebut untuk diaplikasikan, dan ini melibatkan persetujuan dalam tataran kerangka kerja ke depan dan kami berharap, itu bisa dimulai secepatnya," katanya.

Rice bertemu dengan Menlu Cina li Zhaoxing, Selasa (20/9), di New York. Berdasarkan keterangan dari juru bicara Departemen Dalam Negeri AS Sean McCormack, "Dua belah pihak setuju bahwa penandatanganan kesepakatan yang dilakukan enam negara di Beijing adalah kesepakatan mengikat bagi negara-negara itu, termasuk pertanyaan mengenai reaktor air ringan." (cnn/W-12)


Last modified: 21/9/05